Ketik disini

Metropolis

Melihat Keindahan dengan Cara Lain

Bagikan

Ia tengah bermain dengan sahabatnya. Tetapi kemudian ada yang aneh dengan sekitarnya, suasana semakin gelap dan pekat. Apa yang terjadi?

***

SUASANA sunyi. Anak itu masih diam di bangku sekolahnya. Tetapi tangannya terlihat a�?berisika�� meraba, benjolan-benjolan di atas keratas. Sekali waktu ia menganggup. Entah apa yang difikirkannya. Tentang benjolan-benjolan kertas tanpa tulisan apalagi gambar itu.

a�?Hehe, nggak ada (gambar),a�? kata gadis yang bernama Hilwani Dewi, itu tersenyum kecil.

Penasaran Lombok Post coba menguji Dewi. Setelah membantunya, menemukan deretan kertas benjol yang dimaksud, hilwani mulai membaca :

a�?Ini adalah bentuk morfologi. Kami juga harus mengetahui beberapa contoh makhluk hidup yang melakukan adaptasi tersebut,a�? tuturnya.

Dewi membaca dengan sangat lancar. Padahal ia tak bisa melihat, bahkan untuk setitik cahayapun. Tetapi telunjuknya serupa jarum gramofon yang tengah membaca piringan hitam.

Sungguh, rasanya seperti melihat keajaiban. Sistem sensorik peraba di ujung telunjuknya menerjemakan dengan sangat cepat pesan-pesan yang tersimpan dari balik benjolan kertas itu.

Lalu mengirimnya ke sistem saraf otaknya dengan kecepatan luar biasa. Sehingga dengan mudah mulutnya mentranslate tulisan itu.

a�?Tapi yang susah itu Bahasa Inggris, soalnya antara tulisan dengan penyebutan beda,a�? ungkapnya.

Gadis tuna netra ini berasal dari Pejeruk, Kebon Bawak Barat, Ampenan. Saat masih duduk di Bangku SD Dewi mengaku masih bisa melihat samar-samar. Walau tak begitu jelas.

a�?Mulai gelap itu dan hilang sama sekali itu, saat SMP,a�? terangnya.

Saat itu ia tengah asyik bermain dengan rekan-rekannya. Awalnya, Dewi mengaku putus asa dan kecewa. Harapannya untuk sembuh benar-benar sirna. Ia juga tidak yakin masa depannya akan lebih baik.

a�?Iya sempat putus asa,a�? jawab ia.

Tetapi, harapan itu kembali terang saat ia akhirnya bisa bergabung di SLBA YPTN Mataram. Guru-gurunya banyak memberi motivasi, bahwa para penyandang gangguan fisik, masih punya harapan untuk jadi lebih baik.

a�?Sempat saya merasa itu cuma hiburan saja dari orang-orang di sekitar, tapi semakin ke sini semakin yakin,a�? ujarnya.

Dewi bercita-cita ingin jadi seorang guru. Ia ingin banyak bercerita pada para penyandang tuna netra lain yang terpukul dengan keadaanya, pada posisinya saat ini ia telah melihat harapan itu.

a�?Susah memang meyakinkan orang lain, saya pun pernah merasakan bagaimana rasanya terpuruk itu,a�? ungkapnya.

Tetapi bagi Dewi tidak ada salahnya mencoba. Menasehati mereka yang memilik jalan hidup yang sama dengannya.

a�?Semakin tidak berharap untuk bisa melihat, lalu semakin percaya pada dunia rasa, maka anda bisa melihat pemandangan yang jauh lebih indah di sini,a�? kata Dewi penuh makna.

Kata-kata Dewi ini sungguh menarik. Ia ingin mengajarkan pada setiap orang yang tidak bisa melihat, bahwa keinginan untuk normal seperti manusia lainnya, justru memasung membuat mereka semakin sulit untuk bisa melihat dengan cara lain.

Cara yang dimaksud yakni menggunakan perasaan. Dewi mengatakan, perasaan punya sudut pandang yang berbeda dengan mata. Walau sama-sama menghasilkan persepsi. Tetapi dengan perasaan, gambar yang muncul jauh lebih jujur dan apa adanya.

a�?Saya harus menghilangkan keinginan untuk bisa melihat dulu, baru bisa melihat dengan perasaan,a�? ujarnya dalam.

Melihat dengan perasaan bukan, tentang hitam, putih dan tujuh warna serta kombinasi lainnya. Tetapi melihat dengan perasaan itu persepsi yang lahir dari berbagai macam rasa. Ada cinta, kasih sayang, rindu, damai, marah, kesal.

a�?Mungkin kita lebih peka ya (untuk rasa),a�? terangnya.

Bahkan hanya dengan mengkombinasikan berbagai rasa itu, Dewi bisa merekam dengan sangat baik kondisi sekolah tempat ia belajar saat ini. Dia sempat membuktikan dengan kemampuannya menggunakan perasaan, saat berjalan biasa dan enteng, menuju kamar mandi.

a�?Saya sudah hafal,a�? jawabnya santai, sembari berjalan tenang, tanpa meraba sedikitpun.

Tetapi di depan, Dewi masih harus hadapi persoalan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru. Pada Koran ini, Dewi bercerita ingin masuk kelas Inklusi di SMA 6 Mataram, tetapi masih terbentur biaya.

a�?Bapak kerja jadi montir sedangkan ibu jual baju, mudah-mudahan biaya sekolah nanti bisa cukup,a�? ujarnya penuh harap.

Ia anak kedua dari empat bersaudara. Namun hanya dirinya yang mengalami gangguan di mata.A� Awalnya ia sempat tidak diizinkan untuk masuk asrama SLBA YPTN Mataram oleh orang tuanya. Dengan alasan, toh juga tidak akan berfaedah banyak dengan masa depannya.

a�?Tetapi saya terus minta, sampai akhirnya dikasih,a�? tuturnya.

Ia berharap, perhatian pemerintah ke depan lebih besar pada anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satunya agar bisa disiapkan perguruan tinggi yang lebih baik. Dengan kelengkapan fasilitas yang memadai.

a�?Saya ada beberapa prestasi, di antaranya juara lomba nyanyi di Surabaya, kalau puisi pernah mewakili NTB di tingkat Nasional di Medan,a�? tandasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka