Ketik disini

Headline Metropolis

Gemanya Menasional, Dukungannya Mana?

Bagikan

Budaya dan seni semisal tari, dituntut mengikuti branding baru NTB yakni wisata halal. Namun, bukan hanya itu tantangannya. Ada banyak persoalan yang membuat masa depan sanggar terancam suram!

***

BELASAN anak berwajah ceria. Mereka berbagi peran. Dari menabuh gamelan, hingga berlenggok di atas panggung. Wajah-wajah kagum, menatap dari arah depan panggung hingga lantai tiga Mall Cito, Surabaya.

A�Tidak banyak yang tahu, sanggar penyaji tarian berkelas itu, menyimpan banyak kisah menguras emosi dan pengorbanan.

Sanggar itu esksis, tak banyak campur tangan pemerintah. Kalau-kalau bukan karena hobi dan kecintaan pada seni, barangkali tarian seindah itu, tidak akan pernah membuat orang harus bertepuk tangan kecang, kagum luar biasa.

a�?Kami banyak pengorbanannya,a�? kata pemilik Sanggar Budaya Nusantara Wayan Balek, saat tampil di Cito Mall Surabaya, beberapa waktu lalu.

Kalau bukan juga karena sumpah janji menjadi PNS yang sangat dalam maknanya bagi Wayan, mungkin karya-karya yang mampu menggentarkan panggung nasional tidak akan pernah ia kreasikan. Tetapi di usianya yang 50 tahun, pria asal Bali yang kini menetap di Gebang Baru, Kota Mataram itu, justru memperlihatkan bagaimana pengabdian yang sesungguhnya.

a�?Saya sempat diprotes, oleh teman-teman di Bali kenapa harus mengalahkan tempat kelahirannya,a�? kenangnya.

Tetapi Wayan tegas mengatakan, inilah makna pengabdian yang ada. Akan tetapi, nama harum Kota Mataram pada khususnya dan NTB pada umumnya yang berhasil ia ukir dengan menjadi yang terbaik di tingkat nasional dalam berbagai festival, tidak banyak memberi faedah bagi a�?kesejahteraana�� sanggarnya.

Wayan, tetap harus menguras kocek sangat dalam, hanya untuk memastikan pentas seni yang ia kreasikan, bisa tampil dengan sangat baik. a�?Sanggar ini mulai saya bentuk sekitar tahun 2005,a�? tuturnya.

Jiwa seni yang mengalir dalam darahnya, membuat Wayan ingin menyumbangkan, kemampuannya untuk daerah ini. Walau ia banyak mengetahui seperti apa tari Bali, tetapi Wayan memilih untuk mengembangkan tari Sasak, Sumbawa dan Bima.

a�?Anak-anak di sanggar saya, kebanyakan orang Bali, tetapi saya pilih kembangkan tari lokal asli daerah ini,a�? Tegasnya.

Banyak prestasi yang berhasil di torehkan Wayan dan sanggarnya. Dari tingkat daerah, provinsi dan nasional. a�?Saya pernah sedih, karena pada peringatan 100 tahun hari kebangkitan Nasional NTB tidak ada membawa perewakilan tampil di pentas seni,a�? tuturnya.

Sejak itulah, Wayan mengaku bertekad NTB harus mampu berkerasi dan bersuara di tingkat nasional. Sejak itu, sanggarnya selalu keluar sebagai penyaji terbaik dalam sejumlah kejuaraan di tingkat nasional.

a�?Seperti garapan saya Barong Girang itu masuk terbaik di tingkat nasional,a�? ujarnya bangga.

Keberhasilan, Wayan tidak terlepas dari all out-nya dia membuat sebuah karya seni. Ia mencontohkan seperti tarian Barong Girang, tidak hanya sekedar koreografi saja. Tetapi, ia sampai harus melakukan riset di Bagiragi, Bagu, Pringgerata, Lombok Tengah.

a�?Saya telusuri, apa yang benar-benar mau punah dan harus dilestarikan,a�? terangnya.

Tak ada sokongan dana dari pemerintah. Semua murni keluar dari kantongnya sendiri. Begitu juga saat ia akhirnya berhasil menciptakan tarian yang mampu menggmparkan panggung pentas seni remaja pada tahun 2015 lalu. Di mana, sanggarnya berhasil keluar menjadi 5 yang terbaik.

a�?Bahkan di sana Bali juga nggak keluar, tetapi kami yang terpilih,a�? terangnya bangga.

Tidak ada yang di dapat Wayan selain kepuasan batin. Sebab kalau dari segi anggaran, justru ia tekor. Semua properti untuk tampil, dibuat dan bahannya di beli langsung dari kantong pribadi.

a�?Begitu juga saat saya melakukan riset dan ritual, saat untuk membuat karya Bianglala Bumi Gora,a�? terang pria yang saat ini fungsional Pamong Budaya Musik di Taman Budaya NTB.

a�?Dari tari ini saya ingin memberi pesan, betapa NTB ini sangat indah, di tengah banyaknya warna suku, budaya dan agama di Lombok,a�? cerita dia.

Tetapi kini, tantangan bertambah. Tidak hanya karena sanggar hanya bermodal dengkul untuk mempertahankan eksistensi budaya tari di NTB, keharusan untuk membuat karya tari yang elegan dan tidak seronok juga jadi tantangan.

a�?Iya kami sadar ini tantangannya. Beberapa kali pak kadis ditegur pak Gubernur, mulai dari karena tariannya tidak maksimal dan pakaian transparan, karena ini dinilai bertentangan dengan halal turism di Lombok,a�? tuturnya.

Tetapi, bagi Wayan, ini juga bukan masalah. Ia mengaku siap mengkreasiakan berbagai tari lain yang lebih menjiwai semangat halal turism di Lombok. Misalnya, dengan mengangkat seni tari Lombok yang lebih santun tetapi tetap artistik.

a�?Tetapi ada satu persoalan yang tak bisa kami maafkan, kerap kali ada sanggar mengikuti karya kami, tetapi memainkannya tidak dengan maksimal,a�? ungkapnya.

Wayan mengaku sebenarnya tidak berencana menghakpatenkan semua karyanya. Pertama karena, prosesnya yang rumit dan ribet. Kedua, karena ia sebenarnya bangga, karyanya diikuti oleh sanggar lain. Tetapi, yang jadi persoalan acap kali, sanggar lain memainkan tidak seperti yang ia inginkan.

a�?Nama baik saya, sebagai pembuat tari itu ikut rusak. Tari yang harusnya bagus, justru jadi terlihat buruk,a�? cetusnya.

Disinilah sebenarnya ia berharap pemerintah idealnya andil dalam melakukan pengawasan terhadap sanggar. Menekankan agar sanggar mematuhi kode etik dalam mencopy karya orang lain. Tetapi untuk kesekian kalinya, Wayan mengaku harus kecewa.

Karena, sepertinya keinginan itu sulit terwujud. Di tengah, tidak jelas perhatian pemerintah pada seni kebudayaan. a�?Ya sudah banyak berkorban (dari segi dana), tantangan besar untuk bisa menghadirkan tari yang religius, juga karya kita yang seenaknya dimainkan dengan cara buruk,a�? cetusnya.

Soal manfaat pokok pikiran (pokir) dewan masih diyakini ampuh menyerap aspirasi masyarakat yang tidak berhasil lolos melalui MPBM, tetapi memiliki potensi besar bagi pengembangan daerah.

Perhatian pada kesenian daerah, tidak hanya dirasakan oleh para pelaku seni. DPRD Kota Mataram juga merasakan, adanya ruang perhatian yang kosong untuk pembinaan kesenian di Kota Mataram.

Ketua Komisi I DPRD Kota Mataram I Gede Sugiarta, mencontohkan bagaimana ia harus memperjuangkan kesenian tari di NTB melalui pokir. Inilah cara agar bisa menyelamatkan seni tari dan budaya di Mataram.

a�?Saya mendorong Himpunan Seni Muda Tari dan Tabuh, dianggarkan Rp 100 juta,a�? ungkap Sugiartha.

Sebelumnya, Dinas Pariwisata Kota Mataram dituding minim perhatian pada himpunan ini. Sehingga gema kegiatan sanggar satupun yang berasal dari Kota Mataram, tidak pernah bisa sampai terdengar hingga ke luar daerah.

a�?Saya dorong mereka, agar bisa PKB (Pengembangan Keprofesian Berlanjut), ke Bali agar bisa semakin berkembang,a�? harapanya.

Sayangnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Abdul Latif Nadjib, belum bisa dikonfirmasi terkait hal ini. sampai laporan ini di turunkan, panggilan ke nomor pribadi Latif, tak ada respon. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka