Ketik disini

Metropolis

Periksa Dulu Berasnya sebelum Disalurkan!

Bagikan

MATARAMA�– Untuk memperbaiki kualitas beras sejahtera (rastra) yang buruk, Perum Bulog pusat meminta kepada Bulog di daerah memeriksa kualitas beras sebelum didistribusikan ke masyarakat. Langkah itu sangat penting dilakukan agar rastra yang dibagikan ke warga dalam kondisi baik.

Kepala Divisi Penyaluran Perum Bulog RI Basirun mengatakan, dari sisi bisnis ia mengklaim Bulog sudah melakukan perubahan signifikan. Seperti pengadaan di dalam negeri, pembelian beras petani harus dalam kemasan 50 kg. Tujuannya agar saat didistribusikan ke rumah tangga sasaran, beras itu akan dikemas ulang dalam ukuran 15 kg.

Di sanalah kesempatan untuk menyortir beras-beras yang rusak tersebut. Beras yang tadinya ditumpuk dibongkar lagi untuk kemas ulang. Saat dibongkar itulah akan dilihat secara keseluruhan. Untuk memastikan yang akan didistribusikan benar-benar kulitasnya baik. a�?Untuk (beras) yang tidak baik pasti akan kita singkirkan,a�?ujarnya.

Dengan cara itu, maka beras-beras dengan kualitas buruk akan bisa dikurangi. Karena petugas juga yakin beras yang dibagikan bagus. Pola ini adalah SOP yang berlaku dari pusat ke daerah. Kalau dulu pembelian dilakukan dalam ukuran 15 kg kemudian disimpan langsung ke gudang, baru dikeluarkan ketika akan didistribusikan. Sehingga saat itu petugas tidak tahun seperti apa kondisi berasnya. Tapi dengan pola pengemasan ulang ia yakin akan lebih baik. a�?Sehingga 2017 semua pengadaan beras dalam karung 50 kg, ketika mau dikirim dan disalurkan dikemas ulang menjadi ukuran 15 kg,a�? ujarnya.

Basirun mengatakan, terkait kualitas, beras yang disalurkan memang merupakan beras medium. Sehingga tidak bisa disamakan dengan beras yang ada di pasaran. Ia juga menekankan, tugas Bulog tidak hanya di penyaluran, apalagi di NTB merupakan salah satu pusat produksi. Ada tugas kepada Bulog untuk melakukan penyerapan beras dari petani sebanyak-banyaknya. Sehingga pasti akan ada stok beras untuk wilayah NTB dan daerah lainnya.

Beras yang dibeli pada saat musim panen tidak langsung dibagikan, tapi beras harus disimpan di gudang Bulog. Sehingga beras yang dibagikan bukan beras yang baru masuk, bukan beras yang fresh.A� a�?Beras yang sudah disimpan dalam waktu enam bulan misalnya, baunya sudah tidak harum lagi,a�? katanya.

Basirun menambahkan, secara nasional untuk stok beras publik service obligation (PSO) yakni beras untuk Rastra dan beras bantuan bencana alam jumlahnya masih sangat besar yakni 2,1 juta ton, dengan penyaluran 230 ribu ton per bulan. Maka dengan kondisi ini kebutuhan beras untuk delapan bulan ke depan sudah aman.

a�?Itu tersebar di seluruh wilayah Indonesia,a�? katanya.

Dengan demikian, jelang lebaran tidak ada kekhawatiran masalah beras, malah saat ini Bulog meminta kepada Bulog daerah agar segera mengeluarkan rastra. Sebab momen puasa adalah waktu yang sangat tepat untuk membagikannya. Tujuannya agar tidak terjadi gejolak harga pangan.

Berdasarkan data Perum Bulog, realisasi Rastra baru 51,47 persen atau 548.604.379 kg. Jumlah ini dari pagu bulan Januari-Mei sebesar 1.065.955. 650 kg. Pagu selama tahun 2017 sebanyak 2.558.293.560 kg, untuk 14.212.742 keluarga penerima manfaat. Sementara realisasi Rastra di NTB termasuk menengah di urutan ke-19 dari 34 provinsi. Yakni dengan realisasi Rastra 52,17 persen dari pagu selama tahun 2017 sebesar 80.526.420 kg.

a�?Harus segera karena itu dibutuhkan masyarakat,a�? imbuh Basirun saat menghadiri acara sosialisasi regional kebijakan program subsidi rastra dan BPNT wilayah Indonesi Timur di Mataram, kemarin (22/5).

Dengan percepatan penyaluran, diharapkan kebutuhan beras selama Ramadan bisa cukup membantu. Selain itu untuk menekan gejolak harga jelang Lebaran nanti. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka