Ketik disini

Feature Metropolis

Kisah Muhammad Nuresim Mubalig asal Lombok: Tiap Hari Ngajar Ngaji TKI di Enam Negara

Bagikan

Muhammad Nuresim, adalah guru ngaji yang tak biasa. Dia punya murid yang tinggal di enam negara. Di satu negara, jumlahnya bahkan bisa sampai 350 orang. Dan mereka diajar Nursim tiap hari dari kampungnya di Dusun Rangkep Dua, Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah. Kok bisa?

DEDI SHOPAN SHOPIANa��Lombok Tengah

BAGI para muridnya, Nurseim adalah penyejuk. Kepada Nurseim-lah para murid-murid itu selalu menoleh. Mereka bertanya. Mereka meminta pendapat. Mereka juga minta nasehat. Selain tentu saja, minta bacaan ayat sucinya Alquran-nya disimak dan dikoreksi.

Soalnya, murid-murid Nurseim adalah murid yang tak biasa. Mereka adalah para buruh migran, yang sedang merantau mencari penghidupan di negeri orang. Bukan cuma buat diri mereka. Tapi buat keluarga, buat para buah hati yang ditinggal di negeri tercinta.

Tak semua murid Nursim dari NTB. Ada banyak di antara mereka yang justru bukan dari Bumi Gora. Melainkan dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Dan persentuhan mereka dengan Nursim telah berlangsung lama. Tak cuma sekarang-sekarang.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pada Maret lalu, Nurseim baru pulang dari Hong Kong. Di Negeri kaya itu, dia diundang kopi darat oleh murid-muridnya. Mereka pula yang urunan membayar segala biaya kedatangan Sang Guru ke bekas Koloni Inggris itu.

a�?Di Hong Kong, saya ada murid 350 orang. Seluruhnya adalah para buruh migran dari Indonesia yang bekerja di sana,a�? kata Nursim.

Saat ini, data terakhir menyebutkan, sedikitnya 160 ribu buruh migran Indonesia bekerja di Hong Kong. Sementara dari NTB, jumlahnya diperkirakan tak lebih dari 1.000 orang. Sebanyak 70 persen di antaranya berasal dari Pulau Sumbawa.

Selain di Hong Kong, Nurseim punya murid di Singapura, Taiwan, Tiongkok, Malaysia dan Korea Selatan. a�?Tiap hari kami mengaji bersama,a�? kata Nursim.

Bagaimana caranya? a�?Kami memanfaatkan kecanggihan teknologi,a�? kata Nurseim.

Pria kelahiran 21 Agustus 1975 ini mengatakan, dirinya memiliki group percakapan WhatsApp yang menjadi wadah tempat belajar para muridnya.

Melalui group itulah, muridnya belajar. Mulai dari mengajari mereka mengaji Alquran, mendalami kitab kuning, Hadist, tata cara wudu, salat, berpuasa dan ajaran Islam lainnya.

Ia membuat enam group WA. Macam orang sekolah, secara bergiliran murid-murid itu mendapat jadwal belajar. Dimulai usai Salat Subuh, hingga magrib. Disesuaikan dengan kesibukan par aburuh migran itu di luar negeri. Begitu pula sebaliknya.

Saat ke Hong Kong 16-20 Maret lalu, Nurseim khusus datang untuk menghadiri prosesi khataman Alquran dari para muridnya itu.

Kepada Lombok Post, Nurseim menceritakan persentuhannya dengan para buruh migran itu bukanlah suatu hal yang disengaja. Semua bermula dari kegiatannya berselancar di dunia maya. Melalui laman media sosial, Nurseim kerap memposting ajaran-ajaran Islam. Kemudian mereka yang berteman kemudian memberi respon. Yang kemudian berlanjut dengan diskusi.

Mungkin karena penyampaian Nurseim yang mudah dimengerti, menjadikan para teman-temannya di media sosial enak bertanya. Enak meminta nasihat. Dan satu teman buruh migran di Hong Kong, kemudian membiak menjadi ribuan yang kini tersebar di enam negara.

a�?Itu karena cerita dari mulut-kemulut, berkat WA,a�? ujarnya ustad Nuresim sembari tersenyum.

Dalam waktu dekat bahkan, Nuresim kembali diundang untuk mengkhatam Alquran murid-muridnya di Singapura, Taiwan, Tiongkok. Menyusul Malaysia dan Korsel.

a�?Saya dan para murid sepakat, menggunakan konsep one day one ayat,a�? ujarnya menggambarkan metode belajar Alquran yang dilakukannya.

Begitu khatam, ia dan para murid sepakat akan menggelar prosesi wisuda atau tasyakuran. Kini, jumlah muridnya mencapai ribuan orang. a�?Dari sinilah, Alhamdulillah saya mendapatkan tambahan keuangan,a�? kata Nurseim.

Dan keuangan yang didapatnya bukan untuk diri pribadinya. Melainkan untuk membiayai operasional Pondok Pesantren yang didirikannya di kampung halamannya. Ponpes itu merupakan sekolah gratis bagi anak-anak yatim.

Nurseim saat ini secara resmi telah mendirikan Majelisku Majelis Tahsiinul Quroa��ah (MMTQ). Sebuah lembaga yang bermula dari sebuah taman pendidikan Alquran (TPA) yang didirikan Nurseim pada September 2010 silam.

Merampungkan pendidikan di Pondok Pesantren Sukorejo, Sutibondo, Jawa Timur, Nurseim muda sempat pada 1995-1997 mengabdikan diri sebagai tenaga guru di Ponpes Darultanwir Desa Puyung. Lalu, tahun 1998-1999 krisis ekonomi mendera, ia pun mengaku sempat hidup terkatung-katung, hingga terpaksa bekerja sebagai tenaga multi level marketing (MLM), jenis obat-obatan.

Sudah tidak terhitung, berapa kabupaten/kota di Indonesia di jelajahinya. Pria yang menikah pada 19 September 1998 tersebut, bekerja tekun, demi menyambung hidup bersama istri tercinta. Sembari menjual obat, ia menyempatkan waktu untuk berdakwah. Terkadang, ia harus mengisi ceramah agama di beberapa perkampungan warga, termasuk sebagai guru ngaji.

Seiring perkembangan waktu, kehidupannya pun berubah. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Hamzanwadi Nahdlatul Wathan (NW) Pancor, Lombok Timur pada tahun 2000-2006.

Begitu mendapatkan gelar sarjana, ia pun kembali mengabdi kepada masyarakat, guna menjadi guru ngaji. Setiap jumat, ia pun ditunjuk sebagai khatib.

Ia mengaku, isi ceramah di setiap jumat atau dakwah pada umumnya relatif sederhana dan mudah dicerna. Salah satunya, bagaimana umat manusia menjaga hubungan baik antara manusia, tidak membedakan pangkat, golongan, kaya dan miskin. Karena, itu semua milik Sang Maha Pencipta, sewaktu-waktu dicabut kembali.

Di tengah-tengah kesibukannya itu, ia pun prihatin melihat anak-anak yatim, piatu dan miskin di sekitar rumahnya. Mereka rata-rata tidak bersekolah, karena terbentur keuangan. Atas dasar itulah, ia pun memutuskan mendirikan TPA Bahrul Ulum. Ia mengajari anak-anak itu mengaji, mendalami ilmu agama dan ilmu pengetahuan.

Bapak empat orang anak ini pun, tidak menarik biaya alias gratis. Berawal dari 10 orang murid, hingga 35 orang dan terus bertambah setiap minggu, bahkan bulannya. a�?Saat itulah, saya mulai berfikir nekat, untuk mendirikan madrasah ibtidaiyah,a�? ujar ustad Nuresim.

Bermodalkan uang Rp 250 ribu kala itu, ia membeli semen, tidak pernah terpikirkan bata, batu dan bahan bangunan lainnya dibeli dari mana, maklum saja ia tidak memiliki penghasilan tetap. Kecuali, dari keikhlasan warga. Kendati demikian, ia memiliki tekat untuk mencicil setiap minggunya.

Tidak disangka-sangka dan tidak pernah terpikirkan, bahan-bahan bangunan sekolahnya berdatangan. Sejumlah warga di tempat tinggalnya, hingga di luar sana datang membawa kebutuhan bangunan. Padahal, ia tidak pernah meminta. a�?Kalau sudah Allah SWT ikut turun tangan membantu, maka semua bisa saja terjadi,a�? ujarnya sembari menundukkan kepala.

Pada tahun 2011, ia mendirikan ponpes bernama Bahrul Ulum. Lalu, bangunan sekolah sederhananya itu, rampung pada tahun 2003. Kala itu, pada tahun ajaran baru, jumlah siswa yang mendaftar sebanyak 35 orang. Lagi-lagi, mereka adalah anak yatim, piatu dan miskin. a�?Sehingga, saya memutuskan untuk menggratiskan mereka sekolah, tidak ada biaya sedikit pun,a�? kata ustad Nuresim.

Lalu, keuangan sekolah, kebutuhan hidup keluarga dan lain-lain dari mana? Nuresim dengan santai menjawab, jangan pernah berpikir rezekimu akan diambil orang lain. Rezeki sudah diatur Sang Maha Pencipta, tidak akan tertutar, jika itu benar-benar rezekimu. Yakinlah, bahwa Allah SWT Maha Besar, Maha Mengetahui dan Maha Pemberi rizki. a�?Pasti ada saja jalan,a�? cetusnya.

Seiring perkembangan waktu, sekolah yang didirikannya itu pun dilirik para pejabat pusat, hingga para anggota DPR dan DPD RI. Termasuk dunia usaha. Berbekal donasi itulah, Nurseim kembali mendirikan SMP Bahrul Ulum. Karena gratis, jumlah siswanya pun membeludak.

Ia pun merekrut guru, kini jumlahnya sebanyak 28 orang. a�?Alhamdulillah, sekolah kami mendapatkan dana BOS dan bantuan operasional lainnya. Dari situ, saya gaji para guru, walau pun tidak seberapa,a�? ujar ustad Nuresim.

Bagi Nurseim, apa yang didapatnya kini, sepenuhnya diyakini karena kekuatan Alquran. Kata dia, bagi siapa pun yang mencintai Alquran, maka akan diturunkan segala kemudahan oleh Allah SWT. a�?Yakinlah,a�? katanya. (*/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka