Ketik disini

Headline Metropolis

Mataram Makin Seksi, Investor Tanamkan Modal Rp 15,3 Triliun

Bagikan

Investasi di Kota Mataram saat ini masih tertahan. Salah satu penyebabnya, belum disahkannya revisi perda RTRW oleh pemerintah pusat. Namun, hanya dengan perda lama saja, sejak tahun 2014 a�� 2017, duit pemodal yang tertanam di kota, mencapai Rp 15,3 triliun!

***

MATARAMA�makin “bohay”. Mungkin diksi ini cukup tepat mengambarkan betapa Kota Mataram, telah berhasil memikat para pemodal-pemodal besar (baca : investor) menanamkan modal di daerah bermoto Maju, Religius dan Berbudaya ini.

Dari catatan Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram, terhitung sejak tahun 2014, duit yang diguyur para ivestor, mencapai Rp 15,3 triliun. Angka yang tidak sedikit.

a�?Angka ini selama saya di sini (menjadi Kepala DPMPTSP), belum lagi di tambah tahun sebelumnya,a�? kata Kepala DPMPTSP Kota Mataram Cokorda Mudira Muliarsa.

Pria yang akrab disapa Cok ini, memang berupaya mendigitalisasi investasi di Kota Mataram, sejak ia menahkodai dinas yang sebelumnya bernama Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) itu.

a�?Saya juga menghitung jumlah perkiraan tenaga kerja yang bisa diserap,a�? terangnya.

Jika melihat grafis, tren yang terlihat cendrung turun. Lonjakan investasi terbesar ada pada tahun 2015. Dengan angka uang yang masuk ke kota mencapai Rp 8,029 triliun. Penurunan angka investasi di tahun berikutnya, yakni 2015 dan 2016 tidak lepas dari sempitnya lahan investasi di kota.

Karena itulah, belum lama ini Pemerintah Kota Mataram telah menyelesaikan revisi perda RTRW. Demi membuka kran investasi kembali masuk ke daerah. Penyesuaian dilakukan di berbagai lini. Di antaranya penetapan kawasan yang alih fungsi lahan diperbolehkan, penetapan kawasan wisata, sampai adanya ruang 10 persen di setiap zona, untuk dijadikan kawasan pendukung.

a�?Kalau ini sudah disetujui, tentu investasi bisa masuk lagi,a�? terangnya.

Pada akhir tahun 2016 lalu, Kota Mataram mencatatkan ivestasi yang masuk mencapai Rp 15.079 triliun jika dihitung dari tahun 2014. Dengan jumlah jenis perusahaan baik itu PT, CV dan UD mencapai 2428 unit. Dan perkiraan serapan tenaga kerja mencapai 28.002 karyawan.

Sedangkan di tahun 2017 angka investasi yang masuk turun. a�?Tapi, bukan karena minat investasi berkurang, tetapi akibat belum disahkannya perda RTRW yang baru,a�? jelas Cok.

Dengan kata lain, jika mengacu pada aturan lama, sisa lahan yang masih ada bisa menyerap investasi sebesar Rp 263,321 miliar. Atas dasar itulah, pemerintah daerah kemarin merasa perluA� melakukan revisi rencana pembangunan dalam perda RTRW yang mencakup pembangunan kota dari tahun 2011-2031.

a�?Minat usaha di kota masih di dominasi pengadaan barang dan jasa,a�? terangnya.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Sampai tahun 2017 bulan April, tercatat investasi di bidang pengadaan barang dan jasa, mencapai 2.034 unit. Baru selanjutnya di bawah itu, ada usaha jasa seperti travel, telekomunikasi, Ticketing, Finance dan Pariwisata. Sampai saat ini sudah ada 290 perusahaan bergerak di bidang jasa.

Sementara konstruksi atau real estate, menempati urutan ke tiga, dengan 204 perusahaan. Di urutan ke empat, ada usaha rumah makan atau warung dan cafe, sebanyak 80 usaha. Hotel menempati urutan ke 5 dengan 61 usaha. Di paling bawah yakni rumah sakit/klinik dengan 35 usaha.

a�?Perkiraan jumlah serapan tenaga kerja, sampai tahun ini mencapai 30.479 karyawan,a�? ujarnya.

Cok yakin, jika revisi Perda RTRW disahkan menjadi produk hukum, maka angka pengangguran di kota akan semakin berkurang. Seiring kebutuhan tenaga kerja perusahaan-perusahaan yang akan dibangun di kota.

Belum disahkannya Perda RTRWA� membuat banyak investor, belum bisa berinvestasi di Kota Mataram. Diceritakan Cok, sebelumnya sudah ada 10 pengembang yang tidak bisa melanjutkan rencana investasi. Karena mereka berencana berinvestasi di atas lahan yang belum bisa dilakukan alih fungsi.

a�?Harus tunggu dulu sampai aturan membolehkan,a�? tegasnya.

Sebelum disahkannya dokumen revisi perda RTRW di Kementerian Dalam Negeri, Cok mengaku belum berani memberikan lampu hijau. Karenanya, setiap rencana investasi yang mau masuk ke kota, selalu yang dijadikan acuan adalah perda RTRW sebelum revisi.

a�?Karena itu yang masih berlaku sampai saat ini,a�? tegasnya.

Walau demikian, aturan lama tak kalah menariknya bagi investor untuk menanamkan usaha. Walau aturan baru RTRW belum disahkan, Cok mengaku tetap saja ada investor kakap yang tertarik menamakan modal di kota ini.

Jika dipersonifikasi seperti wanita, Kota Mataram sudah nampak bohay. Mampu memikat para pemilik modal berkantong tebal untuk menanamkan modal dan berbisnis. Maka entah berapa triliun lagi yang akan mengguyur kota, jika revisi perda RTRW sudah selesai disahkan sebagai produk hukum yang legal.

Kelanjutan Revisi Belum Jelas

Kepala Bagian Hukum Setda Kota Mataram Mansur mengatakan sampai saat ini, proses revisi perda RTRW, belum ada kejelasan. Pihaknya masih memantau evaluasi di Pemerintah Provinsi NTB yang saat ini terus berjalan.

Tetapi karena kewenangan evaluasi sepenuhnya jadi tanggung jawab provinsi, maka pemerintah kota tidak bisa mengintervensi lebih jauh. a�?Belum, kita masih menunggu,a�? kata Mansur.

Sebelumnya Mansur menjelaskan, idealnya sesuai dengan aturan yang ada, proses evaluasi dan persetujuan substantif, harusnya cukup 14 hari. Nyatanya sampai batas waktu seharusnya evaluasi dan dan persetujuan substantif tak kunjung tuntas.

Mansur memperkirakan, ini tidak lepas dari minimnya sumber daya yang menangani proses evaluasi dan persetujuan substansif dari draf perda yang telah dituntaskan kabupaten/kota.

a�?Iya mungkin karena persoalan sumber daya manusia,a�? duganya.

Hanya ia sempat khawatir, jika revisi perda RTRW ini, mengendap seperti Perda Menara Telekomunikasi. Diketahui revisi perda ini diajukan sejak tahun lalu.

Jika melihat waktu yang ada, target dari Kepala Bappeda Kota Mataram Amiruddin yang ingin menuntaskan revisi sampai benar-benar siap jadi produk hukum juga meleset. Beberapa waktu lalu, ia sempat optimis bisa tuntas Mei ini.

a�?Kita upayakan agar Mei sudah selesai,a�? ujarnya.

A�Investasi Jamin Penyerapan Tenaga Kerja

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram Syaiful Mukmin menyebut, angka pengangguran terdidik di Kota Mataram mencapai 9.366 orang. Beberapa cara dilakukan Dinas Tenaga Kerja untuk terus merampingkan angka pengangguran di kota. Salah satunya dengan mengadakan job fair.

a�?Tetapi angka pengangguran masih lebih banyak dibanding peluang kerja,a�? kata Saiful.

Minimnya lapangan kerja ini, telah mendorong banyak tenaga kerja terdidik akhirnya memilih jadi TKI. Sempitnya lapangan pekerjaan ditambah persaingan ketat berebut peluang kerja, telah membuat banyak tenaga kerja terdidik akhirnya memilih ke luar negeri.

a�?Salah satunya saya rasa itu (karena minimnya lapangan kerja), di sisi lain kesejahteraan jadi TKI juga tinggi, jadi ini yang mendorong mereka akhirnya memilih ke luar negeri,a�? terangnya.

Ia mencatat di tahun 2016 sebanyak 367 warga kota, memilih jadi TKI. Memasuki tahun 2017, ia juga melihat setiap hari ada 3-5 pemohon rekomendasi kerja ke luar negeri masuk ke mejanya.

a�?Memang ada peningkatan minat ke luar negeri,a�? jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh diberbagai kesempatan mengatakan jika revisi perda RTRW jadi salah satu jalan untuk mengurangi angka pengangguran di Kota Mataram. Investasi diyakini berdampak pada peluang tenaga kerja daerah, lebih banyak terserap.

a�?Semakin banyak investasi yang masuk, semakin banyak juga tenaga kerja daerah yang terserap, sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat,a�? ujarnya.

Apalagi minat dan ketertarikan para pemilik modal menanamkan modal di Kota Mataram, semakin tinggi. Ini tidak lepas dari potensi Kota Mataram, sebagai kawasan wisata, perdagangan dan jasa, juga kondusifitas daerah. Sehingga membuat para pemilik modal merasa nyaman menanamkan usahanya di daerah ini.

a�?Kondusifitas daerah jadi kunci investasi di kota, semakin baik di daerah ini,a�? tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka