Ketik disini

Feature Tokoh

Jalan Dakwah Ustadah Wahidah : Muridnya Boleh Lulus Kalau Sudah Hafal Alquran

Bagikan

Beragam jalan dipilih orang untuk berdakwah menyampaikan kalam-kalam Ilahi. Wahidah, memilih jalan hidup dengan berdakwah melalui jalur pendidikan. Bukan lulusan fakultas tadris dan keguruan pun tak jadi soal. Sekolah Islam Terpadu yang dirintisnya, kini jadi idaman para orang tua.

A�

FERIAL AYU, Mataram

A�

SENYUMNYA sungguh hangat. Tutur katanya terdengar lembut nan halus. Dia Wahidah. Murid-muridnya memanggilnya Bu Guru. Teman-teman sejawatnya menyapanya Bu Kepala. Kepada Lombok Post dia mengaku lebih senang dipanggil dengan namanya saja.

Wahidah memang kepala sekolah. Bukan pada sekolah milik negara. Melainkan sekolah yang dirintis bersama rekan-rekannya, yakni Sekolah Dasar Islam Terpadu Kota Mataram. Khalayak mengenal sekolah ini sebagai SD IT.

a�?Banyak juga yang tanya, kok SE sih? Tapi yah memang begitu adanya,a�? ujarnya sambil tersenyum pada Lombok Post soal latar belakang pendidikannya.

Wahidah memang bukan lulusan fakultas keguruan, atau juga jurusan tadris di perguruan tinggi agama. Perempuan kelahiran 13 Juli 1975 ini adalah lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Mataram.

Lalu kalau kini Wahidah mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan, tentu saja bukan karena keterpaksaan. Itu murni adalah pilihannya. Mendidik, adalah ladang yang dipilihnya untuk beribadah.

Kepada Lombok Post, istri anggota DPRD NTB ini berkisah awal mula dirinya merintis SD IT di Kota Mataram. Wahidah memang senang dengan anak-anak. Sewaktu masih jadi mahasiswa saja, kemana-mana dia kerap menenteng keponakannya yang kanak-kanak.

Sampai kemudian persentuhannya dengan sebuah yayasan terjadi. Tak hanya ia sendiri, beberapa rekan kuliahnya pun juga turut dipanggil yayasan tersebut. a�?Kebetulan teman-teman juga suka anak-anak,a�? sambungnya.

Setelah wisuda pada 1998, ia pun diberi amanah oleh yayasan tersebut untuk merintis pendirian sekolah. Awalnya ibu lima anak tersebut terkejut akan hal itu. Begitu juga dengan rekan-rekannya yang lain. Ini karena mereka semua tak memiliki basis pengetahuan soal pendidikan dan keguruan secara formal. Ada yang bahkan lulusan fakultas peternakan dan fakultas pertanian.

Tapi siapa yang kuasa menolak panggilan hati? Meski judulnya mau mikir panjang, tawaran merintis sebuah sekolah, disertai angan-angan bisa mendidik anak-anak, telah membuat darah Wahidah mendesir-desir. Dia menerima tantangan itu. a�?Waktu itu tahun 2000,a�? kenangnya.

Bismillah. Tawaran itu dijalankan. Mulanya berdiri Taman Kanak-kanak (TK) yang diberi nama TK Islam Terpadu (TK IT) Anak Soleh. TK ini berlokasi awal di Jalan Majapahit, tepat dekat warung Lamongan di depan Taman Budaya. Waktu itu dimulai dengan dua kelas dengan 30 siswa. a�?Ada kelas A dan B,a�? tuturnya.

Setahun kemudian, TK IT itu berpindah lokasi di Jalan Batu Rakit BTN Kekalik. Mereka mengontrak bangunan di sebuah lahan milik seorang guru. Hingga 2005, pihak yayasan pun akhirnya membeli lahan tersebut. TK IT tak mengontrak lahan lagi.

Seiring perkembangan sekolah, muncul pertanyaan dari pihak wali murid mengenai kelanjutan pendidikan anak mereka. Mereka ingin agar anak mereka memperoleh lagi pendidikan lanjutan. Terlebih lagi mereka merasa sang anak mendapatkan banyak manfaat dari TK IT. Mulai dari pengembangan karakter, penguatan akidah, dan hapalan Alquran.

Menjawab hal itu, pihak yayasan saat itu ingin membuatkan sekolah dasar dengan konsep yang sama. Namun sayangnya mereka terkendala oleh tim perintis yang belum ada. Namun hal ini tak berlangsung lama, pada 2006 akhirnya sebuah tim khusus terbentuk untuk perintisan SD IT.

Lahan dengan dua kelas akhirnya disulap dengan bangunan baru yang memiliki 4 kelas. Salah satu ruangan tersebut diambil untuk dijadikan sebagai kelas SD IT. Melihat perkembangan anak, tim pun akhirnya menyediakan tempat lain. Saat itu rumah salah satu tim dijadikan sebagai sekolah

Seiring perjalanan waktu, yayasan kembali membeli sebuah lahan di belakang SMKN 5 Mataram. Lahan tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong yang dikelilingi persawahan. Dikarenakan suasananya yang masih sepi, akhirnya dibuatlah konsep sekolah semi alam. Hal ini terlihat dari struktur bangunan yang tradisional. Berdinding bambu dan beratapkan alang-alang.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Di lahan tersebut akhirnya dibangunlah SD IT. Bangunan awal hanya satu lokal gedung dan kamar mandi. Siswa SD yang dulunya berada di TK IT pun akhirnya dipindahkan ke lahan ini. Namun hal ini menimbulkan sedikit gonjang ganjing di tengah wali murid. Perpindahan dari area semula yang ramai ke tempat yang sepi menimbulkan beberapa keresahan. Terutama soal bagaimana anak-anak di sekolah lantaran fasilitas yang terbatas.

Tapi, lama kelamaan, hal itu akhirnya berhasil dikikis. Seiring dengan perkembangan SD IT hingga seperti sekarang.

Konsep SD IT Anak Soleh pun sama dengan TK IT. Sekolah tersebut juga mengutamakan aspek keterpaduan. Hal ini dikarenakan keterpaduan semua aspek kata Wahidah menjadi titik tekan dalam pendidikan. Artinya, penyampaian pendidikan tidak bersifat dikotomi atau terpisah satu sama lain. Pada dasarnya ditanamkan bahwa semua ilmu berasal dari Allah SWT.

a�?Keduanya perlu dipelajari untuk dan tidak dikotak-kotakan menjadi agama sendiri dan dunia sendiri,a�? uungkapnya.

Namun, meski begitu dasar pengajaran tetap dari agama, Alquran, ibadah dan akidah. Hal ini yang menjadi alasan mengapa SD IT menggunakan dua kurikulum dalam penyampaian pendidikan. Yakni kurikulum pendidikan nasional dan juga kurikulum khas SD IT yang berbasis agama yang kuat.

Selain perpaduan dua kurikulum, sekolah juga memadukan kerja sama sekolah dengan rumah. Wahidah yakin bahwa keberhasilan pendidikan anak bukan dari sukses sekolah atau penerapan sistem pendidikan yang berhasil. Semua juga didukung oleh keberadaan orang tua di rumah.

a�?Ini sangat kita tekankan dan tidak boleh terputus,a�? katanya.

Di samping itu, keterpaduan dengan masyarakat dan pemerintah juga dinilai sangat penting. Sebab itu, semua murid juga terjun langsung berinteraksi dalam masyarakat dan pemerintah setempat. Seperti berkunjung ke sebuah institusi hingga ke pasar dan swalayan.

TK IT maupun SD IT Anak Soleh identik juga dengan hafalan Alquran. Ini menjadi salah satu target kelulusan masing-masing murid. Untuk hafalan ini, sekolah menerapkan dua kategori. Murid bisa baca Alquran dengan baik sesuai tajwid, mengerti istilah dalam Alquran itu, dan bisa menghapal minimal dua juz Alquran.

a�?Dulu satu juz sekarang dua juz. Bahkan alhamdulillah kelas dua dan tiga sudah bisa hingga 3 juz,a�? akunya.

Selain hapalan, sekolah juga melakukan pengontrolan terhadap ibadah salat murid. Khusus mulai kelas 4 pengontrolan lebih diperketat. Hal ini untuk persiapan menuju akil balig siswa tersebut di samping sebagai standar kelulusan.

a�?Kita harus tenang saat melepas mereka (lulus) tanpa melalaikan salat,a�? ujarnya lagi.

Wahidah juga menuturkan terkait kegiatan SD IT selama Ramadan. Setiap tahunnya sekolah mengadakan konsep Ramadan ceria. Seluruh murid dibuatkan berbagai kegiatan menarik yang membuat mereka merasa ceria meski sedang berpuasa. Selain itu juga untuk mendekatkan mereka dengan amaliah Ramadan. Seperti tadarusan bersama, Salat Dhuha bersama, lomba kaligrafi, lomba hapalan, hingga lomba pembuatan kartu ucapan dan surat terima kasih untuk orang tua.

Seluruh murid juga diajarkan untuk melakukan pengumpulan zakat fitrah. Mereka mengumpulkan pakaian layak pakai hingga makanan yang akan dibawa dalam bakti sosial ke tempat-tempat tertentu. Siswa diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri lokasi dan penerima zakat tersebut.

Seluruh kegiatan Ramadan ceria didesain sedemikian rupa agar murid memiliki kenangan manis tentang Ramadan. Hal ini akan membuat mereka selalu terkenang dan bersuka cita menyambut ramadan berikutnya nanti.

a�?Agar mereka itu cinta dengan bulan mulia ini. Kita ajarkan bahwa setiap hari di bulan Ramadan itu istimewa,a�? pungkasnya.

Berdakwah melalui pendidikan tentu memiliki suka duka tersendiri. Hal tersebut berpengaruh pada kehidupan pribadinya. Ia harus bisa membagi diri dan waktu antara sekolah dan keluarga. Namun baginya hal tersebut tak membebani. Sebab, keluarganya justru memberinya support besar untuk melakukan aktivitasnya itu.

Di samping itu, meski ada beberapa kendala terjadi, ia mengaku tetap bahagia menjalaninya. Melihat senyum ceria anak murid SD IT Anak Soleh membuat dirinya lupa dengan kendala yang ada.

Dia menemukan, betapa senyum anak-anak, adalah obat ampuh penghilang luka, obat mujarab penghilang duka. (*/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys