Ketik disini

Feature Metropolis

Kisah Ustad Muhammad Ihsan Dharma Sentosa, Membina Para Penjahat di Rutan Selong

Bagikan

Ustad Muhammad Ihsan Dharma Putra memang tidak terlalu terkenal. Siapa sangka, jalan dakwahnya membuat siapa pun berdecak kagum. Dialah ustad bagi para narapidana yang disel di Rumah Tahanan Kelas II B Negeri Selong.

A�

A�

HAMDANI WATHONI, Selong

 

Lebih baik menjadi mantan penjahat dibanding mantan ustad. Inilah yang selalu dikatakan Muhammad Ihsan Dharma Putra untuk memotivasi para jamaahnya yang ada di Rumah Tahanan kelas II B Negeri Selong.

Pria lulusan IAIN Sunan Kalijaga ini sejatinya mengaku tak pernah berpikir, bahwa ia akan menekuni jalur dakwah seperti saat ini. Meskipun, berlatar belakang santri, namun ia mengaku tak berniat untuk terjun ke dunia dakwah.

a�?Alhamdulillah, saya mendapat hidayah sejak tahun 2013 lalu. Dari sana saya mulai aktif ikut jamaah tabligh,a�? tuturnya saat ditemui di kediamannya di wilayah Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong.

Semua berawal dari kepergian kedua orang tuanya. Ia kehilangan ibunya tercinta di tahun 2003. Disusul kepergian ayahnya tahun 2010.

Sejak itulah muncul kegelisahan dalam hatinya untuk mencari jalan keluar dari kegelisahannya. Ia bersyukur ditunjukkan jalan untuk terlibat jamaah tabligh.

Pria asli Selong Lotim ini memang sebelumnya telah banyak mengenyam ilmu agama di sejumlah pondok pesantren di Pulau Jawa. Mulai dari Ponpes di Gontor, Malang hingga Jogjakarta.

Saat kuliah, ia juga mengambil jurusan bidang filsafat agama. Hanya saja, ilmu agama yang selama ini dimilikinya jarang ia amalkan dan manfaatkan untuk berdakwah.

Sejah aktif menjadi jamaah tablighlah ia kini kembali tak bisa terpisahkan dari dunia dakwah. Kini, setiap Kamis pagi, ia dipercaya untuk memberikan tausiyah di Rumah Tahanan Kelas II B Selong.

Di sini, kehadirannya mampu memberikan pembinaan dan motivasi bagi ratusan warga binaan untuk mengubah jalan hidup mereka.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”8″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

“Sebenarnya sejak kuliah saya sudah terbiasa bergaul dengan pelaku kriminal. Dulu di Jogja juga saya buat komunitas Gergaji dengan para preman di sana,a�? tutur pria yang akrab disapa Ustad Dharma itu.

Diceritakannya, bagaimana saat ia menimba ilmu kuliah di Jogja sekitar tahun 1998. Ia tergerak atas situasi yag sangat miris. Dimana, premanisme merajalela dan tindak kejahatan seolah tanpa batas. Sehingga, bersama sejumlah rekannya, ia membentuk komunitas Gergaji untuk menyentuh para preman ini.

Awalnya, Dharma mengaku sempat takut. Namun ia memberanikan diri mengingat apa yang akan dilakukannya diniatkan untuk kebaikan. “Saya kasih nama Gergaji itu singkatan dari Gerakan Belajar Mengaji. Kami sengaja buat namanya nyeleneh biar akrab dengan telinga para preman itu,a�? tuturnya tersenyum.

Terkesan gila, sejumlah mahasiswa mengajak preman belajar membaca Alquran. Tapi, Dharma yakin hal itu terwujud setelah ia mengetahui bahwa mantan anggota gangster yang paling ditakuti di Jepang yakni Yakuza bisa bertaubat dan menjadi jamaah tabligh.

Hal itu juga yang membuatnya berpikir bahwa jika seorang Yakuza saja tertarik masuk jamaah tabligh, mengapa dirinya tidak?

Lantas, dari sanalah muncul keberanian dan keyakinan bahwa para preman di Jogja saat itu pun bisa berubah. a�?Benar saja, Alhamdulillah di luar dugaan itu ternyata mendapat respons baik dari para preman itu,a�? kenangnya.

Para preman yang awalnya kerap terlibat aksi kejahatan ternyata mau belajar membaca Alquran. Lebih dari itu, para preman ini pun kemudian ternyata ingin belajar salat dan perlahan keluar dari dunia hitam yang selama ini mereka geluti.

Dari sanalah ia kemudian yakin bahwa para penjahat sekalipun memiliki keinginan untuk mengubah jalan hidup mereka kepada kebaikan. Hanya yang dibutuhkan adalah orang yang mau peduli dan membina mereka. Komunitas Gergaji ini pun kini terus berkembang.

Berbekal dari pengalaman tersebut, Dharma pun kini mulai aktif kembali berdakwah di sejumlah tempat. Mulai dari kalangan umum hingga khusus di kalangan warga binaan Rutan Selong.

Menurutnya, para warga binaan banyak yang memiliki keinginan berubah. Bagi Dharma, berdakwah di kalangan ini lebih mudah diterima daripada masyarakat pada umumnya.

Dari pengalaman yang ia rasakan selama berdakwah, kehadiran jamaah tabligh sulit diterima masyarakat umum. Bahkan tak sedikit yang mencemooh mereka.

“Ada yang bilang jamaah kompor atau yang lainnya,a�? tutur Dharma.

a�?Karena kadang masyarakat umum merasa sudah cukup ilmunya jadi nggak perlu lagi belajar, beberapa seperti itu, jadi mereka nggak mau menerima jamaah tabligh,a�? imbuh pria empat anak tersebut.

Sebaliknya, para warga binaan rutan Selong dikatakannya adalah sekelompok orang yang sedang mencari jalan kebenaran. Dimana jika didekati dan dipahami permasalahan yang dihadapinya, akan ada banyak hal yang ditemukan dari orang seperti ini.

“Saya pernah berbicara dengan anak SMA yang nekat membunuh, kenapa ia mau membunuh? Itu banyak runut persoalannya dan harus dipahami kondisinya untuk bisa membina mereka,a�? jelasnya.

Begitu juga jamaahnya yang berasal dari kalangan mantan pengedar narkoba dan yang lainnya. Setelah didekati dan melakukan pembicaraan dari hati ke hati, di sanalah Dharma mengaku menemukan bahwa mereka ingin kembali ke jalan yang lurus.

Hanya, para warga binaan ini sesuai namanya butuh pembinaan. a�?Cuma caranya pelan-pelan, nggak bisa langsung seketika,a�? terangnya.

Ia mencontohkan cara Rasulullah SAW ketika ingin mengubah umatnya yang terbiasa minum-minuman keras. Rasulullah dikatakan Dharma tak langsung melarang atau meminta orang yang suka minum-minuman keras tersebut untuk langsung berhenti. Melainkan secara bertahap dan penuh lemah lembut.

Diterangkannya, misalnya untuk meminta seseorang berhenti minuman keras, tak langsung harus orang tersebut berhenti seketika. “Dalam Islam sendiri minuman keras tidak dilarang, hanya dilarang mabuk pada saat salat saja,a�? ungkapnya.

Baru kemudian disusul ayat Alquran berikutnya bahwa minuman keras itu diharamkan. Sehingga ini dinilai sebagai bentuk lemah lembut dan perlu adanya proses untuk mengubah sesorang. Sehingga setelah beberapa tahap berikutnya baru kemudian sesorang akan berhenti dengan sendirinya.

“Tidak bisa dipaksa, harus dengan lembut dan pelan-pelan untuk menyadarkan orang,a�? ujar pria yang khas dengan jenggotnya ini.

Selain itu, untuk mengubah kebiasaan prilaku tindak kriminal seseorang, menurut Dharma juga harus disertai solusi. Dalam artian, ketika sesorang diminta untuk berhenti melakukan kejahatan seperti mencuri atau mengedarkan narkoba. Maka, orang tersebut harus diberikan bekal keterampilan. Sehingga, ketika sudah meninggalkan perbuatan tindak kriminalnya, ia punya cara untuk mencari nafkah sendiri maupun untuk keluarganya. Tentunya dengan tidak melanggar hukum.

a�?Alhamdulillah beberapa jamaah saya kasih pelatihan bekam. Dengan harapan itu nanti bisa mereka manfaatkan saat keluar dari rumah tahanan,a�? beber suami dari Vitasari ini.

Dharma kini makin mantap untuk terus menggeluti dunia dakwah dan jamaah tabligh. Terlebih, ia merasa ada kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan apapun ketika melihat jamaahnya yang mantan penjahat itu bertaubat.

“Karena bagaimanapun dosa seseorang, bahkan sebanyak pasir yang di lautan. Itu semua akan diampuni oleh Allah SWT selama orang itu mau bertaubat,a�? pungkasnya. (*/r5)

 

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka