Ketik disini

Feature Metropolis Sumbawa

Kisah Para TKI NTB di Malaysia : Rindu Berbicara Bahasa Sumbawa, Sering Bantu TKI Bermasalah

Bagikan

Ibu Ani adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kini berada di Malaysia. Dia telah bekerja di negeri jiran itu lebih dari tujuh tahun. Ada banyak kisah menarik yang disampaikan perempuan 39 tahun asal Brang Biji, Sumbawa, itu kepada Radar Sumbawa yang pekan lalu berkunjung ke Malaysia.

Nasib orang memang tidak sama. Kadang-kadang ada yang kurang beruntung ketika menjadi TKI. Namun ada banyak orang yang sukses. Meskipun harus bekerja keras di negeri orang. Itulah kalimat pertama yang diucapkan Ibu Hani, 39 tahun, perempuan yang selama tujuh tahun terakhir bekerja sebagai pengasuh bayi di kompleks perumahan Taman Greenwood, Gombak, Selangor-Malaysia.

Untuk bertemu para TKI di Malaysia memang tidak begitu sulit. Hampir di setiap pusat keramaian, pasar maupun kompleks perumahan elit selalu ada TKI. Termasuk di wilayah Selangor, tempat Ibu Hani hidup dan bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di Indonesia. Bertemu orang Indonesia khususnya Sumbawa yang merupakan tanah kelahirannya, Ibu Hani merasa sangat senang.

Dengan muka berseri, perempuan itu terlihat sangat bersemangat menuntun rombongan yang baru tiba di terminal Selangor setelah menempuh perjalan dari Kedah sekitar 8 jam. Penginapan yang telah dibooking Ibu Hani memang tidak jauh dari terminal dan rumah majikan tempatnya bekerja selama hampir delapan tahun terakhir. Rombongan dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) termasuk wartawan Radar Sumbawa yang diundang meliput langsung kegiatan ASEAN University Youth Summit (AUYS) merasa sangat terbantu oleh Ibu Hani. Sebelumnya, rombongan memang telah menghubungi Ibu Hani setelah mendapat nomor teleponnya dari salah seorang teman di Indonesia.

Ibu tiga orang anak itu mengaku sangat senang bertemu orang Sumbawa di tanah rantau. Dia bahkan meminta kepada rombongan untuk menggunakan bahasa Sumbawa saat berbicara dengannnya. Hal itu untuk mengobati kerinduannya dengan bahasa Sumbawa yang sudah cukup lama tidak didengar dan diucapkannya.

“Tu kenang bahasa Samawa mo (kita pakai bahasa Sumbawa saja,red),” kata Ibu Hani dengan logat Melayu kepada rombongan.

Setiba di penginapan dia menceritakan kisahnya selama di Malaysia. Sebagai pengasuh bayi, Ibu Hani merasa cukup nyaman dalam bekerja. Dengan gaji 800 ringgit atau sektitar Rp 2,4 juta sebulan, dia mengaku sudah bisa membantu kehidupan keluarga. Terutama untuk menghidupi tiga anaknya yang kini tinggal di Solo bersama suaminya yang hanya bekerja dengan pendapatan pas-pasan. Terlebih saat ini anak-anaknya sudah mulai besar dan membutuhkan biaya untuk bersekolah.

Bulan Juni mendatang, Ibu Hani berencana akan pulang ke Solo tempat anak dan suaminya tinggal. Dari Solo dia bersama keluarga akan pulang ke Sumbawa ke tanah kelahirannya untuk bertemu sanak keluarga. Termasuk melihat beberapa aset yang telah dibelinya di Sumbawa dari hasil kerjanya di Malaysia.

Namun, kepulangannya nantinya diakui hanya sementara. Hanya untuk berkumpul dan manjalankan ibadah puasa bersama. Dia berencana akan kembali lagi ke Malaysia untuk bekerja. Karena meski jauh dari keluarga, dia merasa cukup nyaman selama apa yang dikerjakannya bisa bermanfaat terutama untuk keluarga tercinta.

Di bagian lain dia menyarankan kepada calon TKI agar berangkat ke Malaysia secara legal. Karena tidak jarang, para TKI yang berangkat tidak sah mengalami masalah di Malaysia. Dia sering mendengar kabar tentang para TKI yang bermasalah. Terutama yang dokumennya tidak lengkap dan akhirnya tidak berani keluar rumah majikan. Yang akhirnya membuat majikannya bertindak kasar. Dengan kenalan orang Indonesia yang cukup banyak di Malaysia, tidak jarang ibu Hani bersama teman-temannya membantu. Salah satu caranya dengan melaporkan keberadaan TKI tersebut ke polisi sehingga bisa dipulangkan. (Zulkarnain)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

4 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *