Ketik disini

Feature Headline

Kisah Grup Musik Punk Marjinal : Paling Berkesan saat Tampil di Majelis Taklim

Bagikan

Band yang satu ini gemar menyebarkan virus antikorupsi. Hampir seluruh lagu mereka bertema gerakan antirasuah. Sudah enam album mereka lahirkan. Band ini ingin masyarakat lebih melek dan melawan pembodohan.

***

Yang kuat menguasai//Yang lemah dikorupsi//Yang kaya makin kaya//Yang miskin makin miskin//Yang pintar membodohi//Yang bodoh dibudayakan

ITULAHA�sepenggal lirik lagu Boikot milik grup band Marjinal saat manggung di pelataran teater Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis malam (5/3). Lagu yang diciptakan Mike dan Bobby pada 2000-an itu terasa masih relevan untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.

Dengan kekuatan lirik yang provokatif itulah, tak heran bila ratusan penggemar grup band asal ibu kota tersebut rela menunggu penampilan band favorit mereka dalam acara bertajuk Seni Lawan Korupsi itu. Band yang didirikan Mikael dan Bobby Adam pada 1996 tersebut memang dikenal karena gencar menyuarakan keadilan bagi rakyat Indonesia. Marjinal tumbuh pada masa transisi demokrasi. Yakni, peralihan dari era tirani ke reformasi.

“Proses kreatif kami adalah bentuk penyampaian aspirasi masyarakat tentang korupsi, tentang ketidakadilan. Dan semua lagu kami lahir karena dokumentasi peristiwa,” kata Mike, panggilan Mikael.

Uniknya, sejak didirikan, band itu hanya bepersonel dua orang. Ya, Mike dan Bobby. Keduanya memegang gitar dan perkusi. Tapi, Mike juga bertindak sebagai vokalis, sedangkan Bobby juga pegang bas.

Bila dalam pentas membutuhkan pemain lain, biasanya mereka mengajak teman band lain. Namun, dia bukan pemain tetap. Dia bergabung jika dibutuhkan.

Memang, sejak dibentuk, Marjinal konsisten menyuarakan gerakan moral, mulai melawan ketidakadilan, pemberontakan atas kemapanan, antirasisme, hingga antikorupsi. Hal itu terlihat dari lagu-lagu yang terhimpun dalam enam album mereka. Album pertama (1999) bertajuk Tunduk Diam Atau Bangkit Melawan, disusul album kedua yang dirilis setahun kemudian, Antifasis dan Antirasis Action.

Lalu, album ketiga (2003) berjudul Marsinah, diikuti Predator (2005), parTAI marJINal (2009), dan KPK (Kita Perangi Korupsi). Album terakhir itu baru di-launching 17 Februari 2015.

Hebatnya, mereka tidak mempersoalkan lagu-lagu mereka dibajak ataupun ditiru orang lain. “Silakan kalau mau dibajak dan disebarluaskan. Kami tidak melarang, tidak menuntut royalti. Yang penting, pembajakan itu dalam rangka untuk mengedukasi masyarakat,” papar Mike.

“Kami tak ingin proses kreatif kami menjadi elitis dan tak bisa dinikmati masyarakat banyak,” tambahnya.

Bapak tiga anak itu tak memungkiri semangat komunitas punk, Do It Yourself, menjadi penggerak Marjinal. Bersama Bobby, Mike yang mulai bergaul dengan komunitas punk di Jakarta pada 1990-an tak membatasi diri soal jenis musik yang dimainkan.

Jalur perjuangan lewat musik itu disadari Mike cukup efektif. Sebab, musik adalah bahasa universal. Selain memberikan hiburan, penyampaian kritik yang dibalut dengan nada yang harmoni akan lebih didengar.

Menurut Mike, Marjinal tak bisa dilepaskan dari kelompok Taring Babi. Komunitas yang bermarkas di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tersebut bergerak di bidang seni rupa (cukil/pahat, sablon, lukis, dan sebagainya). Pembelajaran di komunitas Taring Babi bersifat free. Siapa saja boleh bergabung di komunitas itu. Marjinal pun hidup dari berbagai aktivitas yang dilakukan Taring Babi.

Komunitas Taring Babi tak mengenal struktur organisasi. Prinsipnya, semua setara dan bekerja untuk bersama. Karena itu, tidak jelas siapa pemimpinnya dan berapa anggotanya. “Di sini semua pimpinan sekaligus anggotanya,” kata Mike.

“Kami mendorong tiap individu untuk berkarya. Yang punya kemampuan bermusik, ya main musik. Yang tertarik sablon, ya nyablon. Yang suka ngelukis, kalau karyanya banyak dan layak bisa dipamerkan secara komunal,” lanjutnya.

Selama perjalanan bermusik, ada momen-momen yang selalu diingat Mike dan Bobby. Di antaranya, konser mereka dibubarkan aparat keamanan di Bekasi pada 1999. “Saya juga tak tahu, kenapa dibubarkan. Saat itu polisi langsung naik ke panggung dan pentas kami dihentikan tanpa alasan yang jelas,” ujar Mike.

Momen kedua adalah mereka ditanggap anggota legislatif di gedung DPR pada 2008. Seolah tak peduli siapa yang mengundang, Marjinal memainkan lagu-lagu yang mengkritik para anggota dewan dan sistem di negara ini.

Momen ketiga mungkin paling ganjil. Ceritanya, Marjinal diminta tampil di depan majelis taklim pada 2011. Mike merasa tidak yakin bisa diterima anggota majelis taklim itu karena lagu-lagu mereka kasar dan penuh kritik. Apalagi, secara fisik, penampilan Marjinal awut-awutan.

“Kami kan tatoan, pasti dipandang minor. Namun, rupanya musik menjembatani perbedaan itu. Ketika kami memainkan lagu Ibuku, mereka mengapresiasi dengan baik. Bahkan, setelah selesai, kami disalami. Sejak itu kami sering diminta tampil di hadapan majelis taklim tersebut,” kata Mike, lalu tertawa.

Di sisi lain, ada pergeseran tema secara garis besar dalam tubuh Marjinal. Pada akhir 1990-an sampai pertengahan 2000, hal yang disuarakan adalah represi negara kepada rakyat. Sedangkan dari pertengahan 2000 sampai sekarang, mereka bergiat dalam kampanye antikorupsi.

Selama kampanye, mereka selalu tampil all-out menyuarakan gerakan antikorupsi. “Kami tak pernah mematok tarif. Yang penting, aspirasi kami terpenuhi,” tandasnya.

Dengan semangat Do It Yourself, mereka bisa tampil di seluruh Jawa. Juga, di beberapa daerah seperti Lampung dan Bengkulu.

Sementara itu, menurut Kristen, anggota komunitas Taring Babi, keberadaan Marjinal sebagai alat edukasi antikorupsi sangat penting. Terlebih saat ini. Rakyat harus memahami cara kerja korupsi.

“Tidak hanya itu, kami sering menggelar diskusi. Salah satunya dengan alhamhum Pramoedya Ananta Toer. Sebelum Pram meninggal dunia, Marjinal dan Taring Babi kerap datang ke rumah Pram dan berdiskusi kecil dengan pengarang besar itu,” tutur Kristen. (*/c5/c10/ari)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *