Ketik disini

Headline Oase

Romantisme Rampok

Bagikan

Oleh : Zulhakim

 

Dalam A�waktu-waktu tertentu, cerita para kriminil kadang memikat. Dia jahat, kejam! Ya, tentu saja!. Tapi ada sejenis romantisme dari suatu zaman ketika para bandit keluar mencairkan kebuntuan di tengah masyarakat. Ada yang menggairahkan di dalamnya, segar dan kadang memberi semangat.

Kisah garong baik hati macam Robin Hood misalnya. Ia, sering datang sebagai doa mereka yang letih dalam penindasan. Terlebih ketika ketimpangan sosial terlalu tinggi seperti saat ini. Bayangan Si Pitung dari Rawa Belong diharap datang merampok paraA� kapitalis tamak lalu membagikannya pada kaum papa yang kelaparan. Dalam masa itu, mungkin ini sosok penjahat yang dimaklumi, diberi jalan untuk menghakimi ketika pengadilan tak bisa lagi diandalkan.

Dalam catatan yang lebih tua, para garong bisa hadir memecah kebuntuan politik yang teramat rumit. Ken Arok contohnya. Dia adalah bandit peneror kantong-kantong kas kerajaan sebelum akhirnya naik jadi Raja Tumapel lewat kudeta berdarah yang ia menangkan. Kerajaan Kediri tumbang,A� Singhasari tumbuh dan kelak melahirkan Majapahit. Sejarah kini masih mengenangnya.

Tapi jelas, ketika para bandit ramai-ramai turun gunung merupakan pertanda bahwa ada yang sakit dalam sistem sosial sebuah masyarakat. Fenomena tersebut merupakan gambaran khasA� ketika ekonomi sedang susah, saat perut rakyat tak terisi, aparat yang lalai atau masa-masa perang dan pemberontakan.

Bahkan ketika negara sedang terancam para penyamun bisa beraksi denganA� demikian leluasa dan berani. Mereka bukan sekedar merampok perorangan tapi bisa satu desa sekaligus. Dalam kisah Surabaya, Idrus menyebut di masa revolusi kemerdekaanA� batas antara bandit dan para revolusioner sejati demikian samar.

Kekalahan penjajah Jepang, membuat penyamun mendapatkan medan. Mereka memanfaatkan kekacauan revolusi untuk kepentingan pribadi. Seisi kota, pengusaha, tuan-tuan tanah partikelir adalah ladang jarahan yang tiada habisnya. Gayung bersambut.

Dendam para begundal pada pemerintah kolonial bertemuA� dengan gairahA� kaum nasionalis yang ingin Indonesia segera merdeka. Dua kepentingan, satu musuh bersama. Penjajah!

Dan segera setelah kemerdekaan, sejumlah tokoh yang di masa kolonial dicap penjahat, berubah jadi pahlawan.

Robert Cribb dalam Gangster and Revolutionaries mencatat, di Jakarta, sejumlah bandit jalanan semacam Haji Darip dari Kelender atau Imam Syafea��I alias Bang Pia��ie penguasa Pasar Senen kelak memimpin lasykar rakyat melawan penjajah. Bahkan di masa orde lama Bang Pia��ie sempat naik kasta sebagai Menteri Negara Keamanan Rakyat.

Ketika Soekarno dan kawan-kawan nampak ragu, kelompok-kelompok inilah yang menghadang meriam sekutu. Sekali lagi di zaman itu mereka memecah kebuntuan diplomasi golongan tua yang bertele-tele dan memenangkan revolusi dengan caranya sendiri.

Para penjahat a�?baik hatia�? yang membela kaum lemah tersebut boleh jadi masuk dalam kategori Bandit Sosial ala HJ Hobsbawm dalam Social Bandits. Tapi Cribb bilang, Anton Blok membantah konsep ini. Menurutnya jikapun ada hanya kasuistis langka.

Para penjahat budiman baginya hanya ilusi para petani yang letih. Doa orang-orang yang kalah. Terlebih para bandit di masa revolusiA� juga kerap memeras demi kepentingan pribadi.

Lalu bagaimana dengan para begal yang marak beberapa bulan lalu? Di Lombok tahun 2015 terjadi lebih dari 40 kasus. Di pesisir selatan korbannya sebagian besar turis asing yang berlibur. Seperti premis di atas, ketika para penjahat ramai-ramai turun gunung jelas ada yang tak beres dalam sistem sosial kita.

Boleh jadiA� mereka sedang lapar atau memaksimalkan hukum yang tak tegak. Dapat juga para begal beraksi sebagai protes tentang kemilau industri pariwisata yang memaksa mereka hanya sebagai penonton. Lelah dimiskinkan turun-temurun di tanah sendiri oleh kolaborasi penguasa dan pemodal yang semakin tambun oleh kekayaan.

The Powers tends to corrupt kata Lord Acton. Bukankah penguasaan atas tumpukan harta juga merupakan kuasa?.

Jadi peringatanA� ini juga berlaku pada para kapitalis yang menimbun-nimbun harta dalam kepelitan yang luar biasa.A� Kekuasaan dapat mendekatkan pada laku koruptif.

Dalam kondisi demikian, ingatlah! kawanan rampokA� bisa datang untuk menegur bahwa ada hak orang lain dalam setiap rupiah yang ditimbun. Begal datang mengingatkan semestinya harta di brangkas itu harus mengalirA� dan menggerakkan kehidupan.

Dan soal rampok uang negara yang sedemikian maraknya lalu pura-pura budiman setelah tertangkap KPK itu gimana ya? Nah,A� sepertinya itu lain cerita!

*Penulis :A� Zulhakim, A�tinggal di Ampenan ([email protected])

Komentar

Komentar

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *