Ketik disini

Headline Metropolis

Banjir Tunjukkan Berbagai Kelemahan Penataan Kota Mataram

Bagikan

MATARAM-Mataram belum belajar dari banjir besar yang menerjang sejumlah lokasi akhir tahun lalu. Enam bulan berlalu, praktis tak ada perubahan berarti di Kekalik, sebagai titik terparah yang terendam banjir kala itu.

“Belum pernah diapa-apakan, tak ada peninggian talud atau pengerukan,a�? kata Fathurrahman, Lurah Kekalik Jaya, Sekarbela.

Di Lingkar Selatan, kondisinya tak lebih baik. Siang kemarin, Lombok Post bahkan masih mendapati banyak titik banjir yang tak surut sepenuhnya. Tengoklah deretan perumahan di kawasan tersebut. Rata semuanya diserang air banjir. Perbaikan saluran yang kini sedang dilakukan seolah tak berdampak.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”1355″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

“Harusnya pemerintah lebih serius menata kota,a�? keluh Ahmad Yani, warga Perumahan Royal yang turut tergenang.

Bergerak ke timur, hingga depan DPRD Kota Mataram, kondisinya tak lebih baik. Di saat bersamaan, menuju utara hingga dekat Kantor Camat Sekarbela, air juga masih menggenagi sejumlah perumahan semisal seputaran Kopajali.

“Jangan dibiarkan terus seperti ini, kami menderita,a�? kata Aini, warga setempat.

Sementara Ketua RT Perumahan Kopajali Sudirman mengatakan, dari 37 KK yang tinggal di sana, 70 persen rumahnya kemasukan air. Tinggi airnya sekitar 50 centi meter hingga satu meter.

a�?Ya, untuk halaman rumah warga, semua kemasukan air,a�? katanya pada Lombok Post.

Sejak senin malam, ia bersama seluruh warga melakukan gotong royong. Warga Kopajali menutup salah satu saluran. Sebab, warga setempat meyakini, banjir yang terjadi karena jebolnya saluran air di Jempong.

Sudir berharap, Pemerintah Kota Mataram hadir di tengah kegalauan warganya. “Ya, semoga dengan musibah banjir ini, pemkot merasa tergugah hati dan nuraninya, untuk membenahi saluran drainase yang mengalami penyempitan di kali dekat Perumahan Kopajali ini,a�? harapnya.

BMKG Keluarkan Peringatan

Sementara itu, belum hilang penderitaan warga, siang hingga sore hujan kembali mengguyur. Hujan tersebut bahkan tercatat dalam BMKG dan dikeluarkan peringatan dininya. Air lantas kembali meninggi karena kiriman yang terus berdatangan.

Prakirawan BMKG Stamet BIL Anggi Dewita mengatakan kejadian dua hari terakhir merupakan dampak pola angin siklonik di Laut Jawa. Hal itu mengakibatkan pertemuan angin di Selat Makasar, perairan utara NTB, hingga Laut Jawa. a�?Secara sederhana hal ini meningkatkan awan hujan,a�? ujarnya.

Hingga dua hari ke depan, siang hingga malam, angin kencang disertai hujan lebat diprediksi masih terus akan mengguyur. Sehingga genangan hingga banjir bisa saja terjadi.

Faktor alam tersebutlah yang menurut Kadis PUPR Kota Mataram H Mahmuddin Tura jadi penyebab utama. Pintu air di hulu menunjukkan terjadi peningkatan debit air 40-50 cm dari batas normal yang hanya 80 cm saja. Sehingga konsekuensinya terjadi luapan di sejumlah titik, terutama Sungai Ancar.

“Bahkan Jangkuk sempat kita khawatirkan, karena naiknya tinggi, beruntung masih belum meluap,a�? ujarnya.

Lantas apa solusi atas masalah tersebut? Apakah masyarakat Mataram hanya bisa berdiam diri menunggu banjir datang? Tura menjelaskan untuk kasus Ancar, pengerukan menjadi yang utama. Sedimentasi di sana terbilang sudah sangat parah. Selain sampah, ampas sisa tahu ditengarai menumpuk terus di dasar sungai. a�?Harus dibuang semua itu,a�? katanya.

Di saat bersamaan, peninggian tanggul bibir sungai harus dilakukan. Agar ketika debit air meningkat, sungai masih bisa menampung dan tak terjadi luapan.

Dia juga berencana menghilangkan tanggul sungai yang ada di Gerisak. Tanggul tersebut sengaja dibuat untuk meninggikan muka air, sehingga bisa mengalir ke sawah warga. Namun kini tak lagi diperlukan, hingga bisa dihilangkan supaya air makin lancar.

Untuk skala yang lebih besar, pemerintah provinsi dan pusat memang sudah mengingatkan, terlalu banyak air yang mengalir melalui Mataram. Solusinya adalah mengalirkannya ke Lombok Barat, Lombok Tengah, bahkan Lombok Timur. a�?Harus dipecah lagi, tak bisa semuanya ke Mataram,a�? katanya.

Untuk kasus Lingkar Selatan yang masih tergenang, ia mengatakan karena proyek perbaikan saluran yang kini berlangsung belum tuntas. Namun menurutnya, ketika proyek buatan provinsi itu selesai, kawasan tersebut akan jauh lebih siap menerima kiriman air hujan. “Pengaruhnya besar di sana,a�? klaimnya.

Gara-gara Posisi Hilir

Di tempat terpisah, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh berdalih, banjir yang melanda daeranya tidak lepas dari posisi Kota Mataram yang berada lebih hilir dari dua kabupaten lain. Lombok Barat dan Lombok Tengah. a�?Selama posisi Mataram di hilir, semua akan tertumpah ke situ,a�? cetus Ahyar.

Hujan yang cukup lama, terakumuliasi lalu tersalur melalui dua sungai di Kota Mataram. Sungai Ancar dan Unus. Sehingga, walau hujan turun tiba-tiba tetapi mampu membuat beberapa wialayah di Kota Mataram terendam air.

Tidak hanya itu, Ahyar juga mengakui fakta kecilnya luas penampang dari drainase di dua kecamatan. Ampenan dan Sekarbela. a�?Sehingga ketika terjadi hujan seperti kemarin, drainasenya tidak mampu menampung air,a�? imbuhnya.

Pemerintah saat ini, kata Ahyar, belum bisa berbuat banyak. Kecuali melakukan langkah-langkah yang bersifat penanganan taktis. Seperti segera menurunkan bantuan ketika terjadi banjir seperti kemarin.

Namun demikian, lanjut Ahyar, sejatinya pembangunan infrastruktur yang telah dirancang dalam RPJMD tahun 2016-2021, sudah memprioritaskan pembangunan drainase. “Baik dari segi kualitas dan kuantitasnya,a�? jelasnya.

Pembangunan ini, tidak bisa dikerjakan instan. Tetapi harus secara bertahap. Masyarakat diminta harus ikut berperan aktif mencegah penyebab potensi banjir. Semisal tidak boleh membuang sampah ke saluran. Karena itu, berpotensi mendangkalkan sungai dan saluran. Pada akhirnya, debit air tidak mampu dialiri maksimal ke laut.

a�?Kita butuh proses menyelesaikan perbaikan-perbaikan ini,a�? ujarnya.

Terkendala Anggaran

Diakuinya, rencana-rencana pembangunan khususnya untuk perbaikan saluran di Kota Mataram yang telah direncanakan, butuh anggaran besar. Sementara pemerintah dikatakan tidak mungkin hanya memfokuskan anggaran pada satu persoalan saja. Padahal daerah tengah menghadapi beragam persoalan. “Kita butuh dukungan dan sinkoronisasi (anggaran) dari Provinsi dan Pusat,a�? tegasnya.

Ia mencontohkan pada rencana pembangunan waduk di Babakan misalnya. Sampai saat ini, pembangunan waduk di tempat itu, belum ada titik terang. Baik dukungan dari pemerintah Provinsi dan Pusat. Padahal, pemerintah daerah sudah siap untuk melakukan pembebasan lahan.

Ia menyebut, minimal ada tiga manfaat jika waduk itu berhasil diwujudkan. Pertama untuk pengendali limpahan air kiriman dari luar kota. Kedua sebagai air baku untuk para petani. Dan yang terakhir untuk daerah wisata. a�?Tetapi belum bisa saya pastikan kejelasan dukungan ini,a�? tegasnya.

Begitu juga rencana pembangunan tanggul dan jeti atau pemecah gelombang. Semua membutuhkan anggaran tidak sedikit. “Kalau kita kerjakan sendiri berat, soal tanggul saja kita butuh minimal 50 miliar,a�? keluhnya.

Masalah Sampah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Mataram Irwan Rahadi, tak menampik salah satu penyebab terjadinya banjir di Mataram yakni soal sampah yang menumpuk di saluran dan sungai.

Sampah-sampah ini, mengendap keras lalu menjadi sedimentasi. a�?Oh pasti ada (penyebab karena sampah),a�? kata Irwan.

Hanya saja, ia menolak jika biang keladi banjir sepenuhnya karena sampah. Irwan menilai ini juga tidak lepas dari curah hujan yang tinggi kemarin. Apalagi terjadi di berbagai wilayah pulau Lombok. a�?Air juga bawa sampah ke wilayah kami, jadi mengendap di sini,a�? cetusnya.

Ia yakin jika hujan hanya turun di wilayah Mataram, dengan debit hujan seperti kemarin, tidak akan sampai membuat kota kebanjiran. Ia juga mengklaim volume sampah di saluran dan sungai sudah mulai berkurang, jika dibanding sebelum setiap kelurahan punya motor roda tiga. “Sebelum itu banyak sampah di kali, tetapi sekarang sudah berkurang,a�? yakinnya.

Keterangkutan sampah dari lingkungan juga meningkat. Dari sebelumnya di depo cukup hanya diangkut dengan dua dam mobil sampah sudah bisa tuntas, kini minimal 5 dam baru bisa tuntas diangkut dari Depo ke TPA.

a�?Dulu jam 11 kita sudah bisa pulang, sekarang kami setengah tiga pagi baru selesai. Ini menunjukan bahwa sampah cukup efektif diangkut dari lingkungan,a�? ujarnya.

Karena itu, ia sangat yakin persoalan sampah di Mataran bukan penyebab utama banjir. Melainkan, sampah kiriman dari daerah tetangga yang akhirnya terseret arus dan mengendap di sungai-sungai di daerah ini.

“Kalau sedimentasi sampah itu jadi tugas PUPR. Kami (LH) hanya lakukan pembinaan agar masyarakat tidak lagi buang sampah di sungai,a�? tandasnya.

Sementara itu, ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi mengatakan, Mataram banjir karena debit hujan dua hari ini sangat tinggi. a�?Ya, hampir di seluruh wilayah Lombok, sudah merata,a�? kata Didi pada Lombok Post.

Menurutnya, ada dua hal yang harus diubah agar tidak terjadi banjir. Pertama menormalisasi sungai dan saluran drainase secara keseluruhan agar mampu berfungsi secara normal. Kedua, melakukan penyesuaian lebar sungai dan ketinggianya, agar airnya tidak meluber.

“PR kita ke depan adalah, harus memetakan satu kondisi yang menggambarkan kondisi hujan,a�? pungkasnya. (yuk/zad/cr-tea/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka