Ketik disini

Feature Headline

Kisah Fahrurrozi Dahlan, Dosen UIN Mataram Sebarkan Syiar Islam di Mancanegara

Bagikan

Berdakwah telah membawa H Fahrurrozi Dahlan menjelajah ke banyak negara. Jangan heran, kalau kini, dosen Universitas Islam Negeri Mataram ini bisa menghabiskan akhir pekan dengan berdakwah ke luar negeri.

SIRTUPILLAILI, Mataram

INGATAN Fahrurrozi Dahlan menerawang. Lalu hinggap pada sebuah sore di pedalaman Sulawesi Tenggara. Sebuah sore yang tegang bukan main. Sebuah sore yang tak akan pernah dilupa, sebab mendapati diri dalam kondisi terancam.

Fahrurrozi menuturkan kembali kenangan itu kepada Lombok Post. Itulah, awal mula, Fahrurrozi muda, memulai dakwahnya. Dia turut serta dalam rombongan Maa��had Darul Quran Wa Al-Hadits al-Majidiyyah al-Syafiiyyah NW Pancor, berdakwah ke sejumlah tempat di Nusantara.

Tiba-tiba, kendaraan rombongan para dari dari Pulau Lombok ini dicegat sekelompok warga. Jalan utama yang dilalui diblokir menggunakan batu dan kayu. Lalu mereka bertariak-teriak. Merangsek dan hendak mengusir rombongan para dai Nahdlatul Wathan (NW) dari kampung halaman mereka.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Suasana tegang memantik rasa cemas. Jauh dari benak Fahrurrozi muda, bakal ada penolakan seperti itu. Untuk sampai sana saja bukanlah perkara mudah. Dan ternyata, setelah sampai pun, rintangannya jauh lebih tak mudah lagi.

Di tengah rasa cemas, maka segala doa dipanjatkan. Komat-kamit para dai melafalkan doal dengan dada yang bergemuruh dibekap suasana genting. Sementara beberapa orang berusaha berbicara dengan para penghadang yang panas.

Warga rupanya sudah bersepakat bulat-bulat. Mereka melarang rombongan para dai tersebut melintas karena tidak punya izin untuk berdakwah di daerahnya. Apalagi mereka membawa misi dakwah dari organisasi NW, sebuah organisasi asing yang sama sekali tak dikenal masyarakat setempat.

Sesungguhnya tempat dakwah yang hendak dituju masih jauh. Masih 60 kilometer lagi. Hal yang tak mungkin untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Pun begitu. Setelah berjuang untuk sampai di tempat pedalaman seperti itu, gak mungkin juga harus balk badan.

Maka negosiasi dilakukan. Mengajak berbicara hati warga yang panas. Dan pertolongan Allah datang. Warga yang tadinya berhati panas melunak. Terutama setelah mereka mendapat penjelasan berulang-ulang dari para dai. a�?Kami akhirnya melanjutkan perjalanan dan memulai dakwah kami di tempat tujuan,a�? kenang Fahrurrozi.

Meski dilandasi niat teramat mulia. Berdakwah memang bukan perkara mudah. Cobaan dan tantangan bisa datang silih berganti. Dan dalam banyak dakwahnya di banyak majelis taklim, kata dia, selalu saja ada pihak yang belum 100 persen menerima mereka.

Terutama disebabkan lantaran warga yang didatangi memang kebanyakan belum mengenal dakwah yang dilakukan NW secara utuh. Bahkan, tatkala dakwah sudah mulai berjalan pun, terkadang penolakan masih terjadi, dengan warga masih menolak dengan cara tidak hadir di pengajian.

a�?Menolaknya dengan cara memboikot pengajian, sehingga pengajian pun dibubarkan,a�? kata dia.

Selain itu, pernah juga ada yang sengaja mengacaukan pengajian dengan cara mengirim orang-orang yang kontra dengan mereka. Sehingga membuat pengajian tidak kondusif. Dan kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Tapi, Fahrurrozi dan para dai lain tak pernah menyerah. Rintangan memang hadir untuk diatasi. Segala yang terjadi dinilainya sebagai ujian yang memang lazim terjadi pada mereka yang hendak naik kelas.

Penolakan dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi kala itu organisasi NW belum terlalu dikenal. Dan hal semacam itu, tak hanya terjadi di Tanah Sulawesi. Namun, terjadi juga di Tanah Kalimantan yang juga didatangi para dai dari Lombok sebagai ladang dakwah.

Penolakan selalud dibalas dengan dengan sabar dan terus menerus melakukan dakwah dengan cara-cara yang akomodatif, humanis dan lemah lembut. Dan benar. Ikhtiar yang konsisten memang tak akan pernah mengkhianati hasil. Berkat usaha dan doa, pelan namun pasti, jalan dakwah para dai dari NTB ini akhirnya mulai diterima di Tanan Sulawesi dan Tanah Kalimantan.

Fahrurrozi bersyukur, meski ditolak, tapi warga tidak pernah melakukan tindak kekerasan fisik. Sebab, sebagai dai, Fahrurrozi dan rekannya mengaku tidak pernah melakukan perlawanan atas penolakan warga.

a�?Jika kita ditolak, kita persuasi. Kita cooling down, sampai mereka paham, visi misi dakwah yang kita sampaikan,a�? katanya.

Dan lihatlah hasilnya kini. Pondok pesantren NW sudah berdiri tegak, seperti di Kunawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Seorang sahabatnya berhasil mendirikan pondok pesantren tersebut di sana. Dan Fahrurrozi merasa bersyukur buah dari kerja keras tanpa lelah telah datang. Ajaran Islam pun semakin kuat di Kunawe Selatan.

a�?Yang dilakukan sekarang bukan mendidik orang tua di sana. Tetapi didik anak-anak orang-orang yang tadinya menolak,a�? katanya. Kelak, para cucu-cucu anak-anak yang tengah didik saat ini, diyakini bakal menjadi generasi penerus perjuangan.

Bagi Fahrurrozi, berdakwah selalu ada suka dan dukanya. Sukanya adalah ia bisa menjalankan perintah Allah. Sementara dukanya, adalah rintangan-rintangan yang tidak sedikit dihadapi. Namun, pengalaman di Sulawesi A�dan Kalimantan itu, telah menambah keyakinannya untuk terus berdakwah.

Maka, di Pulau Seribu Masjid, Fahrurrozi semenjak tahun 1998 memulai berkeliling untuk berdakwah. Nyaris tiada bagian dari Pulau Lombok yang belum dijamahnya. Dia bergerak menyentuh masyarakat dengan ajaran-ajaran Islam, dengan cara menyejukkan dan damai.

Fahrurrozi selalu sadar, bahwa masyarakat tdiak pernah satu pandangan tentang banyak hal dalam Islam. Masyarakat yang dihadapi berasal dari beragam paham, entis dan beragam organisasi.

a�?Maka tidak ada kata yang paling baik bagi seorang dai selain menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat setempat,a�? katanya.

Maka dakwah Fahrurrozi adalah dakwah yang kental strategi akomodatif. Mengakomodasi keberagaman dan beradaptasi dengan masyarakat setempat sembari melakukan transformasi perubahan. Baik perubahan ideologi, sikap dan pandangan.

a�?Itu membutuhkwan waktu lama. Dan seorang dai tidak boleh berhenti dan cepat menyerah pada kondisi,a�? katanya.

a�?Dai ibarat sinar matarhari tidak akan pernah bosan memberikan sinar kepada bumi, maupun tata surya yang lain,a�? katanya bertamsil.

Ia percaya bahwa apapun yang dilakukan dai saat ini adalah demi generasi selanjutnya. Karena seorang dai meletakkan pondasi dasar tentang keteguhan iman, dan agama untuk disampaikan terus menerus kepada generasi seterusnya.

a�?Adalah perpanjangan lisan nabi yang tidak boleh berhenti pada tataran ucapan. Tetapi juga melakukan dakwah bil hal, dakwah dengan aksi, itu yang diharapkan di era modern ini,a�? katanya.

Di tengah kesibukkanya sebagai dosen di UIN Mataram. Ia sendiri terus melakukan aktivitasnya sebagai seorang dai. Apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini. Dia tetap berkeliling mengisi pengajian di beberapa majelis taklim, kapanpun dan di manapun dibutuhkan. Waktunya 24 jam dia sediakan untuk umat.

a�?Sebagai dai tidak boleh tersinggung ketika diganggu masyarakat, karena sudah terlanjut mewakafkan dirinya untuk umat,a�?ujarnya.

Panjangnya perjalanan dakwah Fahrurrozi, menyebabkan dia kini tak cuma diminta berdakwah di Pulau Lombok semata. Namun, juga diminta berdakwah ke luar negeri.

Cara dia berdakwah, apa yang disampaikannya dan cara pendekatannya terhadap kultur masyarakat, telah menjadikannya disukai umat kala berdakwah di luar Indonesia.

Baru-baru ini, Fahrurrozi baru pulang dari dakwah di Brunei Darussalam. Dia memberikan ceramah bagi para kelompok akademisi di negeri kaya tersebut. Kemudian di Malaysia, ia juga rutin berdakwah di masjid-masjid di sana dan berbaur dengan masyarakat setempat.

a�?Ibarat air yang mengalir, di manapun air mengalir maka dia akan memberikan kesejukan, itulah filosofis seorang dai,a�? katanya.

Aktivitas dakwahnya tidak mengganggu jam mengajar. Sebab ia memanfaatkan waktu libur untuk pergi berdakwah ke luar negeri. Seperti hari Sabtu dan Minggu. Kemudian hari Senin sudah kembali lagi ke Mataram. a�?Supaya tugas negara tidak terbengkalai, tugas umat juga berjalan seiring,a�? ujar pria asal Sakra Lombok Timur ini.

Dari Keluarga Santri A�A�

Ketekunan Dr H Fahrurrozi dalam berdakwah tidak lepas dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Pria kelahiran Lombok Timur 31 Desember 1975 ini memang lahir dan tumbuh di lingkungan pondok pesantren. Terakhir dia menempuh pendidikan pesantren di Maa��had Darul Quran Wa Al-Hadits al-Majidiyyah al-Syafiiyyah NW Pancor, dibawah asuhan langsung TGKH Zainuddin Abdul Madjid, dan ia selesai tahun 1998.

a�?Dari situlah (1998) saya bersentuhan dengan masyarakat setelah usai maa��had,a�? katanya.

Aktivitasnya di dunia dakwah dimulai dengan membina majelis-majelis taklim kecil-kecilan di rumahnya. Baru setelah itu, dakwahnya kemudian lebih meluas ke masyarakat. Dia juga ikut terlibat merintis membangun Pondok Pesantren Darssa��adah NW, di Desa Penendem, Desa Senyur Kecamatan Keruak Lombok Timur.

a�?Madrasah itu berkembang dengan baik, dan itu menjadi modal dasar saya,a�? ujarnya.

Tidak puas sampai di situ, Ia pun melanjutkan pendidikan ke UIN Syarif Hidayatullah Jakatar dan lulus tahun 2010. Selama di UIN ia banyak menuntut ilmu pada ulama-ulama besar, seperti Kyai Mustafa Ali Yakub dan Kyai Hazami di Tanggerang dan banyak ulama lain. Pada tahun 2002 hingga 2004, ia ikut pendidikan kader ulama yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

a�?Sejak 2004 itulah saya mulai membina majelis-majelis taklim sampai ke luar daerah,a�? katanya. (*/r8)

Komentar

Komentar

Tags: