Ketik disini

Feature

Puasa di Australia ala Mahasiswa NTB (1) : Musim Dingin, Puasa Jadi Lebih Singkat

Bagikan

Berpuasa di Indonesia berbeda dengan di Melbourne Australia. Selain di sini umat Muslimnya minoritas, ada satu perbedaan lagi. Khususnya saat ini. Kala musim dingin tiba. Ya, waktu berpuasa menjadi lebih singkat.

A�

A�

Rahmatul Furqan-Melbourne

 

PEPOHONAN meranggas menghiasi wajah Kota Melbourne. Ini menandai peralihan musim gugur menuju musim dingin. Meski tak diselimuti salju, suhu udara di kota ini kian menurun, hingga kisaran 11-4 derajat celsius. Bagi seseorang yang lahir dan besar di negeri tropis, suhu tersebut sudah terhitung ekstrem dan cukup membuat Saya menggigil meski di siang hari. Terlebih, Saya baru menginjakkan kaki di Negeri Kanguru ini pekan lalu. Sehingga masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan udara yang kering dan angin dingin yang menusuk.

Pada masa awal ini, saya tidak hanya harus menyesuaikan diri dengan absennya kehangatan matahari. Tetapi juga dengan suasana Ramadan di Melbourne yang tentu saja sangat berbeda dibandingkan di kampung halaman.

Menjalani puasa di ibu kota negara bagian Victoria ini, memang terbilang gampang-gampang susah. Bisa dikatakan lebih ringan karena jangka waktu berpuasa dua jam lebih singkat dari pada di Indonesia. Pasalnya, matahari lebih a�?pemalua�? selama musim dingin. Ia hanya menunjukkan wujudnya mulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00 sore.

Meski singkat, godaan berpuasa tak kalah menantang karena udara dingin kerap kali memicu dahaga dan rasa lapar. Apalagi, denyut kehidupan Kota Melbourne tetap berjalan tanpa perubahan. Godaan pasti saja lebih terasa bila dibandingkan berpuasa di Indonesia yang semuanya menjadi ‘istimewa’ saat Ramadan tiba.

Tidak ada pemotongan jam sekolah atau kerja seperti yang terjadi di tanah air. Suara azan pun hanya bisa didengar melalui aplikasi perangkat seluler. Bahkan, kedai atau restoran tetap buka.

Baca Juga

[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Siang hari, ketika menyusuri kawasan kota, warga muslim Melbourne harus menahan diri agar tidak tergoda semerbak wangi aroma kopi yang diseduh para barista andal di kedai-kedai pinggir jalan. Di sisi lain, sensasi berbeda saat menjalankan puasa di Melbourne kadang justru menghadirkan kenikmatan tersendiri.

Sebelas jam kerap berlalu tanpa terasa. Terutama karena kota ini menawarkan begitu banyak destinasi untuk ngabuburit dengan akses gratis untuk siapa saja. Lapar tak akan terasa ketika mata dimanjakan oleh taman-taman cantik yang menghiasi sudut kota seperti Royal Botanic Gardens.

Pilihan lainnya adalah ngabuburit sambil menyusuri sungai Yarra atau berjalan di Hosier Lane untuk melihat keindahan mural yang penuh warna dan pas untuk berfoto-foto.

Mereka yang mencintai seni, juga bisa menghabiskan waktu di Museum seni National Gallery of Victoria. Keindahan kota ini tak pernah gagal menghipnotis Saya hingga terbenamnya matahari.

Menjelang waktu berbuka, restoran dan tempat makan di sepanjang pusat Kota Melbourne yang menyediakan makanan halal akan langsung dipenuhi kaum muslim.Restoran-restoran halal ini banyak ditemukan di kawasan Sydney Road, yang menjadi kawasan hunian banyak imigran dari Timur Tengah yang mayoritas beragama Islam. Beruntung, kawasan ini pun terbilang cukup dekat dari kediaman Saya di Aberdeen Street, Brunswick.

Menu-menu yang disajikan sedikit banyak mengobati rindu akan kampung halaman. Di sini, sebagian besar restoran halal tersebut tidak hanya menawarkan menu ala timur tengah, tetapi beberapa juga menyediakan makanan khas Indonesia ataupun Malaysia.

Contohnya saja rumah makan Pondok Rempah yang berada di kawasan pusat kota, tepatnya di Elizabeth St. Pondok makan yang dikelola langsung oleh orang Indonesia ini menyajikan menu-menu yang sudah akrab bagi perantau tanah air. Seperti nasi uduk ayam kremes, sate, hingga tahu tempe penyet. Bahkan, spesial di bulan Ramadan ini, mereka juga menaruh kolak di daftar menu.

Tak jauh dari kampus Saya, juga terdapat warung Padang dengan cita rasa Indonesia-nya yang khas. Tidak hanya menjadi favorit para muslim dan orang-orang Indonesia, tempat makan tersebut juga terbilang ramai diserbu oleh warga domestik karena harganya yang cukup bersaing.

a�?Kalau sudah makan seperti ini, rasanya seperti kembali ke kampung halaman. Rindunya sedikit terobati,a�? celetuk Jaelani, mahasiswa asal Lombok yang juga tengah menempuh pendidikan magisternya di Melbourne di sela-sela asyik menyantap nasi uduk khas Pondok Rempah.

Untuk lebih berhemat, sebagian besar mahasiswa Indonesia di Melbourne juga lebih memilih memasak sendiri makanan untuk berbuka maupun sahur.Bahan-bahan masakan halal dan khas nusantara tak begitu sulit didapatkan.

Untuk berburu daging halal, Saya biasanya menyusuri sejumlah toko daging di Sydney Road atau di Victoria Street. Sementara, untuk membeli bumbu-bumbu masakan khas Asia atau Indonesia, toko Mix Indonesian Supermarket yang juga berada di kawasan Brunswick dan toko Indomix yang berada di kawasan pusat kota, biasa menjadi andalan.Berbekal bahan-bahan masakan yang tersedia, makanan tradisional pun bisa dihidangkan di atas meja makan. (bersambung/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka