Ketik disini

Feature Metropolis

Mereka Para “Malaikat” yang Mengabdikan Hidup Merawat Anak Yatim di Mataram

Bagikan

Orok bayi tak berdosa itu diantar ke sebuah panti. Belasan tahun sudah, orok itupun tumbuh menjadi seorang gadis rupawan. Setiap ulang tahunnya, paket kado manis dikirim ke panti tersebut. Tanpa nama dan alamat.

Itu salah satu kisah di sebuah panti asuhan di Tanjung Karang. Banyak kisah haru biru, bahkan ajaib yang terjadi di panti tersebut dan panti-panti lainnya. Kadang tidak masuk dalam logika.

A�***

SIANG perlahan menjelang. Tetapi, suasana di Panti Asuhan Al Ikhlas masih sesejuk pagi hari. Beberapa suara anak tengah berdoa bersama, di ruangan serbaguna panti. Di tempat lain, puluhan anak tengah mendengar kajian akhlak dari ustadz panti.

Tidak perlu susah payah mencari pendiri panti asuhan itu. Pria sepuh yang awalnya berasal dari Batu Tangkok, Rensing, Lombok Timur itu terlihat aktif mengawasi anak-anak panti di sebuah bilik yang disulap menjadi kantor.

a�?Mari silakan,a�? ujarnya ramah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Lombok Post lalu memasuki ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang kerja. Pria sepuh memiliki nama lengkap HM Nasir Sukron itu lalu mempersilakan Lombok Post duduk di sofa panjang dan empuk. Sementara ia, memilih duduk di balik meja kerja dengan berkas bertumpuk-tumpuk.

a�?Sekitar tahun 1980, saya hijrah dari Rensing ke sini, ikut bersama paman,a�? tuturnya memulai kisah.

Saat itu, kata Nasir kawasan yang kini dikenal sebagai wilayah kelurahan Banjar itu, Kecamatan Ampenan itu jauh dari lembaga pendidikan agama. Anak-anak banyak yang tidak mendapat pendidikan agama yang layak sejak dini.

a�?Lebih memprihatinkan lagi, anak-anak yatim,a�? terangnya.

Nasir kemudian tergerak hatinya mengumpulkan semua anak yatim dan anak-anak telantar untuk diasuh. Ia mengaku tulus, ingin memberikan pendidikan agama yang layak dan mimpi masa depan yang baik, bagi anak-anak telantar, mendorong ia nekat mengasuh mereka semua.

a�?Totalnya waktu itu ada sekitar 30 anak yatim dan telantar,a�? kenangnya.

Tetapi tentu bukan perkara mudah menghadapi karakter dan psikologi anak yatim dan telantar. Mereka cendrung nakal dan semaunya. Nasir mengaku, harus melipat gandakan kesabaran menghadapi mereka.

a�?Karena itu, saat saya ajak mereka bergabung yang saya tekankan pertama adalah pelajaran akhlak,a�? imbuhnya.

Tantangan tidak berhenti di situ. Nasir juga harus menghadapi persoalan rumit. Biaya operasional dan makan anak-anak panti membuatnya pusing tujuh keliling. Namun dengan tekat baja, ia tetap gigih mencari cara.

a�?Sampai akhirnya saya putuskan berhutang, hanya untuk membiayai makan anak-anak. Tak terasa hutang saya sampai menembus Rp 1 juta saat itu,a�? tuturnya.

Angka Rp 1 juta, di tahun 1980 tentu bukan angka kecil.A� Saat itu dengan Rp 1 saja, masih cukup untuk beli beras satu canting.

Namun hutang bejibun, tak mengurangi niat ikhlas Nasir mendidik anak-anak malang itu. a�?Saya pun coba menggalang bantuan pada warga,a�? tuturnya.

Perjuangan gigih Nasir, membuat warga sekitar ikut tergerak. Mereka secara sukarela membantu Nasir, walau hanya menyumbang satu canting beras yang dimasukan dalam plastik. Tapi setidaknya, itu cukup membantu agar ia tak menambah hutang lagi.

a�?Kalau ada lebih sisa beras, saya jual untuk bayar hutang,a�? imbuhnya.

Beberapa warga sekitar ikut membantunya. Cerita gigih Nasir dan rekan-rekannya, akhirnya sampai pada telinga Gubernur NTB saat itu, Gatot Suherman. a�?Beliaulah yang akhirnya menyarankan kami membentuk yayasan yang akhirnya diberi nama Al Ikhlas,a�? tuturnya.

Nama Al Ikhlas sendiri adalah titik temu antara dirinya dengan Gatot. Ia sendiri mengaku sebagai kader Nahdlatul Wathon (NW). Sementara Gatot masuk dalam kepengurusan Muhammadiyah. Karena serba tidak enak menonjolkan salah satu ormas, akhirnya lahirlah nama Ikhlas.

a�?Sebagai wujud tidak ada kepentingan di dalam lahirnya yayasan ini,a�? terangnya.

Sejak itu, perhatian provinsi mulai mengarah padanya. Maka sekitar tahun 90-an, berbagai upaya membangun relasi dan nama baik panti membuahkan hasil. Rizki tak disangka-sangka, ia terima dari yayasan milik Presiden Suharto kala itu.

a�?Mungkin ini berkah mengasuh anak yatim, saat itu panti saya dapat suntikan dana dari yayasan Darmais sebesar Rp 100 juta,a�? ungkapnya.

Dengan modal itulah, Nasir lalu membeli tanah seluas dua are. Lalu membangun fisik panti asuhan.

Jika mengenang masa itu, Nasir mengaku kerap ingin menitikan air mata. Bagaimana tidak, hampir sepuluh tahun ia bersama pengurus lain diuji kesabarannya.

a�?Saya dan anak-anak tidur di musala, lalu sebagian lagi harus dititipkan pada pengurus, makanpun susah bukan main,a�? kenangnya.

Tidak hanya membangun bangunan fisik yayasan, ia juga membangun fondasi ekonomi yayasan. Dengan membangun sebuah toko kecil. Toko itulah yang lantas dikemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya koperasi yang ia bina.

a�?Koperasi ini tidak hanya untuk tambahan pemasukan biaya anak-anak makan dan sekolah, tetapi juga membantu warga sekitar yang membutuhkan modal usaha, misalnya yang butuh modal Rp 2-5 juta,a�? jelasnya.

Nama besar Yayasan Al Ikhlas mulai menggema ke mana-mana. Bahkan hingga ke Lombok Timur di mana ia berasal. Tak hanya anak yatim, yayasannya membuka diri untuk anak telantar dan tidak mampu.

a�?Kami yang akan biayai dan sekolahkan mereka, hingga maksimal SMA dan sederajat,a�? terangnya.

Gigihnya Nasir mendidik anak yatim ternyata diakuinya karena ia telah memutus urat malunya. Demi anak-anak yang masih butuh harapan masa depan lebih baik, Nasir mengaku tak segan mendatangi rekan, baik yang bekerja di perusahaan swasta atau pejabat.

a�?Saya hanya berfikir bagaimana agar mereka tetap bisa makan dan sekolah saja,a�? ujarnya.

Makanya hanya dengan bermodal nama pejabat, ia nekat mendatangi ke kantor-kantornya. Lalu bercerita kondisi anak-anak yang butuh perhatian dan uluran tangan mereka.

a�?Bahkan awal kali membangun fisik panti, juga atas bantuan seorang sahabat yang beragama Hindu, dia berbaik hati menyumbangkan puluhan pohon kelapa untuk jadi tiang bangunan panti,a�? kenangnya.

Bagi Nasir masa depan anak-anak itu lebih penting dari rasa malu yang harus ditanggungnya sendiri. Apapun respon dari pejabat, dari yang terbuka sampai yang menolak, ia timpakan semua di dalam relung hatinya.

a�?Kalau nakalnya anak-anak panti, sudah biasa. Tapi, saya ingin tetap istiqamah pada niat saya, Lilahi taa��ala, semua hanya untuk mencari ridho Allah,a�? terangnya.

Ada satu kejadian yang tak pernah bisa ia lupa. Saat itu, ia ditimpa fitnah keji. Awalnya, ia pernah memarahi seorang anak asal Jerowaru, Lombok Timur. Anak itu lalu pulang ke kampung halamannya, lalu mengadukan dirinya, bawa ia juga dipukuli olehnya.

a�?Keterangan anak itu diperkuat oleh keterangan seorang guru yang pernah kami rekrut juga mengajar di sini dulu,a�? kenangnya.

Di luar dugaan, anak yang masih punya Ayah itu lalu mengundang salah satu pamswakarsa, untuk mengepung yayasannya. Lebih dari dua truk orang dengan senjata tradisional lengkap, menggeruduk yayasannya.

a�?Tapi saya berusaha hadapi dengan tenang, lalu saya minta bukti bahwa saya pernah memukul anak itu dan mana guru yang bersaksi pernah melihat saya memukul,a�? tuturnya.

Ia lalu menegaskan, walau dirinya sangat ditakuti anak-anak panti, tetapi bukan karena tangan dan kakinya yang menghukum. Namun disiplin yang ia terapkanlah yang membuat semua anak-anak panti asuhan segan padanya.

a�?Memukul anak yatim sama saja menyakiti hati Rasulullah SAW,a�? cetusnya.

Syukurnya, lanjut Nasir kejadian tidak melebar kemana-mana. Semua bisa diselesaian dengan damai dan penuh kekeluargaan. Setelah tuduhan padanya tak terbukti. Sementara guru yang memfitnahnya, lebih dahulu kabur.

Orang yang berhati emas, tidak hanya di panti asuhan Al Ikhlas. Salah satu pengurus panti asuhan Muhammadiyah Mataram Imawanto juga menceritakan bagaimana beratnya mengasuh dan mendidik anak-anak yanpa kasih sayang orang tua.

a�?Mereka melompat tembok, berkelahi, merkokok sampai mencuri juga ada, kesal sih kesal tapi kita kembali ingat mereka hanya anak-anak,a�? kata Anto.

Sekedar diketahui, Panti Asuhan Muhammadiyah berdiri sejak tahun 1958. Bisa dibilang ini adalah panti tertua yang ada di Lombok. Lahirnya panti ini sendiri kata Anto, sejalan dengan berdirinya Pusat Kesengsaraan Oemat (PKO) yang didirikan oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, sekitar tahun 1912.

a�?Semangat inilah yang menginspirasi para perintis panti ini dulu, lalu menerima berbagai macam kondisi anak,a�? terangnya.

Mulai dari anak-anak telantar, geladangan, kaum duafa, yatim dan yatim piatu diasuh dan dibesarkan di sini. Kebutuhan hidup mereka dipenuhi. Mulai dari sandang dan pangan. Begitu juga pendidikan semua ditanggung yayasan.

a�?Saya bergabung di sini sejak tahun 2006, masuk pengurus sejak tahun 2015,a�? terangnya.

Berbagai karakter dan prilaku anak telah ia hadapi. Bahkan, panti ini juga pernah menerima anak hasil hubungan di luar pernikahan. Waktu itu, kata Anto pihaknya juga sempat terkejut mendengar status anak itu.

a�?Namanya SR (inisial, Red), tetapi akhirnya kita terima juga. Saat diserahkan bidan yang mengasuhnya sejak kecil menyerahkan ke kami pada usia 7 tahun,a�? tuturnya.

Tidak mudah menggembalikan kepercayaan diri SR. Apalagi, ketika teman-teman sepanti, di waktu senggang saling bertutur tentang orang tuanya yang masih hidup. SR selalu murung dan kebingungan harus bercerita apa.

a�?Tetapi kami terus bangun kepercayaan dirinya,a�? terangnya.

Sampai akhirnya, SR diasuh oleh seorang penguasaha warung makan di Mataram. Oleh orang itu, SR lalu disekolahkan dan dianggap sebagai anaknya sendiri. Semata-mata untuk mengembalikan rasa percaya dirinya yang runtuh, karena menyadari anak dari hubungan yang dilarang agama.

Sebagai orang tua yang juga pernah ikut mengasuh, Anto mengaku bersyukur. Ada orang yang berbaik hati, berbagi tempat di dalam keluarganya. Hidup SR setidaknya saat ini lebih baik dari dulu. Setidaknya setelah ada kejelasan statusnya dalam keluarga angkatnya.

a�?Soal biaya oprasional, kadang tidak bisa dilogika, kalau dihitung-hitung sepertinya biaya pengeluaran selalu lebih besar dari pemasukan,a�? tuturnya.

Ia mencontohkan, satu anak saja minimal membutuhkan biaya Rp 500 ribu perbulan. Jika dikalikan dengan 30 anak maka, pengeluaran perbulan mencapai Rp 15 juta perbulan.

a�?Kalau pengurus gak ada honor, tidak ada dapat apa-apa, hanya yang bermental pengabadian saja,a�? ungkapnya.

Tetapi selalu saja ada jalan untuk menutupi kebutuhan operasional. Bagi Anto, ini salah satu bukti betapa ajaib mengurus anak yatim. Selalu ada jalan yang diberikan Sang Maha Kuasa.

a�?Lebih dari 59 tahun panti ini berdiri, syukurnya tidak pernah pailit,a�? tandasnya.

Tokoh sepuh wanita yang juga pendiri Panti Asuhan Hidayah Kerniasih menceritakan juga pengalaman mengejutkan saat panti yang dibangunnya mendapat titipan bayi baru lahir.

a�?Suatu ketika ada mobil plat merah datang membawa orok (bayi baru lahir, Red), masih merah,a�? tutur Kerniasih.

Bayi itu lalu diserahkan pada salah satu penjaga panti. Tentu saja, kehadiran bocah tak berdosa itu, mengejutkan para pengurus yang notabene para ibu pejabat di pemerintah provinsi dan Lombok Barat kala itu.

a�?Akhirnya, kami putuskan merawat anak tak bedosa itu,a�? terang istri dari HL Mujitahid ini.

Orok yang diberi nama N (inisial, Red), kini tumbuh besar menjadi gadis cantik. Ia bergaul dan berbakti pada panti. Lalu ikut membantu orang tua asuhnya memberi perhatian pada anak-anak malang yang diasuh di panti asuhan Hidayah.

a�?Setiap anak itu ulang tahun, sampai saat ini selalu dikirimi kado oleh seseorang,a�? ungkapnya.

Kerniasih menduga, pengirimnya adalah orang tua dari N. Sampai saat ini, orang tuanya masih enggan menunjukan diri siapa dirinya.

a�?Iya mungkin N hasil hubungan tidak baik (selingkuh), tetapi ibunya, itu masih ada sedikit rasa bersalah sehingga setiap ulang tahun mengiriminya kado,a�? tuturnya.

Tetapi bagi Kerniasih, N tetaplah gadis suci dan bersih. Ia tak akan pernah menanggung dosa yang dilakukan ibunya. Ia berharap suatu ketika, orang tua N, mau menampakan diri di depan anaknya. Dan mengakui kesalah yang pernah dibuatnya.

a�?Setidaknya untuk mengobati perasaan sedih anaknya, yang sejak kecil tidak pernah tahu seperti apa orang tuanya,a�? tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka