Ketik disini

Headline Metropolis

Bandara Bima Jadi Target Terorisme

Bagikan

MATARAM-Terduga teroris yang tertangkap di Kabupaten Bima, akhirnya tiba di Mako Brimob Polda NTB, dini hari kemarin (19/6). Kedatangan mereka dikawal ketat Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror.

Upaya pemberantasan aksi teror yang dilakukan Tim Densus 88 berhasil menahan tiga orang warga berinisial, KU, 23 tahun; NH, 21 tahun; dan RA, 35 tahun. Dua nama pertama ditangkap di Desa Dore, Kecamatan Palibelo. Sedangkan RA ditangkap di Pelabuhan Bima.

Bersama ketiga terduga teroris ini, Tim Densus 88 turut membawa barang bukti. Antara lain, satu bom rakitan yang masih aktif dan puluhan item bahan untuk membuat bom. Keseluruhan barang bukti itu ditemukan di rumah KU.

Wakapolda NTB Kombes Pol Imam Margono mengatakan, KU telah ditetapkan sebagai tersangka. Barang bukti yang ditemukan telah memenuhi unsur perbuatan tindak pidana terorisme.

a�?Mereka merencanakan penyerangan personel dan Mapolsek Woha dengan bom rakitan,a�? kata Imam, kemarin.

Setelah ditangkap, KU memberikan sejumlah keterangan kepada polisi. Termasuk pengakuannya yang menjadi bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daullah Bima. Menurut polisi kelompok ini berafiliasi dengan ISIS.

Bom rakitan yang ditemukan, juga hasil kreasinya. Kata KU, keahlian merakit bom didapatkan dari video yang dirilis ISIS melalui link di grup telegram Bahrun Naim. Dari sana, dia berhasil merakit bom dengan bahan peledak TATP (triacetone triperoxide). Daya ledaknya masuk dalam kategori high explosive.

Diketahui, teror bom di Kampung Melayu, Jakarta, dari bahan peledak yang sama, yakni TATP. Dari keterangan Wakapolri Komjen Syafruddin yang dilansir jawapos.com, bom dengan bahan TATP sangat berbahaya. Daya luncurnya mencapai 5.100 meter per detik.

Bahan TATP itu kemudian rangkaikan dengan modifikasi elektronik menjadi switching bom rakitan dari handphone.

Sebelum tertangkap, KU rupanya telah berniat melakukan percobaan peledakan. Lokasinya di jalan lintas Desa Dore, Talabiu. Jika percobaan itu sukses, maka akan dilanjutkan dengan aksi teror lainnya.

a�?Rencananya menyerang mapolsek Woha dengan cara melempar bom rakitan. Tapi syukur karena lebih dulu ditangkap,a�? jelas Imam.

Lebih lanjut, KU merupakan jaringan teror kelompok Penatoi di bawah pimpinan Iskandar. Selanjutnya pada 2014, KU bergabung dengan kelompok Santoso di Poso untuk melaksanakan pelatihan militer.

a�?Setelah dari Poso, dia kembali lagi ke Bima dan bergabung dengan Jamaah Ansharut Daullah,a�? katanya.

Untuk dua tersangka lainnya yakni NS, kata Wakapolda, yang bersangkutan berperan sebagai pembeli bahan kimia untuk membuat bom. Bahan yang telah dibeli, kemudian diserahkan kepada KU.

Sementara RA, sepak terjangnya di kelompok ideologi garis keras, tak jauh beda dengan KU. Dia juga termasuk dalam kelompok Penatoi pimpinan Iskandar. Kemudian RA bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia barat (MIB).

Selama tergabung dengan MIB, RA didugaA� terlibat perampokan di Kantor Pos dan Giro Ciputat, Tangerang Selatan, pada 2013 silam. Dia juga sempat menyembunyikan Satrio alias Indra Jendol, DPO Densus 88.

Imam Margono mengatakan, tertangkapnya tiga terduga teroris menjadi bukti adanya ancaman teroris di wilayah NTB. Sehingga memerlukan kewaspadaan dan keaktifan anggota polisi dalam melakukan pengamanan.

a�?Kita harus waspada. Daya cegah dan daya tangkal dari aksi terorisme adalah dengan membangun toleransi,a�? kata Imam.

Mengenai target aksi teror dari KU, Imam mengatakan, keterangan sementara menyebutkan jika sasaran mereka adalah pengeboman di markas kepolisian. Selain itu, Bandara Bima masuk dalam rencana aksi mereka.

a�?Polsek Woha dan Polres Kabupaten disasar mereka. Termasuk personil Polri. Tujuannya untuk merebut senjata api,a�? ungkap perwira tiga mawar ini.

Imam menjelaskan, pihaknya hanya mengorek keterangan awal saja. Selanjutnya, Mabes Polri akan menangani tiga terduga teroris ini.

a�?Kita akan kirim ke Jakarta. Tapi masih menunggu informasi dari Jakarta dulu,a�? pungkas Imam

Ditemukan Senjata

Sementara itu, di rumah KU, di Desa Dore Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, ditemukan senjata api rakitan. Temuan itu didapat polisi saat menggeledah kembali untuk mencari bukti tambahan Senin siang (19/6).

Pantauan Radar Tambora (Lombok Post Group), sejumlah personel Polres Bima Kabupaten dan Brimob Den A Bima diturunkan di lokasi tersebut. Penggeledahan dipimpin langsung Kapolres Bima Kabupaten AKBP M Eka Fathur Rahman didampingi Danki Brimob Den A Bima.

Penggeledahan berlangsung satu jam. Saat penggeledahan berlangsung, personel Brimob ditempatkan di tiap sudut rumah. Termasuk di halaman belakang rumah KU. Awak media hanya diperbolehkan mengabadikan hal tersebut dari jauh.

Sebelum penggeledahan, tim penjinak bahan peledak mengecek semua sisi rumah. Kemudian dilanjutkan Kasat Reskrim bersama Tim Identifikasi Polres Bima Kabupaten. Polisi terlihat ke luar dengan membawa sejumlah barang bukti.

Penggeledahan dilanjutkan di lokasi KU berjualan. Yakni di pertigaan Cabang Talabiu Kabupaten Bima. Penggeledahan tersebut menarik perhatian masyarakat dan pengguna jalan raya. Arus lalu lintas di pertigaan Talabiu mendadak macet.

Kapolres Bima Kabupaten AKBP M Eka Fathur Rahman SIK menjelaskan, di lokasi jualannya ditemukan alat peredam senjata.

Selain senpi rakitan, polisi juga menemukan buku yang berisi tentang amaliah. Dalam buku tersebut sudah dibuatkan skema target sasaran. “Dimana sasarannya dan siapa yang jadi target ada ditulis dalam buku ini. Lengkap semuanya,” tambah Eka.

Penjual Ayam Potong

KU, merupakan penjual ayam potong dan es keliling. Di rumah setengah permanen berlantai tanah, KU tinggal bersama seorang istri dan dua orang buah hatinya.

Pantauan Radar Tambora, dua hari pasca-penangkapan KU oleh Densus 88, garis polisi terlihat melingkari halaman rumah KU. Rumah tersebut terlihat sangat sepi. Penghuni tidak terlihat berada dalam rumah itu.

Sekilas tidak terlihat adanya perbedaan yang mencolok dari bapak dua anak ini. Sehingga tak seorang pun tetangga yang menduga, jika KR terlibat jaringan terorisme.

Sementara di bagian belakang rumah KU, terlihat banyak pohon jati. Di lokasi tersebut, ditemukan ban bekas yang digantung. Diduga biasa digunakan KU untuk latihan bela diri.

Sekretaris Desa Dore Idhar menuturkan, keseharian KU terlihat biasa saja. Ia hidup layaknya warga lain. Tidak ada kejanggalan yang menunjukkan jika ia merupakan anggota teroris. “Dia (KU, red) jualan ayam potong di sekitar rumahnya. Dia mulai jualan satu tahun terakhir,” jelas Idhar.

Sementara tetangga KR yang enggan menyebutkan namanya menuturkan, tidak tahu kapan KU menikah. Ia tiba-tiba melihat seorang perempuan bercadar yang keluar masuk rumahnya. Kemudian terlihat dua orang anak kecil.

Menurutnya, KU sehari-hari bersosialisasi cukup baik degan tetangga-tetangga. Tidak terlihat adanya sikap yang mencurigakan. Ia justru mengaku kaget ketika KU ditangkap anggota Densus 88.

“Memang kalau dari penampilan cukup Islami. Saya kurang tahu kalau masalah teroris itu. Katanya sih isterinya orang timur,” ujarnya.

Menurut tetangga KU, setiap hari Jumat KU selalu ke luar dari Desa Dore. Ia hampir tidak pernah melaksanakan Salat Jumat di Desa Dore.

“Saya tidak tahu kemana dia pergi. Yang jelas tidak pernah Jumatan di sini,” jelasnya.

Sementara untuk NH, Sekdes Dore menuturkan, dia adalah mahasiswa dan kuliah di Mataram. Tidak diketahui aktivitasnya sebagai anggota jaringan teroris.

“Saya benar-benar kaget dan tidak menyangka semua ini,” ujar Idhar.

Hal senda juga disampaikan Kepala Desa Dore Nasaruddin HM Jafar. Ia mengaku tidak mengetahui ada warganya yang terlibat jaringan terorisme. Bahkan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) terkait kasus terorisme dan pelarian dari Poso.

“Saya tidak tahu sama sekali. Dia (KR, red) masih keponakan saya. Memang sedikit beda, tapi tidak begitu mencolok. Penampilannya dengan isteri cukup Islami,” jelasnya.

Menurut Nasaruddin, ada aktivitas lain dari KU selain jual ayam potong dan es keliling. Yakni melakukan latihan bela diri menggunakan pedang di halaman belakang rumahnya.

“Latihan karate belakang rumah itu sering dilakukan. Dia berlatih sendiri dan banyak warga yang melihat,” ujarnya.

Pasca KU diamankan, warga sekitar mengaku rumah tersebut sepi. Isteri KR bersama anak-anaknya tidak tinggal di rumah itu.

“Rumah itu sepi sejak Sabtu malam. Mungkin mereka tinggal di rumah mertuanya,” ujar tetangga KR. (dit/yet/LPG/r2/r8)

Komentar

Komentar

Tags: