Ketik disini

Feature Headline

Kisah Sapakira, Toko Buku asli Ampenan yang Eksis Sejak Zaman Penjajahan

Bagikan

Sapakira! Toko buku ini masih bertahan hingga kini. Eksis sejak zaman penjajahan, siapa yang mengira kalau toko buku ini berusaha menolak gulung tikar di tengah kemajuan teknologi.

***

Deretan rumah kuno berjejer di salah satu gang kecil di Ampenan. Rumah-rumah itu kebanyakan ditinggali oleh warga keturunan Arab.

Salah satu bangunan di lokasi itu, ternyata toko buku. Nama toko itu Sapakira. Di dalam toko itu, sejumlah buku dan kitab berjejer rapi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

“Alhamdulillah, meski zaman terus berkembang, teknologi semakin maju, namun buku-buku Islam di toko Sapakira ini tiap tahunnya terus meningkat,a�? kata Nanang Marwan, pemilik toko buku Sapakira, kemarin.

Menurut Nanang, toko buku ini dirintis sebelum Indonesia merdeka. Tepatnya, menjelang berakhirnya masa penjajahan. “Sebelumnya toko ini berada di dalam Pasar ACC. Dulu bapak saya yang rintis,a�? kata Nanang.

Kini, ia dan saudaranya yang melanjutkan pekerjaan tersebut. Lelaki yang merupakan anak ke delapan dari delapan bersaudara tersebut mengaku, toko tersebut telah terkenal sejak dirinya masih kecil.

a�?Awalnya, toko ini hanya menjual kitab-kitab tua saja, tapi kini semakin meluas,a�? ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai arti dari nama toko tersebut, Nanang mengaku tidak tahu. Namun ia menegaskan, Sapakira tidak pernah berganti nama. “Ya, tidak pernah ganti nama. Dari zaman orang tua saya, nama toko ini tetap Sapakira,a�? terangnya.

Begitupun dengan buku-buku yang dijual. Tidak pernah berubah. Yakni buku-buku Islami. Mulai dari yang berbahasa Indonesia, huruf Arab, hingga “kitab gundul”.

“Yang sering dibeli oleh warga Kota Mataram itu yakni, Kitab Matanjurmiah, Kitab Matan Tarqib. Kebanyakan santri pondok-pondok pesantren yang datang membeli di sini, dalam sekali beli, mereka memesan lebih dari ratusan kitab,a�? bebernya.

Meski berada di gang sempit, namun tiap hari ratusan pembeli datang. “Kita buka mulai pukul 08.00 Wita hingga menjelang azan zuhur, dan akan dibuka kembali pada pukul 14.00 Wita hingga pukul 15.30 Wita. Kembali buka usai salat Asar dan tutup sebelum azan Magrib,” terangnya panjang lebar.

Menurut Nanang, konsumen toko buku miliknya ini tak hanya dari Lombok. Tapi juga luar Lombok. “Mereka katanya tahu dari mulut ke mulut,” ungkapnya.

Meski kini teknologi semakin canggih, Nanang mengaku tidak pernah khawatir toko bukunya akan sepi. Sebab, ia selalu percaya terhadap petuah dari orang tuanya.

“Ayah saya biliang, rezeki itu akan datang kapan saja, ketika umat manusia melakukan usaha dengan ikhlas dan mengharap ridho Allah SWT,” ungkapnya.

Petuah Ayahnya itu seakan menjadi vitamin bagi Nanang. Tiap kali ingat kata-kata itu, ia menjadi lebih bersemangat dalam menjalankan usahanya.

“Walau bersaing dengan perkembangan zaman, tapi tiap tahunnya buku-buku di sini buktinya semakin meningkat jumlah peminatnya,a�? jelasnya.

Sekadar informasi, bagi pembaca yang ingin berkunjung ke Toko Buku Sapakira, bisa berpatokan di Jalan Energi, Ampenan. Karena tempatnya di gang sempit, maka setelah sampai di Jalan Energi, pengunjung harus bertanya ke warga sekitar. Dan warga di sana pasti menunjukkan lokasinya. Bahkan tidak jarang mengantar sampai ke lokasi toko buku tersebut. (NATHEA CITRA SURI, Mataram/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka