Ketik disini

Headline Sumbawa

Istana Bala Putih Sumbawa Ludes Dilalap si Jago Merah

Bagikan

SUMBAWA-Warga Kota Sumbawa gempar. Wisma Daerah Sumbawa ludes dilalap si jago merah, kemarin (11/7). Hingga saat ini, penyebab kebakaran gedung bersejarah itu masih sumir. Tak ada korban jiwa. Namun, jumlah kerugian sudah pasti sangat besar.

Api mulai diketahui pada pukul 10.00 Wita. Diduga kuat, api berasal salah satu ruangan lantai II di sebelah timur bangunan tersebut. Sukriman, salah seorang sopir yang kebetulan berada di lokasi sebelum kebakaran, mengaku mendengar suara ledakan. Dia perkirakan asal ledakan dari ban mobil Setelah dicek ternyata bukan.A� Secara tak sengaja ia menengadah ke atas tepat di bangunan wisma, ia melihat api mulai membumbung dari belakang bagian timur istana tersebut.

BACA JUGA :[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”7″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”87″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Spontan dia mengajak para pekerja lain untuk memadamkan api. Awalnya, api berhasil dipadamkan menggunakan tabung pemadam kebakaran. Tapi, ternyata api sudah menjalar ke mana-mana. Dia kembali mencoba memadamkan api. Namun, mereka kewalahan. a�?a��Kami kewalahan dan tidak bisa memadamkan apinya. Baru kemudian kami meminta tolong pada yang lainA� dengan kepanikan tinggi berusaha menghubungi siapa saja yang ada di sekiyar wisma,a�? ujarnya.

Bersamaan dengan itu pula,A� masyarakat di sekitar bangunan, dari Kelurahan Seketeng, Brang bara langsung merapat ke lokasi kebakaran. Empat mobilA� dari Dinas Pemadam Kebakaran dan satu unit Mobil water Cannon polisi dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Namun kobaran api semakin mengganas dan melalap ludes bagian tengah, kemudian menjalar ke bagian depan.

Api yang berhasil dikuasai sekitar pukul 11.30 hampir tak menyisahkan bangunan, kecuali bagian tembok depan dan samping. Sementara bangunan atas di seluruh ruangan habis. Dan beberapa kamar di lantai bawah. Hanya terlihat satu kamar yang utuh. Kamar tersebut dulunya merupakan ruangan kerja Sultan Kaharuddin III, Muhammad Abdurrahman Daeng Raja Dewa.

Masyarakat a�?a��menyayangkana��a�� bangunan yang memiliki catatan sejarah penting bagi tau dan masyarakat Kabupaten SumbawaA� ituA� terbakar Karenanya dalam waktu seketika ribuan masyarakat menyaksikan dari dekat banguan yang masuk dalam cagar budaya tahun 1980 ini. Bagi masyarakat yang tak sempat melihat kejadian dari dekat, hingga pukul 18.00 Wita kemarin, masyarakat banyak yang mengambil gambar untuk diabadikan, meski tinggal bangunan yang sudah tak utuh dan bekas bara api.

Selain itu saat kejadian juga menimbulkan kekagetan bagi pejabat daerah. Misalkan Wakil Bupati Sumbawa H Mahmud Abdullah yang pada saat kejadian sedang berdinas, langsung menuju lokasi. Nampak juga Sekda Sumbawa H Rasyidi. Kapolres Sumbawa AKBP Yusuf Sutejo, Kajari Sumbawa, Paryono beserta sejumlah kepala SKPD juga terlihat di lokasi. Bahkan seluruh anggota DPRD Sumbawa yang kemarin berkantor langsung mendatangi wisma daerah. Saat kejadian, bupati Sumbawa sedang berada di Singapura sejak dua hari lalu untuk menjalani perawatan medis pasca operasi.

Penyebab Belum Dipastikan

Terjadi di siang bolong, musibah ini pun menyedot perhatian masyarakat luas. Wakil Bupati Sumbawa H Mahmud Abdulllah mengatakan akan memikirkan langkah pasca kebakaran Untuk saatA� ini kata dia, secara pribadi belum bisa meentukan sikap. Hanya saja ia mengaku prihatin atas kejadian yang tak pernah disangka-sangka itu. a�?a��Namun yang pasti kami atas nama pemerintah daerah akan menggelar pertemuanA� khusus atasA� musibah ini,a��a��katanya.

Semetara itu, Sultan Sumbawa DMA Kaharuddin, pada harian ini kemarin mengaku cukup kaget ketika menerima informasi kebakaran pertama kali. Dan kekagetan itu, sempat dikaitkan dengan keresahan, kegelisahannya sejak dua hari lalu.

a�?Sejak dua hari lalu, persaaan saya tak enak. Tak mengetahui gambaran apa yang dirasakannya. Hanya dirinya sempat menginformasikan ke Permaisuri Andi Tenri Djadjah. a�?a��Saya katakan kok firasat tidak enak. Mudah-mudahanA� tidak ada persoalan krusial di Kabupaten Sumbawa,a�? katanya.

Begitu saya terima kabar wisma daerah terbakar, serta merta dirinya berpikir, kemungkinan besar itulah makna perasaan yang tak nyaman itu. a�?Bagaianapun juga saya sempat berada di wisma itu sebelum kemudian ayah saya menghibahkan ke pemerintah daerah. Saya punya catatan dimasa kecil saat berada di wisma. Jadi sangat melekat dengan diri saya,a��a��katanya.

Terkait dengan hal tersebut, Sultan meminta semua pihak untuk melihat bahwa kebakaran itu memang kejadian alam. Dan masalah kebakaran itu bukanlah hal yang baru. Dan pernah kejadian juga pada masa sebelumnya. Namun yang terpenting sekarang bagaimana solusi yang harus di lakukan.

a�?a��Whata�?s next- nya.A� Ini yang memang harus dilakukan oleh pemerintah sekarang ini, untuk apa yang akan dilakukan selanjutnya dengan wisma tersebut. Ia berharap, agar bisa dilakukan restorasi, mengembalkan ke awalnya,a��a��harap Sultan.

Terkait dengan salah stau ruangan yang nampak masih utuh, Sultan menjelaskan bahwa itu adalah ruangan bekas tempat kerja ayahnya. a�?a��Kami menyebut ayah itu Jaja. Jadi ruangan yang tak terbakar itu tampat kerja Jaja saya dulu, (Sultan Kaharuddin III). Apalagi ada bangunan yang tak terbakar, harap direstorasi saja. Teknisnya, pemerintah daerah yang memahami,a��a��katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbawa Zainal Abidin mengatakan hanya empat mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan. Secara bergantian, mobil terus digunakan untuk memadamkan api. Dia mengaku kewalahan dari segi armada. Karena Satdamkar memang kekurangan mobil pemadam kebakaran. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya untuk memadamkan api.

Dia mengatakan, sebetulnya, ada tujuh armada yang dimiliki Satdamkar Sumbawa. Namun, dua unit di antaranya rusak berat. Pihaknya sudah mengajukan proposal untuk mendapatkan mobil pemadam sebanyak 15 unit. Namun, belum terealisasi. Bantuan dari Kemendagri pun juga diupayakan. a�?Terkait apa penyebab kebakarannya kami belum tahu pasti. Nanti kami akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian,a�? kata dia.

Sementara itu, Kapolres Sumbawa AKBP Yusuf Sutejo mengatakan, pihaknya langsung menggelar penyelidikan menyusul musibah tersebut. Dipastikan tim forensik dari Polda NTB akan olah TKP.

Menurut kapolres, harus dilakukan penyelidikan lebih mendalam atas kasus kebakaran ini. Sejauh ini, pihaknya belum mau berkomentar terkait apa penyebab kebakaran ini. Karena harus ada penyelidikan terlebih dahulu.

Kabag Humas Setda Sumbawa M Lutfi Makki mengungkapkan, tidak ada kegiatan masak-memasak di Wisma Daerah sebelum kejadian. Sejauh ini, pihaknya juga masih belum bisa memastikan apa penyebab kebakaran tersebut. Pihaknya juga tidak bisa mengatakan bahwa kebakaran ini akibat arus pendek listrik. Namun, sebelum kejadian memang sempat terjadi byarpet beberapa kali.

Dalam kejadian ini, kerugian material yang diderita masih belum diketahui. Sebab, kerugiannya masih dihitung. Barang-barang bersejarah di dalam bangunan itu juga sudah dipindahkan ke Istana Balaa�� Kuning. Rencana kedepan akibat kejadian ini juga masih belum bisa dibicarakan. Sebab, akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu.

Gedung Bersejarah

Wisma Daerah Sumbawa ini adalah gedung bersejarah di Sumbawa. Gedung ini dikenal dengan sebutan istana Balaa�� Puti.

Istana ini dibangun tahun 1931 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III. Bangunan ini kemudian digunakan oleh Sultan Muhammad Kaharuddin III Bersama permaisurinya, yakni Putri Khadijah.

Istana Bala Putih juga dikenal dengan nama Wisma Praja, a�?Bale Jama�� atau a�?rumah loncenga��. Hal itu dikarenakan keberadaan lonceng besar di bagian depan kompleks. Wisma Praja adalah bangunan yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sumbawa. Di sinilah kantor terakhir Sultan Sumbawa, yakni Sultan Muhammad Kaharuddin III sebelum pindah ke Balaa�� Kuning.

Menurut peneliti sejarah Sumbawa Syahabuddin Hamid Wisma Daerah dibangun dengan gaya eropa. Adapun arsiteknya adalah seseorang yang bernama Raden Tursino. Sebelumnya, Sultan Muhammad Kaharuddin III tinggal di Istana Tua atau Dalam Loka. Setelah Wisma Daerah terbangun pada 1934, sultan dan permaisurinya langsung pindah ke Wisma Daerah.

Bangunannya, menyerupai Wisma Praja yang ada di Bima. Mengingat, isteri dari Sultan Muhammad Kaharuddin III merupakan putri dari Sultan Bima, yakni Sultan Salahuddin. Setelah masa pemerintahan, istana ini diserahkan kepada Pemda Sumbawa untuk penggunaannya. Diperuntukkan bagi kegiatan pemerintahan ataupun untuk menjamu sejumlah tamu penting.

Kabag Umum Setda Sumbawa Arfansyah mengatakan, saat ini Wisma Daerah Sumbawa digunakan untuk kegiatan pertemuan Pemda Sumbawa. Juga sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting yang berkunjung. a�?Terakhir tamu yang kami jamu itu Ketua MPR Zulkifli Hasan, Senin (10/7) malam. Namun dia tidak menginap,a�? terang Arfan.

Dia memaparkan, pada Senin siang selain Ketua MPR, pihaknya sempat menjamu sejumlah tamu penting lain. Yakni mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Ketua Komisi VIII DPR RI Ali Taher.

Sejumlah tamu daerah yang pernah menginap di Wisma Daerah Sumbawa yakni Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Bahkan, Mensos menginap sampai dua kali saat kunjungannya ke Sumbawa. Gubernur NTB, Asisten Intel Pangdam IX Udhayana dan beberapa tamu penting lainnya juga pernah dijamu di Wisma Daerah.

Dijelaskan, biasanya tamu daerah dijamu dan menginap di Wisma Daerah Sumbawa. Pihaknya juga menyediakan kamar VIP bagi tamu pemda di lokasi tersebut. Sebagai Kabag Umum yang baru, pihaknya mengikuti hal yang dilakukan para pendahulunya. Kebetulan, lokasi tersebut juga sangat representatif untuk tamu daerah. Karena fasilitas ruangannya sekelas Hotel Bintang Tiga. Selain itu, sejarah di Wisma Daerah Sumbawa juga yang menarik minat para tamu daerah untuk menginap.

Sementara itu, salah seorang inisiator Sumbawa ke Jajaran Kota Pusaka, Syamsu Ardiansyah mengungkapkan, Wisma Daerah Sumbawa pernah digunakan untuk berbagai kegiatan besar pada masa lampau. Salah satu kegiatan yang pernah dilaksanakan adalah pertemuan Negara Indonesia Timur (NIT).

Selain itu, Presiden RI pertama Soekarno juga pernah datang menemui Sultan Muhammad Kaharuddin III. Pertemuannya juga dilaksanakan di Wisma Daerah Sumbawa. Tujuan pertemuan ini untuk melobi para raja yang berada di Indonesia Timur. Mengingat, saat itu Sultan Muhammad Kaharuddin III menjabat sebagai Ketua Parlemen NIT.

Saat Sultan Kaharuddin III Sumbawa merayakan 15 tahun bertahta, dia mengundang berbagai tamu dari sejumlah negara di Eropa. Perayaannya juga dilaksanakan di Wisma Daerah Sumbawa.

Kini bangunan bersejarah itu hanya tersisa puing-puing. Apa yang menimpa bangunan yang tak ternilai harganya tersebut harus menjadi pelajaran. Betapa bangunan bersejarah harusnya dijaga. (bia/run/en/LPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka