Ketik disini

Feature Headline

Kisah Zul KDI, Pedangdut Asal Lombok : Dari Panggung Megah, Kini Nyanyi di Panggung Nikah

Bagikan

Gemerlap dunia hiburan hanya mampir sebentar dalam hidup Zul KDI. Setelah lima bulan dipuja-puja sebagai artis dangdut ternama, hidupnya kembali menapak bumi. Dari bayaran Rp 20 juta sekali manggung di panggung megah, kini dia sudah cukup ketiban berkah, walau cuma rutin nyanyi di panggung nikah.

SIRTUPILLAILI, Mataram

SOSOK pria berambut pendek itu berdiri di pelataran ruko di kawasan Jebak Beleq, Dasan Agung. Penampilannya sangat sederhana. Cuma pakai kaos oblong dan sepatu kets berwarna merah, dipadu tas kecil yang disampirkan ke belakang.

Selama berdiri di sana, ia banyak melempar senyum kepada orang-orang di di sekitarnya. Mulai dari penjaga toko hingga tukang parkir. Tak banyak yang hirau padanya.

Lelaki itu adalah Faizul Bayani. Panggung artis hiburan tanah air mengenalnya dengan nama Zul KDI.

Dan begitulah Zul kini. Tak lagi rutin tampil di televisi, membuat banyak yang tak mengenalnya. Terlebih penampilannya yang teramat biasa. Macam pemuda kebanyakan. Sungguh, tak ada yang menyangka, bahwa Zul yang berdiri di depan toko di Dasan Agung itu, tadinya adalah pesohor yang pernah menggebrak panggung belantika musik dangdut tanah air.

Bahkan Ahmad, tukang parkir di toko itu tidak menyangka pria itu adalah Zul, sang artis KDI Star. Padahal, saat 2010 lalu, Ahmad adalah penggemar berat Zul KDI. Tak satupun penampilan Zul di televisi dilewatkan Ahmad.

Dia tahu bahwa Zul adalah penyanyi dangdut asal Lombok Barat tapi tidak menyangka pria yang dari tadi senyum kepadanya adalah Zul KDI yang pernah ditontonya di televisi.

Jika dibandingkan dengan tujuh tahun lalu, penampilan Zul jauh berubah. Dulu ia disambut meriah dan menjadi pusat perhatian orang. Sekitar tahun 2011 wartawan Lombok Post sempat mengikuti kemeriahan penyambutannya di kampung halamannya di Perempung, Gunung Sari, Lombok Barat. Ia datang bersama bintang-bintang KDI lainnya. Saat itu semua orang mengelu-elukan Zul.

Kini kondisinya berbalik. Zul kembali menapak bumi. Seperti orang biasa kebanyakan. Macam kita-kita.

Penampilannya sangat sederhana. Bahkan saat Lombok Post menemuinya, ia hanya menunggangi sepeda motor supra yang sudah didandani. Auranya sebagai A�bintang KDI hampir tidak lagi melekat dengan penampilan yang sesederhana itu.

Tapi Zul sosok yang ramah. Anak kedua dari 11 bersaudara itu juga murah senyum. Di depan toko di Dasan Agung itu, dia banyak berbagi cerita. Sebetulnya dia tengah buru-buru. Salah satu kandidat calon bupati Lombok Barat berniat menggunakan jasanya bermenyanyi untuk kampanye mendatang. a�?Mau buat kesepakatan dulu sama teman di sana,a�? ungkapnya.

Meski sudah tak lagi tampil di televisi, Zul tak meninggalkan dunia menyanyi. Bedanya, panggungnya bukan panggung megah lagi seperti dulu. Ia bernyanyi keliling kampung di acara-acara pernikahan. Juga di rona-rona. Kalau ada hiburan rakyat juga ia kerap diundang menyanyi. Sesekali di acara desa dan kampanye calon legislatif.

Tapi dari semua itu, paling banyak ia manggung keliling kampung bila ada orderan dari pasangan yang menikah. Dalam seminggu ia mengaku bisa dapat oerder dua sampai tiga kali dari pernikahan satu ke pernikahan lainnya.

Meski hanya menjadi penyanyi keliling, Zul mengaku tidak merasa malu. Karena ia menjalani pekerjaan itu dengan ikhlas dan niat mencari rezeki halal. Jangan tanya bayarannya. Jauh menurun dibandingkan saat masih terkenal dulu.

Dulu, tarifnya di Jakarta bisa puluhan juta sekali manggung. Awal mula saat pulang kampung, awalnya bayaran juga lumayan besar. Bisa Rp 10 juta setiap kali manggung. Tapi, belakangan seiring waktu bayarannya kemudian menurun. Paling besar kisarannya hanya Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta.

Saat sepi order, Zul kerap nongkrong di bengkel las milik kakaknya di Gunung Sari. Tapi ia mengaku tidak bekerja di sana. a�?Saya masih tetap jadi penyanyi. Kebanyakan di acara pernikahan,a�? katanya.

Zul yang kini tinggal di rumah istrinya di Arong-Arong Timur, Dasan Agung mengaku tidak pernah menyesal pulang kampung dan meninggalkan Jakarta. Sebab, kehidupan di ibu kota menurutnya sangat berat. Selain persaingan antarartis yang sangat ketat, biaya hidup di sana juga sangat mahal.

Toh kini, meski penghasilannya tidak sebanyak dulu, tapi menurutnya hidup di kampung bisa lebih aman. Tidak khawatir gak makan. Dibandingkan di Jakarta, pengasilan memang bisa besar, tetapi biaya hidup mahal dan uang rasanya hanya numpang lewat.

a�?Saya hanya bertahan lima bulan di Jakarta,a�? akunya.

Setelah lepas dari acara MNC ia sempat bekerja di bawah manajemen artis di Jakarta, tetapi itu tidak bertahan lama. Karena persaingan sangat ketat, sulit mendapat order manggung. Apalagi yang dicari kebanyakan penyanyi perempuan sehingga ia tersisih. a�?Kecuali ada orang sini yang kita kenal di sana, mungkin bisa bertahan,a�? katanya.

Zul menuturkan, perjalannya menjadi artis awal-awalnya memang enak. Dari proses audisi di Lombok dan lolos ke Surabaya, kemudian ke Jakarta. Sampai akhirnya menguasai penggung hiburan dengan menjadi juara tiga kontes KDI Star tahun 2010.

Kala itu, tentu bahagianya bukan kepalang. Sebuah pencapaian yang masih terasa seperti mimpi, bisa merasakan menjadi seorang artis. Ia dipuja para penggemar dangdut, disanjung dan disambut bak raja saat pulang kampung. Pundi-pundi uang pun mengalir deras ke kantongnya.

Saat itu, ia merasa senang. Karena sekali manggung bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 20 juta. Tapi itu hanya sebentar sebelum akhirnya ia angkat koper dan memilih pulang kampung. Perjuangannya menjadi artis ternama pun kandas. Meski begitu ia masih menyimpan harapan untuk bisa berkarir lagi di Jakarta suatu saat nanti.

a�?Kalau ada audisi di acara lain mau saya ikut. Tapi itu baru rencana,a�? katanya.

Saat Lombok Post berkunjung ke rumahnya di Perempung, Lombok Barat, Jamilah, ibu Zul KDI berharap agar anaknya itu bisa hidup bahagia bersama anak dan istrinya saat ini. Meski tidak lagi seperti dulu, tapi ia sangat senang anaknya masih dihargai orang dengan diundang menyanyi bila ada acara-acara di kampung.

Jamilah menuturkan bagaimana perjuangan pihak keluarga untuk mendukung Zul agar bisa menang dalam KDI Star. Perjuangan itu tentu tidak pernah gratis. Untuk mendongkrak poling Zul pihak keluarga mengajak orang sekampung untuk mengirim sms dukungan. Bahkan kala itu, mereka sampai ngutang pulsa sampai Rp 50 juta agar bisa menjadi juara.

Beberapa kali juga ia ke Jakarta memberikan dukungan secara langsung, dan terus mendokan anaknya agar menang. Meski Zul akhirnya hanya menjadi nomor tiga, namun ibunya tidak kecewa.

a�?Luar biasa bangganya. Saya sangat bangga sebagai ibunya,a�? kata Jamilah mengenang saat anaknya manggung di Jakarta. (*/bersambung/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka