Ketik disini

Bima - Dompu Headline

Garam Naik Kasta !

Bagikan

DOMPU a�� Garam, bumbu masakan yang harganya murah tiba-tiba naik kasta. Walaupun bumbu ini sepele, tanpa garam semua masakan jadi hambar. Tak heran ketika harga garam naik, para penjual danA� ibu rumah tangga kelimpungan.

Kelangkaan garam awalnya terjadi di Pulau Jawa. Tapi, karena produksi garam di Pulau Sumbawa terbatas, akhirnya ikut berdampak.Kabupaten Dompu, Kota Bima dan Kabupaten Bima yang menjadi sentra produksi garam di NTB juga kena. Akibatnya, harga garam pun melambung tinggi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”579″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Parahnya, kelangkaan garam di tiga daerah ini bukan karena gagal panen atau kurangnya produksi. Tapi, kelangkaan terjadi karena garam Bima dikirim keluar daerah untuk menutupi kelangkaan di daerah lain.

Bahkan untuk mendapatkan garam tersebut, harga yang ditawarkan di tingkat petani tidak tanggung-tanggung. Yakni, Rp 120 ribu hingga Rp 150 per karung.

a�?Sebelumnya, harga perkarung biasa kita jual Rp 5 ribu sampai Rp 14 ribu,a�? ungkap Fendi, petani garam asal Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Dompu, Selasa (25/7).

Ditemui di lokasi tambak garamnya, Fendi mengaku kenaikan harga garam mulai terjadi satu bulan yang lalu. Pertama, harga yang ditawarkan pengepul di angka Rp 70 ribu per karung. Kemudian naik menjadi Rp 80 ribu, Rp 100 ribu hingga Rp 140 ribu.

a�?Naiknya bertahap. Hasil panen terkahir saya kemarin sebanyak 20 karung itu diborong Rp 3 juta,a�? katanya.

Fendi mengaku, selama kenaikan harga garam, sudah tiga kali ia melakukan panen. Panen pertama sebanyak 45 karung, kemudian 35 karung pada panen kedua dan 20 karung panen ketiga.

a�?Lebih kurang sudah 100 karung garam saya yang terjual dengan harga bervariasi,a�? tuturnya sambil mengumpulkan garam.

Hal senada juga dikatakan Amiruddin, petani garam asal Desa Pandai, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Dia mengaku, garam Bima saat ini memang menjadi incaran perusahaan luar daerah. Bahkan mereka harus berebut dan menawarkan harga fantastis agar bisa memperoleh garam.

a�?Ini suatu kesyukuran juga bagi kami petani garam,a�? ujarnya.

Menurutnya, harga garam tembus sampai Rp 150 ribu per karung. Menurutnya ini baru pertama kali terjadi. Tidak heran, warga berbondong-bondong A�alih profesi menjadi petani garam.

a�?Kadang sebelumnya kita jual sendiri garam di masyarakat. Tapi kali ini, pembeli yang turun langsung di lokasi tambak dengan harga yang lebih tinggi,a�? bebernya.

Namun, kelangkaan garam tersebut membuat masyarakat sekitar menjerit. Di Pasar Raya Dompu, harga garam lokal per bungkus ukuran 1 kg tembus sampai Rp 10 ribu. Padahal biasanya, harga satu bungkus garam dengan keresek kecil Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu.

a�?Dua bulan lalu saya beli garam 1 karung ukuran 15 kg hanya Rp 10 ribu,a�? kata Sri Astuti, seorang pembeli di pasar setempat.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab naiknya harga garam. Menurutnya, kelangkaan garam terjadi ketika musim hujan atau gagal panen.

a�?Kita juga kan tahu sendiri, balakangan ini cuaca aman-aman saja,a�? tuturnya.

Meski harga garam naik, dirinya tetap membeli garam. Sebab, garam merupakan bumbu dapur yang sangat diperlukan.

a�?Mau gak mau harus beli,a�? katanya.

Tidak hanya masyarakat, kelangkaan garam yang terjadi di wilayah Bima Dompu juga menuai sorotan dari Anggota DPRD Dompu Andi Bachtiar. Politisi Partai Nasdem ini meminta pemerintah tidak menutup mata dengan persoalan tersebut.

a�?Kita berharap Dinas Perdagangan dua daerah ini bisa bekerjasama untuk memecahkan masalah itu. Minimal ada pengawasan di tingkat petani,a�? kata Andi, Rabu (25/7).

Menurutnya, kelangkaan garam perlu pengawasan ketat dari pemerintah. Jangan sampai garam yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan lokal, justru dijual keluar daerah oleh petani.

a�?Ini masalah serius yang harus segera disikapi. Jangan sampai masyarakat lokal dirugikan,a�? tegas Ketua Komisi I DPRD Dompu ini.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Disperindag Dompu H Iskandar mengaku A�baru mengetahui terjadinya kelangkaan garam beberapa hari lalu. Garam yang biasanya dijual keliling menggunakan mobil bak terbuka, belakangan ini sudah tidak A�ada lagi.

a�?Kita tahunya garam langka itu hanya di Pulau Jawa. Jadi kita tidak kepikiran kalau terjadi kelangkaan di Dompu. Apalagi produksi garam di wilayah Bima terus meningkat setiap tahunnya,a�? kata H Kendo, sapaan akrabnya.

Diakui, garam yang dijual di pasar tidak terlepas dari pengawasan pihaknya. Walaupun garam lokal tidak terdaftar dalam data sembako yang dilaporkan ke pusat.

a�?Naik turunnya harga garam lokal ini memang jarang kita publikasikan. Karena memang tidak masuk daftar sembako sesuai peraturan perdagangan,a�? jelasnya.

Meski demikian, perkembangan harga garam tetap menjadi tanggung jawab pengawasan seperti bahan baku lainnya.Untuk kasus kelangkaan seperti saat ini, harus segera diselidiki penyebabnya.

Menurutnya, naiknya harga barang akibat kelangkaan itu sudah biasa terjadi di pasar. Yang penting, dinas terkait bisa menyelidiki penyebab dari kelangkaan tersebut. Apakah karena gagal panen, penimbunan atau hal lain dan akan dicarikan solusinya.

a�?Nanti kita koordinasikan dengan dinas terkait di Bima dan turun langsung ke petani garam,a�? pungkas H Kendo. (jw/r4)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka