Ketik disini

Headline Metropolis

Hei, Perempuan Itu Bukan Samsak!

Bagikan

Kerap dianggap sebagai pelengkap, wanita terus menjadi sasaran kekerasan oknum pria. Dari kekerasan fisik hingga kekerasan mental dan ekonomi! Barangkali sudah saatnya menyuarakan kalimat: Perempuan Itu Bukan Samsak!

——–A�

PRIA itu mulai menyukai barang-barang haram. Penghasilan yang ia dapat sedikit demi sedikit mulai ia sisihkan untuk memuaskan nafsu giting-nya. Karena sudah terlanjur kecanduan, pria itu tidak bisa hidup tanpa obat-obat terlarang.

Rumah tangga perlahan namun pasti mulai goyah. Pria itu tidak pernah lagi memberikan nafkah bagi istrinya. Terang saja istrinya langsung berang. Cek-cok dari awalnya kecil mulai pecah. Hingga berlarut-larut membesar hingga pertengkaran hebat.

a�?Rupanya suaminya tidak pernah lagi menafkahi istrinya,a�? tutur Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Dewi Mardiana Ariany, saat menuturkan salah satu kasus yang pernah ditanganinya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Hanya karena istri dianggap sudah ada pekerjaan yang layak, pria itu enggan memberikan hasil jerih payahnya pada istri. Lambat laun, persoalan itu membesar ke mana-mana. Bahtera rumah tangga mereka mulai goyah. Hingga akhirnya, wanita itu menuntut cerai dari suaminya. a�?Ini salah satu bentuk kekerasan ekonomi,a�? imbuh Dewi.

Dewi merahasiakan nama pasangan itu. Tetapi yang jelas pihaknya sudah bekerja keras memediasi hingga akhirnya, membantu wanita itu agar tidak lagi mendapatkan tekanan dari suaminya. Apalagi persoalan itu semakin ruwet. Melebar ke mana-mana. Hingga tidak hanya ada kekerasan ekonomi, tetapi kekerasan fisik dan mental juga terjadi.

Seharusnya, lanjut mantan Badan Kepegawaian Dareah itu, walau istri punya pekerjaan layak, bukan berarti tanggung jawab suami selesai. a�?Bukan begitu, tetapi tetap harus memberikan (nafkah). Inilah yang disebut kerja sama dan sinergi. Ingat wanita dan pria itu punya kesetaraan gender,a�? tegasnya.

Ada tiga jenis kekerasan yang bisa didapat perempuan. Tiga kekerasan ini bisa dijadikan acuan untuk mempolisikan pria. Kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi. Tiga jenis kekerasan bentuknya bermacam-macam. Mulai pemukulan, perselingkuhan, seksual, hingga tidak memberi nafkah. Tidak hanya untuk istri, tetapi juga bagi anak.

a�?Data kasus yang kami tangani belum terlalu banyak karena (dinas) kami masih baru,a�? terangnya.

Tetapi jika diamati dari laporan kasus yang masuk ke Polres Mataram yang datanya juga masuk di DP3A, tren pelaporan cenderung meningkat. Data itu menurut Dewi justru bagus. Itu menandakan bahwa kesadaran perempuan akan hak dan keselamatan dirinya mulai membaik.

Sebab Dewi yakin, realita kekerasan pada perempuan lebih banyak di tengah masyarakat. Hanya saja tidak terungkap. Kesadaran wanita harus dibangun sehingga mereka berani melakukan perlawanan pada upaya-upaya intimidasi dan diskriminasi.

Kekerasan pada perempuan, sudah terlalu a�?membudayaa�� di tengah masyarakat. Hasilnya setiap kekerasan yang terjadi kerap memposisikan pria di atas sedangkan wanita selalu tertindas. Walau dalam suatu kasus misalnya, pria itulah yang salah.

a�?Pria masih dianggap nomor satu, padahal wanita dan pria itu setara. Di dalam agama juga diajarkan demikian, ini yang ingin kami ubah,a�? tegasnya.

Pihaknya terus membangun keyakinan dan keberanian bagi perempuan untuk melaporkan berbagai kekerasan yang diterimanya. a�?Kekerasan itu bisa datang dari suami, ayah kandung, kakek,a�? rincinya.

Realitanya membangun keberanian untuk melapor diakui Dewi cukup sulit. Beberapa perempuan sudah terlanjut mindsetnya menerima dirinya sebagai pendamping dan pelayan. Bukan sebagai orang yang memiliki kedudukan sama dengan pria. a�?Pola pikir ini sudah tertanam kuat dan sulit sekali diubah,a�? jelasnya.

Masyarakat banyak yang tidak bisa membedakan, mana yang disebut dengan gender dan mana kodrat. Sulitnya membedakan ini, akhirnya berdampak juga pada perlakuan pria pada wanita.

a�?Maaf kalau kodrat itu kan seperti alat kelamin yang berbeda antara pria dan wanita, itu tidak bisa diubah. Lalu di perempuan bisa haid, melahirkan. Ini adalah kodrat dan tidak bisa dilakukan oleh pria, begitu juga sebaliknya,a�? jelasnya.

Tetapi kalau gender, maka pria dan wanita seharusnya punya kesempatan yang sama untuk mengerjakannya dan berkarya. Misalnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, lapangan pekerjaan, warisan, dan berkarya. a�?Bukankah pria dan wanita memiliki derajat yang sama dihadapan Tuhan?a�? tandasnya.

Aktivis Perempuan NTB Nurjanah mengaku, kebanyakan laporan kekerasan pada perempuan ditemukan oleh kelompok konstituen yang dibinanya. Perempuan diakuinya masih banyak yang takut dan khawatir, jika nekat melaporkan suaminya, maka biduk rumah tangganya terancam goyah. Bahkan hancur.

a�?Kami masih banyak temukan persoalan ini di tengah masyarakat dari laporan konstituen,a�? terang Janah.

Wanita yang juga getol memperjuangkan Kasus Nuril yang terjerat UU ITE dan membetot perhatian publik kemarin itu masih melihat perempuan kota walau tergolong memiliki pengetahuan yang di atas rata-rata, ternyata masih banyak yang belum berdaya secara pengetahuan. a�?Masih banyak yang melihat kekerasan dalam rumah tangga, misalnya sebagai persoalan privat dan tidak boleh dibicarakan di ranah publik,a�? jelasnya.

Padahal harusnya tidak demikian. Kekerasan menurutnya tetap saja erat kaitannya dengan perbuatan pidana yang pelakunya harus diganjar dengan hukuman setimpal. Tetapi pola pikir lama dan menempatkan perempuan pada posisi nomor dua, sudah terlalu akut dan karatan di tengah kehidupan sosial.

a�?Lihat saja contoh kasus kuasa ekonomi selalu diletakan pada laki-laki, secara tidak langsung ini membuat pandangan wanita hanya sebagai pelengkap laki-laki,a�? jelasnya.

Padahal realitanya, wanita tak kalah heroiknya dengan pria. Ia mencontohkan sebagian besar pelaku ekonomi di pasar-pasar tradisional didominasi kaum hawa. a�?Coba lihat pasar Mandalika, pasar Kebon Roek, itu kebanyakan wanita,a�? tegasnya.

Ini menunjukan wanita sangat kuat dalam pengaruh ekonomi. Tetapi, tangguhnya wanita itu runtuh oleh hegemoni dan perspektif yang berkembang di tengah masyarakat. a�?Padahal kalau cerai saja, paling anak-anak diserahkan pada perempuan, sementara prianya dengan entengnya pergi,a�? cetusnya.

Wanita menurutnya punya sejuta daya survive yang kuat. Kesadaran inilah yang seharunya diperkuat pada wanita. Sehingga mereka, selalu siap menghadapi siatuasi di mana posisi mereka tidak menguntungkan dalam jalinan keluarga.

a�?Makanya kami apresiasi saat ini dimana kalau ada persoalan kekerasan pada rumah tangga, babinsa dan babinkamtibmas turun, kami apresiasi itu,a�? tegasnya.

Menurutnya, sudah saatnya perempuan dilindungi dari tindakan semena-mena. Bahkan perjuangan atas hak dan kedaulatan wanita, tidak lagi menjadi perjuangan kaum wanita saja. Tetapi menjadi fokus perhatian para pria yang sadar akan kesetaraan gender.

Wanita tidak boleh lagi jadi samsak atau target yang bisa dipukuli seenak perut pria. Dalam kasus kekerasan fisik misalnya. Mereka harus dihormati dan dihargai. Dipandang sebagai rekan kerja sama dalam membina biduk rumah tangga.

a�?Kami punya rekan pria yang juga ikut membantu dalam pembelaan hak-hak wanita. Menurut kami, ini adalah satu kemajuan,a�? tandas wanita berkaca mata itu. (zad/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka