Ketik disini

Headline Metropolis

27 JCH NTB Batal Berangkat

Bagikan

MATARAM-Sebanyak 27 jamaah calon haji (JCH) asal NTB dinyatakan batal berangkat melalui embarkasi Lombok tahun ini. Penyebabnya, beberapa orang jamaah meninggal dunia, ada juga yang batal karena tidak mampu melunasi sisa ongkos haji, dan pindah keluar daerah. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah, Kementerian Agama (Kemenag) NTB H Maad Umar, kemarin (30/7).

Meski demikian, secara keseluruhan persiapan pelaksanaan haji dinyatakan sudah siap. Tanggal 8 Agustus mendatang, panitia akan menggelar geladi sebagai persiapan terakhir pemberangkatan JCH. Kemudian Paspor JCH juga sudah dibuatkan semua, tinggal beberapa orang yang masih diuruskan karena ada pergantian terhadap 27 orang jamaah tersebut.

a�?Sedikit, tinggal penggantian yang meninggal saja,a�? kata Maad.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Tahun ini, jumlah JCH yang akan berangkat asal NTB sebanyak 4.559 orang, mereka akan dibagi dalam 11 kloter. Kloter pertama akan berangkat tanggal 12 Agustus asal Kota Mataram sebanayak 455 orang, kemudian tanggal 13 Agustus asal Lombok Tengah sebanyak 455 orang, 14 Agustus Lombok Timur 455 orang, 16 Agustus Lombok Barat 455 orang, 17 Agustus Lombok Timur 455 orang,A� 19 Agustus Lombok Tengah 455 orang, 20 Agustus jamaah campuran asal Sumbawa 349 orang, KSB 84 orang, Kota Mataram 17 orang.

Kemudian tanggal 22 Agustus asal Kabupeten Bima 361 orang, Dompu A�89 orang. Tanggal 23 Agustus asal Lombok Timur 167 orang, Kota Bima 167 orang, Lombok Tengah 95 orang, dan Kabupaten A�Bima 21 orang. Kloter gabungan lain 24 Agustus dari Mataram 174orang, Lombok Tengah 20 orang, Lombok Barat 184 orang, dan Lombok Utara 67 orang. Dan kloter terakhir tanggal 25 Agustus sebanyak 14 orang.

Maad mengatakan, dalam rapat koordinasi terakhir dengan semua unsur kepanitiaan, mereka menyatakan sudah sangat siap. Seperti Angkasa Pura, Kantor Imigrasi, Dinas Kesehatan dan sebagainya.

Maad yang tengah berada di Makkah mengatakan, yang perlu diantisipasi saat ini adalah cuaca di Arab Saudi yang sangat panas. Yakni mencapai 45 derajat celcius. Karena itu, saat berada di Makkah, jamaah haji disarankan banyak minum air putih dan makan yang sehat. a�?Supaya tidak mengalami dehidrasi,a�? imbaunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr Nurhandiri Eka Dewi mengatakan, pemantauan kesehatan JCH sudah dilakukan sejak Februari lalu. Sampai saat ini tim kesehatan juga terus memantau kesiapan para jamaah dari segi fisik dan mental. Kalau dinyatakan sakit tentu tim kesehatan akan merekomendasikan agar jamaah tersebut tidak diterbangkan.

Untuk memutuskan jamaah tidak bisa terbang harus melalui berbagai jenjang, mulai dari tim kesehatan di Puskesmas, Rumah Sakit Daerah, dan terakhir akan diperiksa di embarkasi di Asarama Haji. Tapi biasanya, bila ada yang sakit tim kesehatan akan merawat mereka terlebih dahulu di RSUP, setelah sembuh baru mereka diberangkatkan. Bila sampai kloter terakhir belum sembuh berarti dia tidak berangkat tahun ini.

a�?Kita berharap mudah-mudahan semua bisa berangkat dengan sehat dan selamat,a�? katanya.

Beberapa jamaah yang memiliki penyakit kronis terus mendapat pemantauan, bahkan sampai pemberangkatan. Tapi yang tidak kalah penting untuk diantisipasi adalah wabah kolera yang sedang melanda negara tetangga Arab Saudi. Karena itu, JCH diberikan pembekalan khusus tentang poin apa yang perlu dihindari agar tidak terkena kolera.

Dewi menyarankan agar selama berada di tanah suci, JCH tetap menjaga kebersihan makanan, minuman agar tetap higienis. Serta mengurangi kontak dengan jamaah haji asal negara lain. a�?Karena di Indonesia sendiri sudah tidak ada kolera,a�? katanya.

Terhadap kondisi cuaca yang sedang panas di Arab Saudi saat ini, ia berharap para jamaah tetap sehat, karena cuaca ekstrim sangat berbahaya bagi jamaah yang tua. Caranya adalah dengan membawa air minum supaya tidak dehidrasi, bila itu terjadi bisa saja mereka drop karena kaget dengan panasnya. a�?Kita harap itu tidak terjadi,a�? ujarnya.

Sementara jumlah tenaga kesehatan dari NTB yang akan mendampingi jamaah sebanyak 30 orang. Tidak hanya tenaga medis asal NTB, mereka juga bisa diambil dari daerah lain di Indonesia. Dengan adanya petugas kesehatan, diharapkan kondisi jamaah bisa tetap terpantau. (ili/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka