Ketik disini

Headline Kriminal

Menelusuri Jaringan Tebus Motor Curian

Bagikan

Pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) masih menjadi momok masyarakat di Pulau Lombok. Tak jarang korban memilih untuk mencari motornya dengan cara menebus, bukan melapor ke polisi. Berikut penelusuran Lombok Post mencari jaringan tebus motor curian.

***

a�?Saya dulu tebus motor sampai Rp 6 juta,a�? kata Fahri, salah satu mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Mataram membuka percakapan Lombok Post dalam menelusuri jaringan tebus motor di Lombok, belum lama ini.

Dari perkataan Fahri, modus dengan sistem tebus motor ternyata benar-benar ada. Praktik ini kerap A�dijalankan jaringan pelaku curanmor antar wilayah kabupaten di Pulau Lombok.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Untuk menemui orang di dalam jaringan tebus motor curian memang tidak mudah. Fahri mengatakan, awal mula ia sampai berhasil menemui orang yang bisa menebus motornya, pun dilakukan secara tidak sengaja.

Sekitar medio Maret lalu, dia bertemu temannya yang motornya juga hilang. Namun, motor tersebut berhasil kembali dalam kurun waktu kurang dari tiga hari. a�?Awalnya memang dari teman, motor (Yamaha) Vixionnya hilang, kemudian ditebus Rp 7 juta,a�? ujar dia.

Fahri kemudian menceritakan kepada temannya itu, tentang motornya yang juga hilang. Tetapi, dia sempat ragu. Alasannya karena motor (Suzuki) Satria FU miliknya telah hilang lebih dari satu bulan lamanya.

a�?Motor saya kan hilang Januari. Memang saat itu tidak sempat lapor polisi,a�? katanya.

Oleh temannya, Fahri lantas diberikan satu nomor kontak. Temannya meminta Fahri untuk menghubungi nomor tersebut. Mencoba peruntungannya, pemuda 21 tahun ini kemudian menghubungi nomor yang diberikan.

Respons cepat diberikan pemilik nomor yang dihubungi Fahri. Kepada Fahri orang tersebut memberi sejumlah petunjuk. Termasuk meminta Fahri menemui rekannya di Lombok Tengah (Loteng).

a�?Ketemunya bukan dengan orang yang saya telepon. Tapi temannya yang lain di Lombok Tengah,a�? ungkapnya.

Sesuai janji yang telah disepakati, sekitar awal Maret, Fahri menemui orang yang dimaksud. Pertemuan itu sendiri dilakukan di dekat Lombok International Airport (LIA).

Dalam pertemuan itu, Fahri memberitahu jenis motor, nomor rangka, nomor mesin, dan nomor pelat kendaraannya. Mereka juga sempat bertukar nomor handphone. Tujuannya agar ketika motor tersebut ditemukan, orang yang menjadi perantara itu bisa langsung menghubungi Fahri.

Benar saja. Berselang tiga hari dari pertemuan itu, perantara mengontak Fahri. Memberitahu jika motor miliknya masih tersimpan di salah satu gudang di Loteng. Perantara juga mengatakan, jika motornya ingin kembali, maka Fahri harus menyerahkan uang sebanyak Rp 7 juta.

Permintaan itu disanggupi Fahri. Namun dia meminta perantara untuk menurunkan harga tebusannya. a�?Saya minta Rp 6 juta, mereka akhirnya mau,a�? kata dia.

Pertemuan lanjutan kemudian disepakati Fahri dengan perantara tersebut. Saat itu, kata Fahri, dirinya sempat ragu apakah benar motor tersebut miliknya. Karena itu, dia tidak berani membawa uang cash sebelum melihat motor.

a�?Dia (perantara, Red) minta ketemu, tapi disuruh jangan bawa polisi. Ternyata benar, motor yang dibawa itu motor saya. Keadaannya masih utuh, cuma list motornya saja yang dicopot,a�? akunya.

Guna mengkonfirmasi kebenaran tersebut, Lombok Post juga berupaya untuk menemui perantara yang dimaksud. Beruntung, perantara yang sama mau menemui Lombok Post. Pertemuan saat itu juga dilakukan di Loteng, masih di seputaran LIA, sekitar dua minggu lalu.

Sama seperti Fahri, saat itu perantara meminta identitas kendaraan milik wartawan A�Lombok Post yang hilang. Kata dia, motor tersebut akan di cek di sejumlah gudang penyimpanan yang ada di Loteng.

a�?Nanti saya cek dulu, kalau ada dikabari,a�? kata pemuda tanggung dengan inisial AD ini.

AD mengatakan, beberapa motor curian memang dibawa ke beberapa tempat penampungan. Wilayahnya tersebar tergantung dengan lokasi pencurian kendaraan. Selain Loteng, terdapat pula gudang penampungan di wilayah Lombok Barat (Lobar).

a�?Kalau gak ada di sini, bisa jadi ada di gudang di Lobar,a�? aku dia.

PemudaA� ini mengaku jika beberapa kali dirinya melayani permintaan tebus motor dari korban curanmor. Harga yang diberikan juga bervariasi. Tergantung dari jenis motor.

Dalam transaksinya pun, kata dia, dilakukan secara hati-hati. Mereka memastikan jika penebus motor tidak datang bersama polisi. Apakah motor tidak langsung dibongkar saat di gudang penyimpanan? Menurut AD, hal tersebut tergantung penampung. Motor bisa saja dibongkar sesaat setelah diterima dari pemetik. Namun ada pula yang dibiarkan hingga tiga bulan lamanya di dalam gudang.

a�?Kalau motor besar, rata-rata bisa sampai Rp 7 juta. Kalau matic bisa lebih murah dari itu,a�? beber dia.

Uang yang dibayarkan korban, bukan ia ambil sendiri. Nantinya ia akan dibagi lagi kepada penampung dan pemetik motor. a�?Saya bagi lagi, biasanya pembagiannya setengah-setengah,a�? tandas AD.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka