Ketik disini

Feature Headline

Cerita Ismail, Pedagang Es yang Akan Berangkat ke Tanah Suci

Bagikan

Allah SWT sudah berjanji, bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Itulah yang dipegang teguh oleh Ismail bin Rusna Rusdi, jamaah calon haji tertua dari Kota Mataram. Meski hanya berjualan Es Lilin, tekadnya untuk bisa ke tanah suci dan memluk ka’bah tak pernah pudar. Berikut kisahnya.

***

Badan Ismail terlihat sudah ringkih. Rambutnya sudah tak hitam lagi. Putih dan berkilau. Bahkan, bulu yang tumbuh di alisnya pun ikut putih. Penglihatannya juga sudah mulai kurang jelas. Setiap hembusan nafasnya terdengar nyaring. Untungnya, pendengarannya masih normal.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Namun, berbagai kekurangan itu tak membuat semangatnya kendor. Malah, belakangan dia semakin berapi-api. Senyum di bibirnya terus merekah. Itu semua karena cita-citanya selama puluhan tahun, akan segera terwujud. Yakni bisa berangkat ke tanah suci Makkah.

Tahun ini, Ismail genap berusia 90 tahun. Itu membuatnya menjadi jamaah calon haji (JCH) tertua asal Kota Mataram. a�?Ya benar, menurut data jamaah haji di Kota Mataram, yang tertua adalah Ismail bin Rusna Rusdi,a�? kata Staff Haji dan Umrah Kemenag Kota Mataram, Chandra Ghusta M pada Lombok Post beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, Kota Mataram termasuk daerah yang paling banyak menyumbang JCH lanjut usia. Totalnya, ada 147 JCH yang umurnya di atas 61 tahun. a�?Subhanallah, ini luar biasa,a�? ungkap Chandra.

Namun, dari semua JCH lansia itu, yang paling seru ceritanya adalah Ismail bin Rusna Rusdi. Selain menyandang status JCH tertua, Ismail juga butuh perjuangan panjang untuk bisa mewujudkan impiannya ke tanah suci. Karena, dari segi penghasilan, Ismail tergolong biasa-biasa saja.

Sehari-hari, dia menjadi penjual Es Lilin. Dari hasil jualannya, dia juga harus menyisihkan sebagian untuk menghidupi sepuluh orang anaknya. a�?Sisanya saya tabung. Niat saya tabungan itu jadi ongkos saya berangkat haji,a�?A� kata Ismail kepada Lombok Post.

Siang itu, Ismail tidak sendiri menjamu Lombok Post. Ia ditemani istri, beberapa anaknya, cucu, dan beberapa cicitnya. a�?Saya ini hanya penjual Es, yang beberapa lalu telah berhenti karena faktor usia yang tidak lagi muda ini,a�? terangnya.

Pria 90 tahun tersebut mengaku menjadi penjual es keliling sejak masih muda. Tepatnya sejak umur 20 tahun. a�?Saya lupa, sejak tahun berapa saya berjualan Es. Pokoknya ketika harga Es di jalan-jalan masih seharga Rp 1,a�? tuturnya.

Es yang dijualnya pun tak pernah berubah. Dari awal hingga akhir, tetap menjual Es Lilin. a�?Dulu, untuk menyisihkan uang saja sangat susah. Saya memiliki 10 anak yang harus saya biayai setiap hari,a�? kenangnya.

Meski berat, niatnya untuk bisa berangkat ke tanah suci tak pernah berkurang sedikit pun. Karena itu, di awal-awal, ia menyisihkan Rp 1 dalam sehari untuk untuk ditabung sebagai ongkos naik haji. a�?Saya mulai berniat itu ketika umur saya 30 tahun,a�? kata Ismail.

Hingga umur 58 tahun, tabungan yang terkumpul tak juga cukup untuk bisa mendapatkan satu kursi keberangkatan. a�?Saya sempat putus asa. Sempat berfikir, ya sudah tidak usah dipaksakan ke tanah suci, kalau kondisi dana belum ada,a�? tuturnya.

Tapi Allah SWT maha mendengar, dan membolak balikkan hati seseorang. Salah satu menantunya membantu kekurangan biayanya. a�?Saya sampai menangis. Ini benar-benar tak pernah saya sangka,a�? katanya sambil menitikkan air matanya.

Ismail semakin yakin dengan kekuasaan Allah. a�?Allah maha segalanya, Allah maha mengetahui, dan maha di atas semua umatnya,a�? ungkapnya.

Kini, menjelang keberangkatan, Ismail tak hanya semakin rajin mengerjakan ibadah sunnah. Tapi, berbagai persiapan lain juga dilakukan. Salah satunya olahraga. a�?Saya tiap pagi dan sore jalan kaki. Ini agar di tanah suci, saya tidak sakit. Mohon doanya agar saya menjadi haji yang mabrur,a�? pinta Ismail. (NATHEA CITRA SURI, Mataram)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka