Ketik disini

Kriminal

Investor Italia Mengaku Ditipu di Gili Air

Bagikan

MATARAMa��Carrus Constantino tengah harap-harap cemas. Dua pelaku yang dilaporkannya ke Polda NTB atas kasus penipuan dan pemberian keterangan palsu belum juga ditahan.

Kepada Lombok Post, bule asal Italia ini mengungkapkan, dirinya telah menjadi korban penipuan dua warga asal Gili Air, Pemenang Kabupaten Lombok Utara. Masing-masing berinisial H, 58 tahun dan WJ alias S, 55 tahun.

a�?Saya menderita kerugian yang sangat besar atas tindakan mereka,a�? kata Carrus.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Melalui pengacaranya Lalu Zulkifli, Carrus menceritakan kronologis peristiwa hukum yang menimpanya. Pada 22 Agustus 1994 silam, salah seorang tersangka WJ menjual sebidang tanah di Gili Air, Desa Pemenang Barat kepada korban. Tanah atas nama WJ dengan sertifikat hak milik (SHM) No 252 itu memiliki luas 9.008 meter persegi.

Pembayaran tanah tersebut telah dilakukan Carrus dengan lunas. Ini tercatat dalam Akta Surat Kuasa No 17 tanggal 27 Juli 2011 dan Akta Perikatan Jual Beli No 16 tanggal 27 Juli 2011.

a�?Namun setelah dilunasi, WJ tak juga memberikan akta jual beli (AJB) kepada Carrus dan hanya berjanji tanpa bisa ditepati, a�? ujar Zulkifli.

Saat pelunasan, lanjut dia, WJ disaksikan tersangka H hanya menyerahkan sertifikat tanah yang dijualnya kepada Carrus. Sementara untuk AJB, pelaku mengaku akan segera memberikan karena tengah dalam proses pembuatan.

Namun janji tersebut tak kunjung dipenuhi. WJ dan H justru dinilai memiliki itikad buruk dengan dibuatnya akta perikatan jual beli No 05 tanggal 19 Agustus 2014 antara WJ dan H. Serta kuasa menjual No 06 tanggal 19 Agustus 2014 juga antara kedua pelaku.

a�?H memberi keterangan palsu di bawah sumpah kepada pejabat pertanahan bahwa SHM atas nama WJ tersebut hilang,a�? tuding Zulkifli.

Kemudian dengan memanfaatkan kedua akta dan sumpah palsu tersebut, H menjual obyek tanah itu kepada orang lain. Jual beli ini tertuang dalam PPJB (perjanjian pengikatan jual beli) dengan akta No 08 tanggal 22 Juni 2015. Dan ditingkatkan menjadi AJB dengan akta No 37 tanggal 11 Agustus 2015 di depan PPAT (pejabat pembuat akta tanah).

Atas perbuatan melawan hukum para terlapor, empat SHM terbit. Keempat SHM ini telah menghilangkan hak pelapor dan menyebabkan korban mengalami kerugian materil maupun moril.

a�?Mewakili klien, saya berharap hukum bisa ditegakkan oleh aparat dan korban bisa mendapat keadilan,a�? tandasnya.

Carrus menambahkan, aksi semacam ini ternyata telah menimpa beberapa investor asing. Pelakunya pun sama dengan modus serupa. Namun bentuk penyelesaiannya tidak diketahui dan pelaku masih bisa melenggang bebas.

a�?Kami menunggu tindakan tegas aparat untuk segera memeriksa dan menahan para pelaku agar tidak jatuh korban lagi,a�? ujarnya.

Sementara itu, Wadirreskrimum Polda NTB AKBP Nurodin mengatakan, kasus tersebut masih didalami jajarannya. Mereka masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang terlibat.

A�”Masih kita dalami,” kata dia.(ida/dit/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags: