Ketik disini

Feature Headline

Nestapa Industri Garam Rakyat yang Tak Kunjung Manis

Bagikan

Harga garam yang menjulang, ternyata tidak dinikmati para petani garam rakyat. Sulitnya mendapatkan bahan baku menjadikan kenaikan harga itu hanya sekadar numpang lewat. Sebaliknya, banyak usaha garam rakyat yang akhirnya gulung tikar.

***

KERINGAT mengucur dari tubuh Muisan dan Inaq Sumiati. Pontang-panting mereka berdua bekerja di tempat pengolahan garam tradisional yang dipenuhi gumpalan asap tungku.

Muisan yang berusia lebih muda sibuk memecahkan batu-batu yang diangkat dari lantai tanah di tempat pengolahan garam itu. Sementara Inaq Sumiati yang lebih tua, tugasnya mengangkat garam-garam yang sedang dimasak di atas tungku dengan bak besi yang terus menerus mendidih. Hawa panas menyeruak. Tapi keduanya tetap terlihat betah dan tak ingin beranjak.

Garam-garam yang sudah halus kemudian ditiriskan menggunakan anyaman bambu berbentuk kerucut. Mirip kerucut ice cream cone atau yang lazim disebut es krim ceroncong.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Oleh Inaq Sumiati, disusunnya garam itu dengan rapi dengan cara diangkat dengan sendok berlubang dari dalam bak besih di atas tungku. Sehingga saat diangkat, yang naik adalah kristal-kristal garam. Air garam tidak ikut.

Kerucut tempat meniriskan garam diletakkan di atas tungku. Sehingga, tirisan air garam pun kembali menetes ke dalam bak besi di atas tungku yang terus-menerus mendidih.

Dari kejauhan, garam-garam tersebut terlihat seperti bola salju. Butuh waktu beberapa jam hingga garam menjadi kering di atas kerucut penirisan tadi. Setelah kering, garam kemudian dibungkus dalam kemasan plastik, lalu kemudian dijajakan berkeliling. Biasanya, para pengecer langsung mengambil garam di pengolahan garam tradisional tempat Musiah dan Inaq Sumiati bekerja di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Lombok Timur.

Pengolahan tradisional garam rakyat itu bukan milik Muisan dan Inaq Sumiati. Kedua orang itu hanya bekerja di sana. Tempat pengolahan itu dimiliki oleh Suhirdan.

Seperti Inaq Sumiati, Muisan juga tidak kalah sibuk. Tugasnya hari itu adalah menyiapkan bahan baku garam yang hendak diolah menjadi garam halus. Garam baku itu masih berupa garam kasar yang warnanya keabu-abuan. Tidak putih cemerlang macam garma halus. Sialnya, hari itu stok garam kasar sudah habis. Gudang penyimpanan yang bisa dipenuhi garam kini melompong.

Karena itu, Muisan dan Inaq Sumiati memutar otak. Mereka sudah mematok kalau usaha produksi garam tradisional milik keduanya tak boleh berhenti. Soalnya harga sedang bagus-bagusnya. Karena itu, momentum itu ingin mereka menikmati jauh lebih lama.

Bayangkan lonjakan harganya. Jika sebelumnya mereka menjual garam sebakul Rp 15 ribu, kini mereka bisa jual hingga Rp 60 ribu. Maka mereka berpacu untuk membuat garam dengan berbagai cara.

Di tempat pengolahan itu, berdiri empat buah tungku pembakaran. Hanya dua yang aktif, sementara dua lainnya sudah rusak. Meski begitu, rupanya tungku itu menjadi penyelamat Muisan dan Inaq Sumiati hari itu.

Muisan kemudian mengambil linggis. Dua tungku yang rusak itupun digalinya. Tak mudah. Tapi dia tak menyerah. Itu mengapa, manakala Lombok Post datang menjejak tempat pembuatan garam milik Muisan dan Inaq Sumiati itu, bongkahan-bongkahan batu terserak di banyak sudut. Seperti orang menggali saluran, lubang galian sudah menganga.

a�?Batu-batu ini mengandung garam. Dulunya sisa-sisa pembangkaran yang meleleh ke bawah,a�? kata Muisan.

Sisa garam yang meleleh itu menyatu dan mengeras selama bertahun-tahun. Membatu. Selain yang membatu, ada juga yang menempel pada batu bata yang dijadikan lantai. Batu-bata itu juga digali Muisan. Kemudian ditumbuknya menjadi halus. Selanjutnya batu bata yang halus dikumpulkan menjadi satu di atas penyaringan. Lalu disiram menggunakan air asin yang diambilkan dari tambak garam yang ada di seberang jalan. Air saringan itulah yang kemudian diolah kembali menjadi garam halus.

a�?Tidak ada cara lain. Garam sekarang langka,a�? katanya.

Dari batu-batu yang sudah jadi pondasi itulah, akhirnya usaha produksi garam Muisah dan Inaq Sumiati tetap beroperasi.

Muisan menuturkan, tadinya, normalnya mereka bisa mengolah 20 karung garam dalam sehari. Satu tong pengolahan setidaknya bisa menghasilkan 11 kukus garam yang berbentuk bola-bola salju tadi. Tapi saat ini mereka hanya bisa menghasilkan paling banyak 7 kukus garam dalam satu tong air garam.

a�?Harga sekarang mahal karena stok bahan bakunya yang langka,a�? kata dia.

Toh meski begitu, bagi petani garam seperti Muisah dan Inaq Sumiati, harga naik sekalipun tidak pernah bisa membuat skala usaha mereka berkembang menjadi lebih besar. Malah banyak usaha pengolahan garam di desanya gulung tikar karena tidak kuat.

Untuk membuat satu tempat pengolahan garam seperti yang dikelola Muisah dan Inaq Sumiati, butuh dana yang tak sedikit. Setidaknya perlu modal Rp 60 juta, bahkan lebih. Sementara saat bahan baku langka seperti saat ini, banyak yang akhirnya harus gigit jari, meski sudah keluar modal besar. a�?Hasilnya tidak sebanding,a�? katanya.

Di awal tahun 2001 lalu, di tempat itu ada empat tempat pengolahan garam milik warga yang beroperasi. Tapi kini tinggal hanya pengolahan milik Suhirdan tersisa. Terutama sejak pusat pengolahan garam di Dusun Kedome, di desa sebelah tutup. Aktivitas pengolahan garam pun menjadi sepi pula di sana.

a�?Yang lain tutup karena tidak kuat beban utang,a�? aku Muisan.

Beratnya pengelolaan usaha garam dirasakan Muliani. Perempuan itu dulu juga pernah mencoba peruntungan dengan mendirikan tempat pengolahan garam. Ia membuatnya di Dusun Kedome yang menjadi epicentrum pengolahan garam kala itu.

Tapi usahanya itu tidak bertahan lama. Kelangkaan bahan baku garam membuat produksi terus berkurang. Sementara ia setiap hari harus menyetor ke bang rontok sebesar Rp 300 ribu.

Di sisi lain kualitas garam dari petani terus menurun sehingga tidak bisa menghasilkan garam yang bagus. Saat ditiriskan, kukusan garam cepat runtuh sehingga banyak yang jatuh ke tanah. Belum lagi masalah manajemen. Sebagai ibu rumah tangga ia tidak bisa mengontrol pekerjanya setiap hari.

a�?Kalau tidak teliti, bisa dijual garam kita sama para pekerja,a�? tuturnya.

Meski begitu, ia masih memiliki keinginan untuk kembali membangun usaha pengolahan garam. Hanya saja kendala terbesarnya adalah modal. Sebab, untuk membuat pengolahan tentu berbiaya besar. a�?Kalau ada yang mau bantu, saya mau buka lagi,a�? katanya setengah bercanda. (SIRTUPILLAILI, Lombok Timur/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka