Ketik disini

Headline Metropolis

Euforianya Cukup, Mari Bekerja!

Bagikan

MATARAM-Masih banyak catatan penataan lingkungan hidup. Walau begitu, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, Mataram layak mendapat penghargaan Adipura.

Tidak mudah mendapat penghargaan ini. Kota Mataram bahkan sudah puasa penghargaan sejak tahun 2013. a�?Iya kami akui, masih ada catatan dalam pengelolaan lingkungan yang harus dibenahi,a�? kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Irwan Rahadi.

Mantan Camat Selaparang ini mengakui, ada catatan atas Piala Adipura ini. Diantaranya, pelibatan peran masyarakat untuk pengolahan sampah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Penanganan sampah dengan teknik konvensional, melalui pola angkut-buang juga harus diminimalisir. Jika sampah masih bisa didaur ulang menjadi barang yang lebih bermanfaat, tentu itu lebih diharapkan.

“Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan juga harus ditingkatkan, tapi yang penting sekarang orang yang buang sampah ke sungai sudah mulai berkurang,a�? ujarnya senang.

Irwan mengakui, di bidang pelayanan khususnya untuk angkut sampah oleh motor roda tiga, masih banyak persoalan. Irwan mendorong, masyarakat aktif melaporkan jika ada para petugas yang tidak menjalankan tugas dan fungsinya. “Laporkan pada saya, saya akan langsung tindak,a�? jaminnya.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana juga mengaku tak kalah bahagia dengan kembalinya penghargaan Piala Adipura. “Sejak subuh tadi (kemarin) saya sudah merasakan motivasi bekerja yang sangat besar menyambut Adipura ini,a�? tutur Mohan.

Bagi Mohan, Adipura adalah kado terindah ulang tahun kota yang ke-24. Ia lalu mengalihkan perhatian pada ratusan petugas kebersihan yang berdiri di pelataran halaman kantor wali kota.

Bagi Mohan, merekalah pahlawan sesungguhnya, hadirnya Adipura ke Kota Mataram kembali. “Tidak semua orang mau mengerjakan, pekerjaan yang mereka kerjakan, tetapi mereka telah berjuang bagi kota,a�? ujar Mohan sambil terharu.

Mohan mengingatkan, keberhasilan meraih Piala Adipura ini, harus menjadi pemicu semangat untuk lebih giat lagi menajaga kebersihan kota. Tugas lebih berat menanti di depan.

Selain harus mempertahankan standar kebersihan yang ada saat ini, inovasi-inovasi dalam pengolahan sampah harus terus diekspolrasi dan diterapkan. “Berbagai terobosan, ide, dan teknologi dibutuhkan untuk menuntaskan persoalan sampah,a�? sambungnya.

Di kesempatan itu, Mohan juga sempat mengeluarkan instruksi unik. Piala Adipura itu ingin ditaruh selama tiga hari di depan kantor wali kota. Dengan harapan, rasa bangga bisa mendorong semangat menjaga lingkungan agar tetap ramah, nyaman, dan sehat.

a�?Saya minta pak Kasat Pol PP yang (bertanggung jawab) menjaga langsung ya,a�? seloroh Mohan, lalu disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Murdani merasa, penghargaan Adipura yang diraih Kota Mataram idealnya sudah menuntaskan berbagai persoalan lingkungan hidup. Tetapi sampai saat ini, masih banyak permasalahan-permasalahan besar yang jadi catatan.

a�?Pertama ada soal keharusan pemenuhan RTH 30 persen, ini masih belum bisa tercapai,a�? kata Murdani.

Lalu persoalan tak kalah penting lainnya, seperti izin-izin yang menyangkut keharusan melakukan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Murdani mencatat, pada kasus yang terungkap seperti Transmart beberapa waktu lalu misalnya, ia mengatakan pengerjaan bangunan rupanya dengan mengenyampingkan Amdal.

a�?Masih banyak kasus yang lain, itu yang baru terungkap saja,a�? terangnya.

Pada dasarnya, pihaknya menyadari, tidak ada sektor lain yang bisa diandalkan pemerintah. Selain jasa, industri, dan perdagangan.

Tetapi, walau demikian seharusnya tidak mendorong pemerintah untuk mengeluarkan izin tanpa melewati tahapan-tahapan yang ada. “Kita paham syahwat pembangunan sangat besar, melalui sektor jasa, industri dan perhotelan, tetapi harus tetap dilihat dampaknya,a�? terangnya.

Sementara persoalan sampah yang akhirnya banyak membuat wajah semrawut, hanya dampak saja. Karena, ruwetnya tata kota dan perizinan di kota. a�?Jangan heran, hanya dengan dua tiga jam hujan kota jadi mudah banjir,a�? cetusnya.

Tetapi, Murdani tetap mengapresiasi adanya upaya yang mulai ditunjukkan pemerintah. Terutama dalam pemberdayaan masyarakat, untuk mengelola sampah.

Walau jumlahnya relatif masih sedikit. Tetapi menurutnya ini lebih baik dari pada hanya dengan menerapkan teknis penanganan sampah, melalui metode konvensional angkut-buang.

a�?Pemerintah harus malu, setelah dapat Adipura ini, karena tanggung jawab mereka sekarang lebih terukur dan berstandar untuk penataan lingkungan,a�? ujarnya.

Murdani juga memberi catatan bagi pemerintah kota. Menurutnya, dulu pemerintah punya program yang sangat bagus yakni sampah LISAN. Tetapi kini, program ini bahkan hilang tak ada kabar beritanya.

“Itu program sampai dicontoh daerah lain, tetapi kenapa Pemerintah Kota Mataram yang punya ide, justru tidak melanjutkannya?a�? sesalnya.

Jika program itu tetap dijalankan, maka daerah ini seharusnya sudah jadi barometer nasional dalam pengentasan persoalan sampah. Tetapi, karena lebih sibuk menangani sampah dengan cara-cara instan, akhirnya program bagus itu, hilang percuma. a�?Sangat disayangkan,a�? tandasnya. (zad/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka