Ketik disini

Headline Metropolis

NTB Bukan “Rumah” yang Aman Bagi Satwa

Bagikan

Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan bencana alam, tapi juga kerusakan ekosistem. Kekayaan hayati yang ada di dalamnya semakin terancam. Beberapa spesies itu merupakan satwa langka, seperti Burung Koakiau, Burung Gosong, Burung Kakatua Jambul Kuning, Rusa Timor, dan Lutung. Populasinya kini semakin kritis.

***

Ganasnya perburuan hewan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan spesies langka di NTB. Meski hidup di alam liar, binatang-binatang itu seakan tidak punya habitat lagi. Tiap jengkal hutan sudah dijarah manusia. Pembalakan liar semakin menggila di mana-mana.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB menunjukkan, terjadi pengurangan populasi satwa yang cukup drastis. Terutama lima spesies prioritas NTB yakni burung Kakatua Kecil Jambul Kuning populasinya hanya 148 ekor tahun 2016. Demikian pula dengan Burung Gosong jumlahnya saat ini hanya sekitar 200 ekor, burung Koakiau yang merupakan burung khas NTB populasinya sekitar 500 ekor.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Kondisi tidak kalah parah dialami Rusa Timor yang menjadi maskot Provinsi NTB. Populasinya kini semakin sedikit, tidak sampai 2.000 ekor, atau sekitar 1.500 ekor. Rusa ini tersebar di kawasan Pulau Moyo dan kawasan Gunung Tambora, dan kawasan Gunung Rinjani. Awal tahun 2017, BKSDA malah merilis populasi Rusa Timor tinggal 900 ekor, sehingga masuk hewan hampir punah.

Berkurangnya Rusa ini terlihat dari indikator bahwa spesies ini semakin jarang terlihat. Hanya saja di luar hutan banyak penakaran Rusa yang cukup membantu pengembang biakannya.

Sementara Kera hitam (Lutung) jumlahnya terhitung hanya 206 ekor di Taman Wisata Alam (TWA) Kerandangan, tapi belum termasuk Lutung yang hidup di kawasan Gunung Rinjani. Diperkirakan, populasi Lutung masih relatif lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Bahkan populasi baru terpantau di Gunung Mareje.

Tri Endang Wahyuningsih, Koordinator Pengendali Ekosistem Hewan BKSDA NTB mengatakan, burung Kakatua Jambul Kunging merupakan prioritas nasional untuk dilindungi. Kondisinya saat ini sudah sangat kritis atau satu tingkat di bawah kepunahan. Burung itu kini sebagian besar berada di Pulau Sumbawa.

Demikian juga dengan Rusa yang masih hidup secara alami di alam hanya terpantau di Pulau Moyo saja, sementara di tempat lain belum bisa dipastikan. Kemudian untuk Burung Gosong yang memiliki kaki merah ini lebih eksis dibandingkan jenis satwa lainnya. Menurut Tri Endang, populasi Burung Gosong terpantau lumayan bagus dibandingkan yang lain, perkembangbiakannya cukup baik.

Kondisi terparah dialami Burung Koakiau. Jenis burung ini paling banyak diburu karena suaranya yang merdu. Sebagian besar burung Koakiau hidup di Pulau Moyo. Di sana relatif lebih terlindungi karena berada di kawasan konservasi. Sementara di Pulau Lombok burung itu sangat kritis, populasinya turun drastis karena jarang ditemui.

Di TWA Kerandangan saja terhitung hanya 10 ekor Burung Koakiau, sisanya ada di kawasan hutan Gunung Rinjani. Di luar itu, pihakya tidak menjamin karena pasti sudah habis diburu. a�?Makanya kita selalu berusaha melindunginya,a�? kata Tri Endang.

Sementara Lutung hanya berada di Pulau Lombok. Karena Lombok merupakan batas paling timur penyebaran kera hitam itu. Artinya, di Pulau Sumbawa tidak ada spesies Lutung. Kera hitam itu tersebar di hutan kawasan Rinjani dan TWA Kerandangan. a�?Penyebab turun drastisnya populasi di alam itu (adalah) perburuan ilegal,a�? ungkapnya.

Tujuan perburuan masing-masing satwa berbeda. Spesies burung biasanya diburu karena faktor hobi dan warga ingin memeliharanya. Tapi perburuan Rusa disebabkan karena dagingnya bisa dimakan, bila dijual harganya mahal. Para pemburu Rusa Timor susah dipantau. Karena mereka tidur di hutan, setelah berhasil menangkap Rusa, kemudian mereka sembelih, memotong, dan menjemur dagingnya di dalam hutan. Setelah daging kering, pemburu keluar dan menjualnya ke pasar. Harganya lumayan tinggi yakni Rp 100 ribu lebih per 1 kilogram (kg). Sebab dagingnya dianggap lebih bagus dari daging sapi, kambing, atau kerbau.

a�?Saking mahalnya daging Rusa, banyak orang yang menjual daging sapi kering dan dikasi bulu rusa,a�? katanya.

Dosen Fakultas MIPA Universitas Mataram Dr Wayan Suane menjelaskan, berdasarkan hasil penelitiannya terhadap spesies burung selama ini, populasi burung yang dilindungi sangat kritis. Seperti burung Elang Flores burung asal NTT, dan burung Celepok Rinjani yang hanya terdapat di Pulau Lombok.

Penyebab utama berkurangnya populasi burung adalah perburuan manusia. Menurut dosen Biologi ini, warga mempunyai rasa ingin memiliki cukup tinggi. Sehingga mereka menangkap burung-burung tersebut, baik sebagai hewan peliharaan maupun untuk dimakan. Tapi sebagian besar perburuan burung dilakukan karena ingin dipelihara. Hanya saja, setelah ditangkap dari alam, hewan itu hidup sendiri di dalam kurungan dan tidak berkembang, sehingga akan hilang satu generasi burung.

a�?Jika dibiarkan (hidup) di alam maka dia akan tetap hidup dan berkembang biak,a�? katanya.

Parahnya, dari ratusan burung yang ditangkap dari hutan, yang mampu bertahan hanya beberapa persen saja. Sebab pemindahan satwa dari habitatnya menyebabkan mereka stres dan mudah mati.

Menurut Dr Islamul Hadi, Dosen Fakultas MIPA Universitas Mataram, kelangkaan satwa tersebut memiliki dampak ekologis. Di mana burung-burung merupakan penebar biji paling efekti. Biji-biji yang ditabur itu kemudian tumbuh menjadi pohon baru sehingga bisa mereboisasi hutan secara alami dan lebih cepat. Selain itu, burung berfungsi sebagai pemakan hama seperti serangga dan ulat.

a�?Dengan berkurangnya populasi burung ini muncul hama-hama yang mengganas di daerah persawahan,a�? katanya.

Jika kondisi itu terus terjadi, maka dikhawatirkan hama-hama tersebut semakin merajalela karena tidak ada yang mengendalikan. Manusia kemudian akan bergantung pada pestisida yang notabene merupakan racun. Produk-produk pertanian yang menggunakan pestisida akan dikonsumsi manusia dan membawa berbagai macam penyakit.

Perlindungan

Dalam rangka menjaga agar populasi satwa tetap banyak, upaya yang bisa dilakukan adalah menyadarkan masyarakat agar tidak menangkap burung. Lebih baik membiarkan mereka hidup di alam bebas apa adanya. Jika ingin melihat dan mendengar suara burung, maka manusialah yang datang ke habitatnya. Dalam hal ini diperlukan peran para alim ulama dan tokoh masyarakat.

Selain itu, mereka yang memiliki hobi burung bisa didorong untuk mengembangbiakan di penangkaran. Artinya, cukup sekali menangkap dari hutan kemudian dikembangbiakan, sehingga tidak perlu lagi mengambil di hutan. a�?Kita mendorong perbanyak penangkaran,a�? katanya.

Tri Endang menjelaskan, dalam rangka melindungi satwa-satwa dari kepunahan, ada dua pola pemeliharaan yang dilakukan BKSDA NTB, yakni insitu atau penangkaran satwa liar di habitat aslinya. Kemudian eksitu yakni pelestarian mahluk hidup diluar habitat aslinya.

Insitu dilakukan dengan melindungai kawasan konservasi,A� memonitoring tumbuhan satwa, terutama jenis yang menjadi prioritas perlindungan. Kemudian dilakukan pembinaan habitat. Bila populasi satwa tertentu menurun maka pihaknya menyiapkan pakan atau segala sesuatu yang menjamin kelangsungan hidupnya.

Sementara untuk eksitu, pengawetan di luar kawasan dilakukan dengan memberikan izin lembaga konservasi, mereka diberikan izin untuk mengelola satwa. Selain itu, BKSDA memberikan izin unit penangkaran. Untuk Rusa, BKSDA sudah menerbitkan izin 50 izin penangkaran Rusa unit perorangan. a�?Itu menjadi bagian dari upaya pengawetan,a�? katanya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha (TU) BKSDA NTB Lugi Hartanto menambahkan, salah satu tugas BKSDA adalah pemantauan peredaran satwa dan tumbuhan. Bagi satwa yang ada di dalam kawasan konservasi, petugas tidak membedakan apakah hewan tersebut termasuk yang dilindungi atau tidak. a�?Selama dia berada di dalam kawasan koservasi semuanya akan dilindungi,a�? tegasnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Untuk NTB ada beberapa satwa yang dilindungi yakni Rusa, Kera Hitam, Kakatua Jambul Kuning, Koakiau, dan Burung Gosong. Mereka tidak boleh diburu apalagi ditangkap, baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati. Itu sebagai bentuk perlindungan negara terhadap satwa.

a�?Kalau ada orang yang membawa kepala Rusa, itu sudah masuk sanksi pidana,a�? tegasnya.

Sementara di luar itu, BKSDA juga mengatur peredaran satwa yang tidak masuk sebagai satwa dilindungi. Caranya dengan memberikan izin pemanfaatan tumbuhan satwa liar, seperti karang, gaharu, kayu sonokeling.

Potensi Wisata

Cara terbaik melindungi satwa langka adalah dengan membiarkan mereka hidup di habitatnya secara alami. Dengan cara itu, manusia bisa mendapatkan manfaat banyak. Tidak hanya sebagai penjaga ekosistem, keberadaan satwa-satwa langka itu juga dimiliki NTB potensi pariwisata.

Satwa-satwa unik tersebut bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang berlibur ke Lombok. Sebab turis mancanegara sangat tertarik dengan kekayaan hayati yang ada di alam Indonesia. Mereka sanggup membayar asal bisa melihat satwa-satwa khas itu. Dalam hal ini, warga lokal bisa menjadi guide yang bisa menunjukkan titik-titik tempat satwa itu hidup. Berbeda dengan tempat penangkaran, melihat hewan di alam liar akan memberikan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan.

a�?Dengan begitu satwa tetap hidup bebas di alamnya, manusia juga bisa mendapatkan manfaat,a�? kata Dr Wayan Suane.

Potensi itu sangat menjanjikan. Tapi sayangnya, perhatian pemerintah selaku otoritas tertinggi untuk mengatur itu sangat minim. Hingga saat ini, pemerintah daerah bahkan tidak pernah secara serius berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan dan satwa langka itu. Apalagi mau mengemasnya menjadi paket wisata. (sirtupillaili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka