Ketik disini

Feature Headline

Madha Band, Band Lokal yang Lagunya Dijadikan Jingle Raimuna Nasional

Bagikan

Single pertama Madha Band berjudul, “Tak Lagi Terasa” ternyata sesuai dengan perjalanannya hingga kini. Tak terasa, sudah enam tahun mereka bersama. Dan tetap kompak! Berikut kisahnya.

***

Pagi itu, Dimas (gitaris Madha) mencari teman-temannya ke setiap ruangan kelas. Di tangannya, ada brosur kompetisi Indomie Jingle Dare.

Brosur itu seperti peta harta karun dalam genggaman Luffy, tokoh bajak laut di anime One Piece. Dimas persis seperti Luffy yang mencari kru bajak laut terbaik untuk mengarungi samudera musik di Tanah Air Indonesia.

Hari itu juga satu-persatu kru yang ia cari berdatangan. Mulai dari Ari (Keybord), Wafiq (Drum), Uya (Vocal), dan Arif (Bass).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Tidak butuh waktu lama, nama Madha Band pun tercipta. a�?Itu tahun 2011. Nama Madha Band sendiri merupakan singkatan dari MAN DUA,a�? kata Uya, menjelaskan asal usul Madha Band kepada Lombok Post.

Biasanya yang cepat datang itu cepat juga perginya. Tapi Band yang berasal dari MAN 2 Mataram ini membuktikan kalau lirik lagu Queen, Bohemian Rhapsody yang berbunyi “Easy Come Easy Go” itu bisa diubah menjadi “Easy Come Hard To Go”.

Buktinya, meskipun dibentuk secepat kilat, tapi sampai saat ini mereka masih bersama. Bahkan malah semakin solid dan berkembang.

Wafiq sang Drummer mengatakan, kuncinya memang ada di persahabatan yang mereka bangun. “Kita berbeda dengan band lain. Kalau band lain di sini mungkin orientasinya ke profit, bagaimana kita berpenghasilan. Nah, kalau kita ini masih memegang teguh prinsip, bahwa kita ini adalah sebuah band atas dasar persahabatan,a�? kata Wafiq.

Sebagai sebuah grup band, Madha terbilang unik. Masing-masing personel memiliki karakter yang berbeda-beda. Bahkan genre musik yang mereka sukai pun tidak sama.

Kalau Arif menyukai Black Metal, Ari malah mengaku menyukai Regge. Begitupun dengan Dimas yang lebih menyukai lagu-lagu lawas, juga Folk dan Country, Wafiq malah suka lagu-lagu Pop. Sedangkan Uya, lebih cenderung ke Jazz.

Tidak hanya selera telinga mereka yang berbeda, tapi jurusan keilmuan yang mereka pilih pun berbeda juga. Kalau Uya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dimas malah masuk ke Kehutanan. Ari melesat agak jauh lagi ke Pertanian, sedangkan Wafiq dan Arif di Ekonomi.

Mengenai perbedaan ini, Wafiq mengatakan, bukan musik (band) yang saat ini membuatnya terus bersama. Tapi sebaliknya. “Persahabatan dan kebersamaan yang membuat kami tetap bermusik,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata Wafiq, banyak sekali perselisihan diantara personelnya. Tapi ketika itu terjadi, mereka berusaha mengingat masa lalunya. “Band ini terbentuk atas dasar persahabatan,a�? tambahnya.

Ketika terbentuk, Madha mengakui kalau proses pemilihan personel dilakukan asal-asalan. Hal itu hanya ditentukan dari siapa yang bisa menyanyi dan maen alat musik yang dibutuhkan.

“Sebenarnya dulu kita main comot-comot saja,a�? jelas Wafik.

Meskipun Dimas merupakan personel yang paling menentukan dalam terbentuknya Madha, tapi tidak ada yang mendominasi dalam band ini. Semua yang mereka lakukan selalu bersama. Bahkan membuat lagu pun mereka lakukan bersama.

“Kita selalu mencantumkan Madha di kredit title lagu, karena kita menciptakannya selalu bersama,a�? kata Uya.

Di sinilah kerja sama tim yang membuat Madha Band bisa bertahan sampai saat ini. Mereka selalu membagi tugas dengan baik. Kalau membuat lirik lagu, biasanya yang akan dilimpahkan adalah Ari, Wafiq, dan Dimas.Sedangkan ketika membuat nadanya, mereka lakukan bersama-sama.

Melakukan semua bersama-sama membuat segalanya menjadi mudah. Bahkan terkadang lebih dari apa yang dibayangkan sebelumnya.

Dimas mengatakan, segala sesuatu yang mereka lakukan di dalam band, tidak pernah semata-mata bertujuan pada uang. “Dengan esensi persahabatan itulah, energinya bisa membawa kami bisa mencapai tujuan dalam bermusik,a�? terang gitaris yang berasal dari Riau ini.

Kesuksesan pun datang beriringan dengan kebersamaan yang mereka jaga. Tahun ini mereka diundang untuk tampil di acara Raimuna Nasioal XI 2017 di Cibubur pada tanggal 18 Agustus mendatang. Raimuna Nasional merupakan pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Gerakan Pramuka.

“Untuk kedua kalinya Raimuna memakai lagu yang kami ciptakan sebagai Jingle mereka,a�? terang Uya.

Dimas mengatakan, awalnya Madha Band hanya mau membuat lagu seperti yang mereka lakukan seperti biasanya. Ketika lagu sudah jadi, mereka tidak menyangka lagu yang mereka buat tersebut membuat mereka diundang untuk tampil di acara tersebut bersama band-band besar seperti NIDJI, J-Rock dan band ibu kota lainnya.

Tidak hanya itu, uang yang mereka tidak letakkan sebagai orientasi bermusik tersebut ternyata datangnya lebih banyak dari apa yang mereka bayangkan.

“Semua ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Kami juga selain dapat tiket dan honor tampil di RAIMUNA, Pemerintah Daerah pun tiba-tiba memberi bantuan, rencana kami akan diberikan sebelum berangkat ke Cibubur,a�? kata Dimas sambil menenteng gitarnya ke warung kopi.

Adapun ketakutan yang saat ini sedang diwaspadai oleh kelima mahasiswa di Universitas Mataram ini adalah persoalan cinta dan ego.

“Cinta terkadang membuat kita terlena, tidak profesional. Kalau ego, kita sering mementingkan skill pribadi. Lupa kalau kita harus bersama-sama. Karena ego kita sering mau menonjol sendiri, itu tidak baik untuk band,a�? tandas Wafik. (Fatih Kudus Jaelani, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka