Ketik disini

Headline Politika

Demokrat Tanggapi Tudingan Rachmat Hidayat

Bagikan

MATARAM—Demokrat jelas tak terima dengan serangan yang dilakukan PDIP NTB melalui Ketuanya H Rachmat Hidayat. Aksi balas pantun kini dilakukan Indra Jaya Usman, Ketua Barisan Massa Demokrat (BMD) NTB, salah satu sayap Partai Demokrat. Dia menyebut, pernyataan Rachmat Hidayat bahwa TGB-Amin gagal memimpin NTB sangat tendensius.

“Serangan tendensius politisi senior yang tak berdasar data dan fakta,” kata Indra Jaya Usman, kemarin (9/8).

Serangan itu dialamatkan pada gubernur dan wakil gubernur di masa akhir periode jabatan. Analisanya, hal itu semata untuk mendompleng sang istri maju sebagai calon wakil gubernur (cawagub).

Mengenai tudingan kegagalan TGB-Amin, pria yang akrab disapa IJU ini bingung dengan pemerintah RI, dimana Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Koordinator Ekonomi mengundang TGB untuk presentasi. Gubernur diundang untuk presentasi mengenai masa depan pertumbuhan ekonomi dan penanganan kemiskinan di Indonesia Timur.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

a�?Pemerintah pusat menganggap NTB paling berhasil dalam program tersebut,a��a�� kata anggota DPRD Lombok Barat ini.

Menyerang keberadaan Islamic Center (IC), kata IJU, sangat tak tepat. Karena IC ini sebelum TGB menjadi gubernur sudah direncanakan. TGB pun tidak pernah mengklaim sendiri IC itu sebagai karyanya. Di era TGB, IC rampung dan menjadi kebanggaan masyarakat NTB.

Kasus yang sama juga terjadi dengan Mandalika Resort. Sejak zaman orde baru hanya menjadi mimpi. Tapi kini Mandalika Resort mulai menggeliat.

Prestasi TGB bakal makin nampak jelas ketika bicara infrastruktur termasuk di Pulau Sumbawa. Kondisi yang sebelumnya seolah tak tersentuh oleh TGB diubah menjadi begitu baik. Begitu juga dengan pariwisata yang dituduhkan Rachmat tidak berhasil. Rachmat sepertinya lupa, justru di era TGB pariwisata NTB melejit. Banyak penghargaan yang diberikan pada NTB, dan tentu saja Badan Pusat Statistik (BPS) tidak bisa dituding bohong jika menyajikan data sepuluh tahun terakhir menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan.

A�”Mungkin Anggota DPR RI jarang turun,” sindirnya.

Karena itu Racmat dianggap lebih banyak mendapat bisikan yang tak benar daripada melihat fakta dan mendengar masyarakat. Dengan posisi Rachmat Hidayat sebagai Anggota DPR RI, semestinya bisa lebih bijak melihat persoalan.

Sebelumnya Rachmat dengan gamblang menyindir berbagai hal yang dianggap sebagai bentuk kegagalan TGB-Amin. Salah satunya terkait seluruh kabupaten yang ada di NTB masuk kategori tertinggal. Dia seolah lupa, dua diantara kabupaten itu, Sumbawa dan Sumbawa Barat dipimpin Kader PDIP. H Musyafirin di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan H Husni Djibril di Sumbawa.

Dikatakan IJU, kritikan yang disampaikan Rachmat itu memang tidak semuanya keliru. Ada juga kritikan yang membangun pemerintahan TGB-Amin. Misalnya soal capaian RPJMD yang belum maksimal. Menurut IJU, capaian itu mungkin saja tidak maksimal karena mesin birokrasi yang tidak bisa mengikuti kecepatan TGB. Termasuk juga pimpinan SKPD Hj Putu Selly Andayani ketika menjadi Kepala Biro Ekonomi dan ketika menjabat Kepala Biro Keuangan kurang maksimal. Kurang optimal juga bisa saja lantaran Kepala Dinas Pendapatan Daerah saat itu Hj Putu Selly Andayani terlalu santai, atau sekarang bisa saja karena Hj Putu Selly Andayani menjabat Kepala Dinas Perdagangan belum optimal bekerja.

Soal angka kemiskinan, tentu saja tak semuanya dibebankan kepada TGB-Amin. Provinsi NTB terdiri dari 8 kabupaten dan 2 kota. Oleh karena itu, IJU berharap sebagai ketua partai yang kadernya menjadi bupati Sumbawa dan Sumbawa Barat, Rachmat bisa juga mendorong mereka untuk berbuat maksimal. Jika pembangunan di KSB dan Sumbawa melejit, tentu saja akan berdampak pada NTB. Apalagi Lombok Timur, kabupaten ini masih sebagai penyumbang terbesar angka kemiskinan di NTB.

a�?Jadi, tidak perlu menunggu Ali BD dan Selly menjadi gubernur dan wakil gubernur. Cukup dengan Ali BD bekerja maksimal di Lombok Timur, ibu Selly bekerja optimal sebagai pimpinan SKPD tentu saja capaian pembangunan akan lebih bagus,a��a�� katanya.

Sindiran lain juga disampaikan Ketua DPRD Lombok Timur HM Khairul Rizal yang juga politisi Demokrat. Menurutnya Rachmat sangat subjektif.

A�”Dia mengerti tidak soal saham Newmont,” kritiknya.

Saham daerah tersebut yang dimiliki provinsi hanya 40 persen.Sisanya dimiliki KSB 40 persen, Sumbawa 20 persen. Penjualan saham tidak mungkin terjadi jika KSB dan Sumbawa tidak setuju.

“Bupati KSB dan Bupati Sumbawa kan kader PDIP. Mestinya ditanya dulu ke KSB dan Sumbawa kenapa mau jual saham,” katanya.

Rizal menyayangkan belakangan ini PDIP mulai menyudutkan pemerintah provinsi sejak Selly sebagai istri Rachmat dimutasi dari Dinas Pendapatan ke Dinas Koperasi. Begitu juga ketika TGB menyindir para pejabatnya yang mau maju pilkada tidak pernah lapor, seolah-olah ada perintah bagi para kader PDIP untuk membela Selly.

“Dulu waktu Bu Selly pegang jabatan Kepala Dinas Pendapatan, PDIP adem-adem saja,” katanya.

Lucunya lagi, kata Rizal, Rachmat diam membisu ketika pemerintahan PDIP menaikkan harga BBM, tarif listrik, dan melambungnya harga sembako. Padahal itu yang membuat pertumbuhan ekonomi daerah melambat, daya beli semakin rendah dan kemiskinan nasional semakin buruk.

“Statemen Pak Rachmat itu terlontar setelah paket Ali-Selly menguat,” kata pria yang kini menjabat Ketua Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK) Demokrat NTB itu. (yuk/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka