Ketik disini

Selong

Lotim Mulai Terapkan Full Day School

Bagikan

SELONG– Penerapan sistem Full Day School (FDS) di sejumlah daerah yang ada di NTB mendapat penolakan sekolah hingga pesantren. Hal ini ternyata tidak terjadi di Lombok Timur (Lotim). Sebaliknya, penerapan kebijakan yang diinisiasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy ini mendapat dukungan berbagai pihak.

a�?Alhamdulillah kalau kami di sini didukung oleh wali murid dan Dinas Dikbud Lotim,a�? aku Kepala SMPN 1 Selong, Safrudin

Memang, ada beberapa orang yang menolak di awal sosialisasi. Namun, setelah diberikan penjelasan, wali murid akhirnya memahami tujuan dari diterapkannya FDS ini. Sistem ini pun dikatakan menjadi permintaan pihak SMPN 1 Selong sendiri kepada pihak dinas untuk mulai menerapkannya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Lantas bagaimana cara agar siswa tidak bosan? Mengingat mereka harus mulai masuk sekolah sejak pagi hingga sore. a�?Kami buat programnya sesuai dengan petunjuk dari pusat. Ada kegiatan ekstrakurikuler dan penguatan karakter. Jadi anak-anak tidak bosan,a�? tuturnya.

a�?Bahkan mereka senang-senang saja, karena siang harinya orang tua berlomba-lomba membawakan bekal anaknya. Ini yang bikin mereka senang,a�? imbuhnya.

Budi, salah seorang wali murid kepada Lombok Post mengaku untuk tahap awal ini, ia memang tidak ada keluhan dari putranya di SMPN 1 Selong. Sehingga, ia pun merasa tak masalah dengan penerapan sistem ini. a�?Kalau kita orang tua kan yang terpenting bagaimana anak-anak. Kalau mereka senang, kami juga ikut senang,a�? akunya.

Sementara Sekretaris Dikbud Lotim Jujuk Ferdianto menegaskan, penerapan FDS di Lotim tidak mengikat. Semua tergantung kondisi dan kesiapan sekolah itu sendiri. a�?Kalau sekolah sudah siap, silakan mengajukan. Yang penting komunikasi dengan komite, siswa dan wali murid bisa berjalan baik. Kami tidak mewajibkan sekolah harus FDS,a�? terangnya.

Saat ini sekolah yang menerapkan FDS di Lotim baru SMPN 1 Selong. Ini karena sekolah ini memiliki fasilitas sarana prasarana pendukung. Penerapan FDS di SMPN 1 Selong menerapkan pembelajaran dengan Kurikulum K-13.

A�a�?Lebih pada penguatan karakter dan imtaq dan pembiasaan aspek berbahasa,a�? jelasnya. Dimana di SMPN 1 Selong terdapat muatan lokal pembelajaran Bahasa Inggris hingga Bahasa Arab. Dengan banyaknya waktu anak di sekolah, Jujuk menilai mereka bisa terhindar dari pergaulan kurang positif di lingkungan luar.

a�?Kami tidak menolak FDS. Intinya semua kebijakan pemerintah harus dikaji, diimplementasikan baru di evaluasi. Jangan menolak tanpa dasar,a�? pungkasnya. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka