Ketik disini

Feature Headline

Mengenal Lalu Syaukani, Pelukis Ampenan yang Mendunia

Bagikan

Lukisannya pernah disobek dan digunting sang ayah. Dilarang kuliah seni rupa di ibu kota. Terpaksa pulang ke kampung untuk mengikuti perintah orang tua. Tapi itu semua itu tidak membuat semangat melukisnya padam. Malah jiwanya semakin menyatu dengan kanvas dan kuas. Dialah Lalu Syaukani, pelukis asal Ampenan yang namanya makin medunia.

***

Sosok perempaun bersayap itu turun ke bumi yang kocar kacir. Setengah menunduk, wajahnya tampak murung saat menatap ke bumi. Ia melihat ada kekacauan tengah melanda umat manusia. Dengan sayap kanannya, ia membawa sehimpun kata-kata yang hendak dihujamkan pada umat manusia, sumber dari segala kekacauan itu.

Perempuan itu adalah sosok malaikat yang digambarkan Lalu Syaukani dalam lukisannya berjudul a�?Pesan dari Langita�?. Dengan gaya impesionis dekoratif, sang pelukis menumpahkan emosinya di atas kanvas tentang segala kekacauan yang tengah melanda masyarakat modern saat ini. Perang meletus di berbagai belahan dunia, jutaan manusia meregang nyawa. Fitnah dah saling hujat menambah kekacauan yang tengah terjadi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Melalui lukisan setengah abstrak itu, Syaukani ingin menyampaikan pesan perdamaian, dan menyerukan agar umat manusia menghentikan segala kekacauan. a�?Sosok malaikat dalam lukisan itu adalah pembawa pesan dari langit,a�? katanya saat pameran lukisan tiga generasi di Hotel Santika, baru-baru ini.

Lukisan lainnya juga masih menggambarkan sosok malaikat bersayap yang sudah mendarat di bumi. Juga ada lukisan The Lost Gold Land, yang menggambarkan kerusakan di muka bumi akibat eksplotasi tambang emas, di atasnya ada bola golf raksasa yang siap menggelinding dan jatuh ke lubang yang menganga. Bola golf tersebut melambangkan permainan kalangan elite yang suka mempermainan rakyat dan bersekongkol dengan para pengusaha.

a�?Ekplorasi alam yang berlebihan itu tidak lebih dari permainan para elite,a�? kata Syaukani.

Itulah gaya yang ditampilkan Syaukanai. Coretan-coretan kuasnya seakan mengandung magis yang menyeret penikmat lukisan terbawa ke dalam emosi sang pelukis. Tidak heran, karya-karyanya banyak diminati para kolektor lukisan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga kolektor lukisan asal Belanda, Paris-Prancis, Jerman, Abu Dhabi-Uni Emirat Arab, termasuk beberapa dari Malaysia.

Salah satu penggemar lukisannya adalah Alfred Vestapen, sekitar 30 lukisannya sudah dibeli kolektor tersebut, dan dipajang di rumahnya.

Dua jenis lukisan yang paling banyak diincar kolektor adalah lukisan dengan sosokA� a�?angela�? dan a�?lost facea�?. Bahkan dua jenis lukisan itu telah menjadi ciri khasnya. Sosok malaikat bersayap dan wajah-wajah manusia yang memudar. Sosok angel dan lost face dalam setiap karyanya seakan menjadi ruh yang tetap hidup dalam dirinya.

Syaukanai menuturkan, karya-karya yang dibuatnya merupakan bentuk visual dari perasaan dan emosi yang dirasakan dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup, baik masalah keluarga, cinta, maupun persoalan sosial dan politik. Dengan lukisanlah ia menyampaikan segala perasaanya, dan dengan gaya impesionis dekoratif ia merasakan kepuasan tersendiri.

Seperti figur a�?engela�? yang kini hadir dalam setiap lukisannya adalah sosok sang ibu, Hj Baiq Aminah yang selama hidupnya menjadi malaikat pelindung bagi diri Syaukani. Karena hanya ibunyalah orang yang bisa memahami kegemarannya pada dunia seni rupa. Ia tidak hanya mendukung, tetapi melindungi Syaukani dari sosok sang ayah yang menentang dirinya menjadi pelukis.

Ayahnya, HL Wira Darma menentang keras dirinya menjadi seorang pelukis. Lukisannya pernah disobek dan digunting sang ayah karena tidak suka dengan hobi sang anak. Melukis bagi sang ayah sangat dilarang, karena sosok manusia yang digambar akan meminta nyawa kelak di akhirat. Pemikiran itulah yang membuat ayahnya menentang hobi sang anak.

Bahkan saat akan melanjutkan kuliah mengambil jurusan seni rupa di Jakarta, sang ayah menentang niat itu dan meminta ia kembali ke Mataram menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS). Anak sulung dari empat bersaudara ini akhirnya pulang kampung dan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Mataram. a�?Buat apa kuliah seni rupa, hanya jadi tukang cat, kata ayah saya saat itu,a�? tutur pria kelahiran Ampenan, 1966 itu.

Tapi diam-diam, Syaukani tetap menekuni hobinya melukis. Dengan berbagai media yang ada, Syaukani tetap menjadi pelukis, bahkan setelah lulus kuliah ia memilih menjadi pelukis, dan mulai melukis sampai akhinya menjadi pelukis profesional. Ia berusaha keras membuktikan kemampuannya melukis kepada semua orang, termasuk kedua orang tua.

Ia pun mengikuti seleksi pelukis tingkat nasional tahun 2012, ia menjadi salah satu peserta untuk wilayah Bali, NTB dan NTT. Dari NTB ada 12 orang pelukis yang ikut seleksi, bagi yang terpilih karya-karyanya akan dipajang di Galeri Nasional. Dan akhirnya, lukisannyaA� berjudul a�?Lombok Dreama�? dipilih mewakili NTB. Lukisan tersebut yang mengangkat tema rencana pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) dan kondisi masyarakat yang masih terbelakang.

Syaukani akhirnya bisa berbusung dada. Kini ia bisa membuktikan bahwa bakatnya adalah sesuatu yang berharga, dan membanggakan keluarga. Tapi sebelum berangkat ke Jakarta, sang ayah yang selama ini menentangnya mulai melunak. Dengan wajah tersenyum, pelan-pelan ayahnya mendekati dan bertanya penuh perhatian. Sosok yang selama ini menentang, kini berubah menjadi sosok lembut yang penuh perhatian. Ia menanyakan biaya yang akan digunakan untuk pergi ke Jakarta. Pertemuan itu menandakan ayah Syaukana bisa menerima bahwa sang anak memang terlahir sebagai pelukis. Kemudian ia berjalan pelan ke belakang rumah, dan duduk di atas kursi.

Syaukani pun merasa lega, dan rasa bangga menyelimuti dirinya. Tapi ia tidak menyangka bahwa pertemuannya itu menjadi perjumpaan terakhir dengan sang ayah. Di atas kursi, sang ayah menghembuskan nafasA� terakhir karena terkena serangan jantung.

Peristiwa itu memberikan pukulan telak bagi dirinya. Perasaannya hancur terkoyak karena belum sempat berbincang dan meminta maaf kepada sang ayah. Rasa kehilangan mendalam itu akhirnya menginspirasinya untuk membuat lukisan a�?lost facea�? yakni wajah-wajah yang mulai hilang. Itu dilakukan untuk mengenang sang ayah yang ia cintai, demikian juga dengan sosok a�?angela�? lambang cintanya kepada sang ibu.

Cintanya kepada sosok orang tua itulah yang mengantarkan Syaukani sebagai pelukis yang sukses. Ia mampu mengkristalkan rasa cinta, perasaan kasih sayang dan emosinya ke dalam lukisan. (SIRTUPILLAILI, Mataram/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka