Ketik disini

Bima - Dompu Headline

Tak Dapat Beasiswa Miskin, Empat Siswa Mengamuk

Bagikan

KOTA BIMA a�� Kesal tak pernah mendapat beasiswa miskin, empat siswa SMPN 14 Kota Bima mengamuk. Ironisnya, mereka mengamuk dan mengangkat meja di depan guru saat proses belajar berlangsung.

Empat siswa itu mengaku mendapat perlakuan kasar dan dianiaya oleh guru saat pembinaan. Dari penuturan empat siswa, F, D, R dan Y mengatakan, awalnya mereka tidak terima dengan keputusan sekolah. Karena mereka tidak pernah mendapat beasiswa miskin selama tiga tahun bersekolah.A�Mereka marah dan mengamuk hingga mengangkat meja sebagai bentuk protes.

“Kami mengamuk dan mengangkat meja, karena tidak terima keputusan sekolah,” ujar F, yang didampingi tiga rekan lainnya, Jumat (18/8).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”579″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Setelah itu lanjut F, guru langsung memukulnya mulai dari bagian kepala, hingga kaki. Menurut F, pemukulan yang dilakukan sangat keras hingga menimbulkan luka.A�Sedangkan tiga rekan lainnya yakni D, R dan Y dipukuli guru saat hendak membeli air minum pada jam pelajaran masih berlangsung.

“Saat saya meminta izin untuk keluar membeli air minum, saya dilarang dan dipukul,” tutur D sembari memperlihatkan bagian tubuh yang terluka.

Orang tua F, Rita Nurlaila mengaku dirinya sudah mendapat laporan terkait hal itu. Bahkan ia sudah menghadap kepala sekolah dan menceritakan kejadian yang menimpa buah hatinya. Rita mengaku kaget, ketika anaknya menunjukkan bekas luka akibat pemukulan tersebut.

“Masak dibina seperti ini. Kok badan anak saya sampai luka,a�? cetus Rita.

Tak terima dengan hal tersebut, Rita bersama tiga anak lainnya berencana akan melaporkan hal itu ke pihak berwajib dan Dikbud Kota Bima. Menurutnya, ia sengaja akan melapor agar bisa disikapi serius dan ditindaklanjuti. Supaya ke depan tidak terulang kembali.

Sementara itu Kepala SMPN 14 Kota Bima Arsyad yang dikonfirmasi membantah adanya tindakan pemukulan yang diceritakan siswanya. Apalagi hingga menyebabkan luka yang membuat kondisi siswa tidak stabil.

“Kami hanya melakukan tindakan pembinaan, itupun sifatnya hanya memberikan pelajaran kepada siswa yang nakal. Bukan menganiaya, hingga menyebabkan siswa teluka di bagian tubuh,” tegasnya.

Arsyad menjelaskan, penyebab siswa mengamuk karena tidak mendapatkan beasiswa miskin. Menurutnya, sekolah tidak berwenang menentukan siapa saja yang akan menerima bantuan itu. Sekolah hanya menyerahkan data dan nama siswa, keputusan ada di pemerintah pusat.

“Bila ingin protes, jangan marah dan mau angkat meja dong. Ini sudah perbuatan melanggar etika, apalagi ini dilakukan oleh siswa SMPN, saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Wajar guru melakukan pembinaan, tapi tidak ada maksud melukai,” tegasnya.

Soal sikap siswa dan orang tua yang ingin melanjutkan hal ini ke polisi dan Dikbud, Arsyad mengaku siap menghadapi dua lembaga tersebut jika dipanggil.

A�”Sebagai warga negara yang taat hukum, saya siap memberikan keterangan,” tambahnya.

Kepala A�Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bima Alwi Yasin yang dikonfirmasi mengatakan belum bisa berkomentar banyak soal insiden tersebut.A�Namun dipastikannya, ia akan memanggil seluruh pihak terkait untuk diklarifikasi. Hasil klarifikasi akan menjadi pertimbangan pengambilan sikap dinas terhadap oknum guru yang diduga melakukan pemukulan. A�(tin/r4)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka