Ketik disini

Headline Metropolis

Krisis Air Ancam 640 Ribu Jiwa

Bagikan

MATARAM-Tengah tahun baru lewat, kekeringan sudah mencekik NTB. Kesulitan air bersih telah membuat susah hidup 640.048 jiwa. Mereka bermukim di 318 desa yang tersebar di 71 kecamatan di seluruh NTB. Kekeringan terparah terjadi di Lombok Tengah di mana sembilan kecamatan sudah terpapar.

Lombok Tengah bersama Kabupaten Bima dan Lombok Barat bahkan kini sudah menyerah. Eskalasi kekeringan yang terus meluas menyebabkan mereka tak mampu mengatasi sendiri. Pasokan air bersih pun keteteran.

Tiga kabupaten tersebut telah melayangkan surat ke Badan Penangulangan Bencana DaerahA� (BPBD) NTB, meminta bantuan air bersih. Tiga daerah tersebut, resmi ditetapkan sebagai daerah darurat kekeringan, menyusul Lombok Utara yang telah lebih dulu menyandang status serupa.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Permintaan tiga daerah ini jadi dasar kita memberikan bantuan,a�? kata Kepala BPBD NTB H Muhammad Rum, kemarin (21/8).

Rum mengatakan, Donggo di Bima menjadi lokasi terparah yang dilanda kekeringan. BPBD NTB sudah memperbantukan satu unit mobil tangki, khusus untuk memasok air bersih di sana.

Meski baru tiga daerah yang menyerah dan meminta bantuan, namun kata Rum, kekeringan sebetulnya saat ini sudah hampir merata terjadi di semua kabupaten/kota di NTB. Kecuali Kota Mataram. Namun, kalau ada daerah yang belum minta bantuan ke provinsi, menurut Rum, skalanya masih bisa ditangani di kabupaten/kota setempat.

Data BPBD NTB menyebutkan, total ada 127.940 KK setara 640.048 yang hidupnya terdampak akibat kekeringan ini. Kekeringan terparah terjadi di Lombok Tengah dengan 9 kecamatan, 82 desa, dengan 13.278 KK atau 282.793 jiwa. Diikuti Lombok Timur dengan 9 kecamatan, 48 desa, 51.585 KK atau 153.681 jiwa.

Kemudian di Kabupaten Sumbawa ada 18 kecamatan yang terdampak, dengan 60 desa dan 23.706 KK atau 84.998 jiwa. Sementara di Kabupaten Bima ada 9 kecamatan, 42 desa,A� 8.203 KK dan 24.608 jiwa yang kekeringan.

Ironisnya, Lombok Barat yang merupakan daerah subur juga terkena kekeringan. Ada 6 kecamatan dan 25 desa mengalami kekeringan dengan 6.678 KK dan 20.034 jiwa penduduk. Lombok Utara yang sebagian besar wilayahnya berada di kawasan hutan Rinjani juga ikut kekeringan. Tahun ini adaA� 4 kecamatan dengan 18 desa yang kekeringan. Jumlah KK yang terdampak sebanyak 11.552 dengan 33.138 jiwa penduduk.

Di Kabupaten Dompu terdapat 6.113 KK dengan 19.186 jiwa yang terdampak kekeringan. Mereka menyebar di 7 kecamatan dan 25 desa. Sementara Sumbawa Barat ada 6.258 KK yang terdampak dengan 18.775 jiwa mengalami krisis air bersih tersebar di 4 kecamatan dan 10 desa. Dari semua daerah itu, hanya Kota Mataram yang tidak mengalami kekeringan.

Muhammad Rum mengatakan, saat ini tengah terjadi musim kemarau basah. Artinya sesekali masih terjadi hujan di beberapa wilayah. Sehingga kekeringan belum terlalu menganggu pertanian.

a�?Tapi kalau Oktober-November tidak turun hujan, maka dampak kekeringan akan semakin meluas,a�? kata Rum.

Untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih besar, BPBD bersama instansi lain dan pemda kabupaten/kota sudah melalukan rapat koordinasi, merumuskan apa saja langkah yang bisa dilakukan. Menurutnya, droping air kepada warga setiap terjadi kekeringan bukan solusi jangka panjang. Karena itu hanya akan membiasakan mereka berebut air bersih dari pemerintah.

Maka solusi yang paling tepat adalah dengan memperbaiki hutan. Sebab, bencana yang terjdi tidak lain akibat rusaknya alam. Pada saat hujan terjadi banjir, kemudian saat musim kemarau terjadi kekeringan luar biasa. a�?Tidak ada kata lain selain memperbaiki hutan,a�? katanya.

Secara teknis ada beberapa program yang coba dilakukan untuk mengatasi kekeringan. Di antaranya memperbanyak sumur bor dalam dengan kedalaman 100-150 meter, dengan harapan bisa digunakan sebagai sumber mata air. Tahun ini sudah ada 10 sumur bor baru yang akan dibangun pemerintah melalui APBD.

a�?Untuk lokasinya kita minta supaya ditentukan pemda yang menentukan, dan harus klir agar tidak ada yang mengaku-ngaku di kemudian hari.

Program lain yang akan dilakukan adalah pipanisasi, dengan mencari mata air baru untuk dialirkan ke rumah warga, dan keempat dengan memanfaatkan bendungan dan embung yang ada di tiap desa. Mestinya air tersebut tidak hanya digunakan untuk pengairan irigasi, tetapi juga sebagian bisa diolah sehingga menjadi air yang layak.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik menambahkan, droping air bersih sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Hingga saat ini, distribusi air bersih masih tetap dilakukan petugas Tagana di lapangan. Jumlah mobil tangki yang dimiliki Dinas Sosial sebanyak sembilan unit kendaraan. Enam di antaranya di Pulau Lombok dan tiga lainnya ada di Pulau Sumbawa. Seluruh monil itu telah dikerahkan untuk menyuplai air bersih.

Tugas Dinas Sosial dalam hal ini kata dia, hanya membantu droping air. Sementara untuk program lainnya, ada di BPBD dan Dinas PUPR. a�?Yang penting juga saat ini, pemerintah kabupaten harus mengerahkan semua kemampuannya untuk mengatasi kekurangan air,a�? imbuhnya. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka