Ketik disini

Kriminal

Ayah dan Anak Ngebom Ikan di Perairan Bima

Bagikan

MATARAM-Praktik penangkapan ikan dengan menggunakan bom masih mengancam ekosistem perairan NTB. Ini dibuktikan dari penangkapan tiga nelayan yang dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, TNI AL, dan Satuan Pengawas (Satwas) Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (SDKP) Lombok Timur (Lotim).

Ketiga orang yang ditangkap, yakni M Said, 53 tahun, Edransah, 23 tahun, dan Dewansah, 19 tahun. Pelaku yang seluruhnya merupakan ayah dan anak ini, ditangkap di Perairan Teluk Sanggar, Kabupaten Bima, pada akhir Juli lalu.

Setelah serangkaian penyidikan, tiga orang tersebut akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Kemarin (24/8), mereka juga telah menjalani proses pelimpahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dari penyidik Satwas SDKP DKP ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Koordinator Satwas SDKP Lotim Rio Madya Putra mengatakan, pelaku ditangkap petugas gabungan yang melakukan patroli di sekitar TKP. Sesaat setelah pelaku melepas bom dan akan mengambil hasilnya.

a�?Mereka baru ambil ikan sekitar 3 kilogram, kemudian ditangkap. Saat itu juga kami tangkap dan giring ke Pos AL di Calabai, Dompu,a�? kata Rio, kemarin.

Bom ikan yang digunakan pelaku diktehui berbahan baku pupuk. Ditempatkan di dalam botol kaca ukuran tanggung. Untuk meledakkannya pelaku merangkainya dengan kabel dan baterai.

Rio mengatakan, pihaknya tidak dapat memastikan daya ledak dari bom ikan tersebut. Namun, mereka dapat menduga jika radius aman sebelum meledakkan bom, berada pada jarak 10 meter. Daya ledaknya diperkirakan bisa berdampak sangat parah terhadap ekosistem terumbu karang.

Pola pengeboman yang digunakan pelaku, diperkirakan membuat petugas patroli kesulitan mendeteksinya. Sebab, Said menurunkan bom hingga kedalaman belasan meter dan memicunya dari atas perahu.

a�?Tidak ada percikan atau gelombang di permukaan setelah bom diledakkan, jadi suaranya itu tidak terdengar,a�? kata Rio.

Saat diinterogasi petugas, Said mengaku ia lebih memilih menggunakan bom untuk mencari ikan karena kepraktisannya. Bisa mempersingkat waktu melaut dan mendapatkan ikan yang cukup banyak.

a�?Waktunya lebih pendek. Setengah jam sudah bisa dapat banyak,a�? ujarnya.

Apa yang dilakukan Said dan kedua anaknya, kata Rio, berawal dari kebiasaan. Juga dari latar belakang pendidikan. Itu semua mempengaruhi cara tangkap yang dilakukan pelaku.

Terlepas dari itu, kini Said terancam hukuman pidana penjara maksimal enam tahun. Berdasarkan Pasal 84 ayat 1 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Sementara kedua anaknya dikenakan Pasal 55 KUHP.

a�?Said sebagai pemilik bahan peledaknya,a�? kata Rio.

Sementara itu, Said mengaku mendapatkan bom tersebut dari seseorang di pinggir pantai. Orang tersebut menawarkan satu botol kaca ukuran sekitar 1,5 liter berisi bom ikan. Karena tidak mempunyai uang, Said menukarnya dengan beras. Jika di rupiahkan, satu botol bom ikan berharga Rp 150 ribu.

a�?Ditawari orang di pantai, saya ambil terus kasih beras,a�? ujarnya saat tahap II di Kejati NTB.

Sebelum ditangkap, Said rupanya pernah mencicipi jeruji besi di Rutan Bima pada 2006 silam. Kasusnya pun sama seperti yang saat ini menjeratnya. Saat dihukum pertama kali, Said menjalani vonis 18 bulan penjara.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka