Ketik disini

Metropolis

DPMPTSP Bantah a�?Masuk Angina�?

Bagikan

MATARAM-Polemik PT Tetra Mitra Abadi (PT TMA) dengan sejumlah warga Tembelok, Mandalika, Sandubaya, Kota Mataram masih dalam proses mediasi. Namun Sekretaris Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram Bambang Juni Wartono merasa perlu meluruskan informasi yang beredar. Terutama soal isu DPMPTSP a�?masuk angina�? alias menerima uang dari PT TMA saat pengurusan izin berlangsung.

Menurut Bambang, pihaknya tidak pernah menerima kontribusi apapun dari terbitnya izin PT TMA. Tahap perizinan, sudah berjalan sesuai dengan prosedur seharusnya. a�?Tidak ada kontribusi ke perizinan,a�? tegas Bambang.

Namun, jika yang dimaksud adalah kontribusi bagi warga yang menyetujui kehadiran perusahaan itu, tentu hal tersebut di luar dari kuasa DPMPTSP. Juga bukan kewenangan pihaknya membahas hasil kesepakatan antara warga dengan perusahaan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Kalau yang dimaksud uang kerohiman itu, ya saya rasa itu antara perusahaan dengan warga,a�? tegasnya.

Ia hanya perlu menegaskan, jika pihaknya tidak menerima apapun dalam terbitnya izin PT TMA. Ketika semua syarat dan prosedur telah mereka penuhi, maka tidak ada alasan bagi DPMPTSP untuk menolak mengeluarkan izin investasi PT TMA.

Seperti disebutkan dalam klausul antara warga dengan PT TMA, sebagai kontribusi atas bersedianya warga menerima beroperasinya PT TMA, maka warga dan masjid Tembelok akan mendapat kontribusi sebesar Rp 170 juta. Sebesar 50 persen, anggaran sudah dicairkan perusahaan.

a�?Iya sudah diterima pihak pertama (warga),a�? terang Lurah Mandalika Nasrudin, dalam sesi mediasi beberapa waktu lalu.

Cairnya kontribusi kesepakatan sebesar 50 persen, sebagai tanda a�?sahnyaa�� masyarakat menerima kehadiran PT TMA. a�?Ya memang ada yang kosong, tetapi mayoritas sudah tanda tangan,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka