Ketik disini

Praya

Kemarau, Embung Jadi Lapangan Sepakbola

Bagikan

PRAYA-Kekeringan di embung Dusun Orong Gedang Desa Mangkung, Praya Barat Lombok Tengah (Loteng), seperti bukan hal yang mengangetkan. Karena, setiap tahunnya terjadi. Di satu sisi, pemerintah seperti tidak pernah memberikan solusi.

a�?Di sisi lain, kami sudah berkali-kali meminta dan memohon bantuan,a�? keluh Kepala Desa (Kades) Mangkung Syamsul Rizal pada Lombok Post, kemarin (24/8).

Ia mengatakan, embung yang berdiri di Dusun Orong Gedang tersebut, merupakan embung tadah hujan. Begitu ada hujan, baru airnya melimpah ruah. Sebaliknya, kalau musim kemarau kering kerontang. Begitu seterusnya, setiap tahun, tidak pernah selesai.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”105″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Untuk memutuskan mata rantai kekeringan, pihaknya mengaku sudah mengusulkan ke Pemkab hingga BWS, guna melakukan galian kedalaman. Dengan harapan, menemukan sumber mata air atau menambah daya tampung embung. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada tanggapan.

a�?Pernah beberapa kali, pihak BWS datang meninjau. Tapi, kok mereka tidak datang lagi,a�? sesalnya.

Embung yang satu itu, tambah Rizal dimanfaatkan warga untuk bertani, hingga kebutuhan mandi dan mencuci pakaian. Yang memanfaatkannya yaitu, warga di Dusun Orang Gendang sendiri. Kemudian, Dusun Mangkung Lauk dan Dusun Bat Eat. Termasuk, beberapa dusun di Desa Banyu Urip.

Embung tersebut, lanjutnya dibangun pada tahun 1960 silam. Embung itu juga sudah beberapa kali direnovasi. a�?Kalau musim kering begini, embung dimanfaatkan untuk lapangan sepakbola,a�? kata Rizal.

Tanah yang pecah dan retak-retak, diakui Rizal tidak menghalangi warga bermain sepakbola. Wajar saja, karena di Desa Mangkung tidak ada fasilitas semacam itu. a�?Kalau embung kering, maka sumur milik warga pun ikut kering,a�? katanya.

Potret yang sama, beber Rizal terjadi di embung Dusun Jangkih Jawe. Warga pun terpaksa mengambil air di dusun tetangga hingga desa tetangga lainnya. Bahkan, membeli. a�?Karena Mangkung Desa tetangga, maka kami merasakan hal yang sama juga,a�? cetus kades Bonder Lalu Hamzan.

Namun, tekan Hamzan kekeringan terjadi pada lahan pertanian saja. Sementara, air bersih sudah tertangani melalui sumur bor, yang dibangun sebanyak 19 titik di 20 dusun. Tahun ini, dianggarkan lagi untuk membangun sumur bor sebesar Rp 350 juta. a�?Alhamdulillah,a�? ujarnya.

Hal yang sama dikatakan kades Tanak Awu, Pujut Lalu Nudiana. Dikatatakannya, satu-satunya solusi untuk menghadapi krisis air bersih, A�adalah, membangun sumur bor. Sedangkan, solusi menghadapi kekeringan lahan pertanian, membangun embung. a�?Kita berharap, Pemkab ikut mengintervensi,a�? kata Nudiana.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H Muhamad menilai, jika aparatur pemerintah desa fokus membangun persoalan air bersih dan irigasi pertanian, maka tidak perlu mereka bergantung pada pemerintah. Terlebih, anggaran pembangunan desanya besar. a�?Tapi, sekarang tergantung dari desa itu sendiri,a�? katanya.(dss/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka