Ketik disini

Headline Metropolis

Akibat Kekeringan, Warga Kaki Rinjani Saja Menjerit

Bagikan

MATARAM-Kekeringan tidak hanya melanda daerah tandus seperti Lombok bagian selatan. Warga yang hidup di dekat mata air hutan Gunung Rinjani pun hidupnya merana. Air ternyata juga di kaki Rinjani telah menjadi barnag yang langka.

Jangan heran, kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga mulai kepayahan. Seperti yang dialami warga Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela Lombok Timur.

Desa yang berada di kaki Gunung Rinjani itu pun kini berubah menjadi padang tandus. Pepohonan dan semak di sepanjang jalan kering. Saluran irigasi dan sungai di wilayah itu hanya menyisakan batu. Sementara di saluran air, tak ada setetes air pun yang ada. Rumah-rumah warga yang berada di daerah puncak pun kini tidak kalah gersang.

Inaq Ramdan, salah seorang warga di Desa Puncak Jeringo kepada Lombok Post kemarin berteriak kegirangan saat dua tangki mobil Dinas Sosial berhenti dan membagikan air bersih di depan rumahnya. a�?Nah, sekarang jak A�bisa kita mandi,a�? katanya berkelakar disambut tawa warga lainnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ia mengaku kesulitan mendapatkan air bersih dalam sebulan terakhir. Air yang biasa dialirkan dari hutan ke rumah penduduk menggunakan pipa, kini justru airnya sudah seret. Airnya kadang ada, kadang tidak sama sekali. Kalaupun ada, debitnya tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itu hanya cukup berwuduk sekadarnya.

a�?Mandi saja sekali sehari. Kadang juga tidak mandi,a�? akunya.

Berkaca pada tahun lalu, Amaq Kaman, warga lainnya mengaku debit air dari pipa-pipa yang sangat kecil itu biasanya berlangsung hingga empat bulan. Kalau sudah begitu, warga pasti akan kekurangan air. a�?Kalau sangat butuh kami pergi memikul ke atas gunung,a�? katanya.

Air memang menjadi barang langka di desa itu sejak kekeringan melanda. Warga tidak bisa lagi menikmati air bersih seperti biasa, baik untuk mandi maupun untuk konsumsi sehari-hari. Padahal sekitar 7 km dari wilayah permukiman ada mata air Dangiang yang berada di dalam hutan Rinjani. Selain itu juga ada mata air Selir yang berjarak sekitar 4 km. Tapi dua mata air itu seperti tidak berarti. Permukiman yang sebagian besar penduduknya adalah transmigran itu kini krisis air bersih.

Sahwan, tokoh masyarakat setempat mengaku, setiap bulan Agustus hingga November kampung mereka selalu kekeringan. Kondisi itu membuat warga kerap kesusahan. Meski air masih ada, tetapi tidak mencukupi. Air tersebut dialirkan dari mata air Selir di kawasan hutan. a�?Pipanya sudah ada tetapi airnya sangat kecil,a�? katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan air, Inaq Udin warga setempat biasanya berkeliling ke rumah tetangga yang memiliki persediaan air lebih. Ia biasa diberikan air pada pekasih. a�?Sekedar kadu ngelaq doang jak lalo doang ite ngedeng, (Sekedar buat masak saya pergi minta)a�? katanya.

Tidak heran, warga ramai-ramai menampung air yang dibawakan petugas Tagana Dinas Sosial ke rumahnya. Tidak ada antrean dalam pembagian air tersebut, sebab jarak antarrumah di desa itu berjauhan, sehingga mobil tangki membagikan dari rumah ke rumah.

Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik menjelaskan, pendistribusianA� air bersih tersebut dilakukan karena ada permintaan dari warga setempat, serta laporan dari Babinkamtibmas, sehingga pihaknya turun membagikan air. Tujuannya untuk meringankan beban warga yang mengalami kekeringan.

Dinas Sosial sendiri sudah melakukan droping air ke wilayah kekeringan sejak bulan Ramadan lalu. Sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan sudah diberikan bantuan air bersih seperti di Jerowaru, Lombok Timur untuk 12.674 KK atau 54.886 jiwa. Terakhir di Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela. Kemudian di Lombok Barat di Desa Jembe 340 KK, Desa Batu Layar 390 KK, Desa Batu Layar Utara 74 KK.

Kemudian di Lombok Utara, di Kecamatan Kayangan, Desa Salut dan Desa Selengan. Kecamatan Tanjung dua desa dengan 745 KK atau 3.936 jiwa, Kecamatan Kayangan di enam desa 925 KK atau 4.159 jiwa, Kecamatan Bayan dua desa dengan 608 KK dan 1.849 jiwa.

Permintaan droping air terbaru datang dari Pemkab Lombok Tengah. Mereka meminta bantuan droping air di enam kecamatan yakni Praya Timur, Pujut, Praya Tengah, Praya Barat, Paya Barat Daya, dan Jonggat.

a�?Rencananya hari Senin kita akan droping di wilayah Lombok Tengah,a�? kata Khalik.

Sementara di Pulau Sumbawa, juga sudah diberikan bantuan air bersih di Kabupaten Sumbawa di dua desa yakni Desa Klungkung, dan Desa Krato. Untuk dua desa itu droping air bersih dilakukan Dinas Sosial setempat. Kemudian ada juga permintaan dari masyarakat di Dompu untuk tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Huu, Pajo, Woja,Kilo, Pekat, Kempo, dan Kecamatan Lanci. Untuk wilayah Kota Bima di Rasa Nae Barat sementara di Kabupaten Bima di wilayah Donggo.

a�?Droping air ini kita lakukan sampai nanti bulan Desember,a�? katanya.

Pendistribusian air bersih itu dilakukan secara rutin, dilakukan setiap tiga minggu sekali per lokasi. Pihaknya sudah menjadwalkan setiap minggunya daerah mana saja yang akan diberikan bantuan air. Untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mungkin masih dilakukan oleh BPBD masing-masing kabupaten. a�?Tapi koordinasi kita tetap lakukan,a�? katanya.

Dinas Sosial lebih aktif karena memang sudah menganggarkan setiap tahunnya untuk antisipasi kekeringan. Dana yang dialokasikan sekitar Rp 200 juta untuk biaya operasional saja. Sementara airnya tidak bayar karena mengambil langsung di sumbernya di wilayah Lombok Barat. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka