Ketik disini

Headline Metropolis

TNGR Beri Lampu Hijau Pembangunan Hotel dan Kereta Gantung

Bagikan

MATARAM-Kereta Gantung memungkinkan untuk dibangun di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Tapi untuk melakukan itu, banyak syarat yang harus dipenuhi. Selain itu, biaya besar yang harus juga diperhitungkan dengan matang.

Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Agus Budi Santoso mengatakan, hingga saat ini belum ada permohonan ke TNGR untuk pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani. “Surat resminya belum ada. Baik dari investor maupun pemerintah kabupaten,” tegasnya.

Menurutnya, peraturan perundang-undangan memungkinkan untuk pembangunan kereta gantung di TNGR, termasuk juga hotel dibolehkan. Seperti taman nasional di negara-negara maju. Mereka sudah membangun hotel dan kereta gantung. Tetapi, membangun di taman nasional ada alokasi ruang khususnya. Itu yang disebut zona pemanfaatan. Sebab di dalam taman nasional itu dibagi menjadi beberapa zona. Yakni, zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona rehabilitasi, zona pemanfaatan tradisional, dan zona khusus.

a�?Investor itu hanya boleh menyediakan sarana wisata alam, hanya boleh di blok usaha di dalam zona pemanfaatan,a�? kata Agus beberapa waktu lalu.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Zona pemanfaatan di dalam taman nasional sendiri dibagi menjadi dua, yakni blok usaha dan blok publik. Investor hanya boleh melakukan kegiatan di blok usaha. Jadi secara teoritis pembangunan kereta gantung dimungkinkan, kalau ketersediaan ruangnya ada. Tapi apakah ruang itu ada atau tidak, pihak TNGR belum tahu. Sebab mereka belum membaca usulan rencana pembangunan kereta gantung. Jika sudah ada permohonan, maka baru TNGR bisa menyatakan boleh dan tidak boleh. a�?Tapi belum ada permohonan sampai sekarang, jalurnya ke mana kita tidak tahu,a�? katanya.

Menurutnya, kereta gantung tidak merusak alam. Sebab di beberapa gunung seperti di Changbai Montain China dibangunkan jalan beton 8 meter sampai ke danau. Kemudian di Amerika Serikat Yelow Stone Yellow Sweet juga diaspal 8 meter tidak masalah. Sebab taman nasional bukan untuk MICE tourism, tetapi untuk ecowisata. a�?Dari sisi pemahaman ekonomi saya, kereta gantung itu biayanya tidak murah,a�?katanya.

Dengan biaya yang sangat mahal, tapi yang naik sedikit maka kapan akan balik modalnya. Pihak swasta tidak akan mungkin membangun tanpa ada hitung-hitungan keuntungan. a�?Kalaupun ada pihak yang mau membangun,A� pasti saya tidak akan bolehkan sampai ke puncak, tidak akan mungkin,a�? katanya.

Karena konsep kereta gantung tidak boleh naik sampai ke puncak, karena segmennya pasti akan terganggu. Bahkan sampai danau Segara Anak pun akan terlalu berat, medannya akan sangat susah. Tanahnya bukan tanah bebatuan, tetapi didominasi tanah pasir dengan kedalaman 4-5 meter, setelah itu ada batuan lepas, bukan batuan induk yang solit. Padahal jika membangun bangunan yang masif dan berat pondasinya harus kuat. a�?Biayanya akan sangat besar,a�? katanya.

Maka jika ada orang ingin membangun ia mempersilakan asal aturan hukum dipenuhi. Sedangkan masalah untung dan rugi itu akan menjadi urusan pengusaha. Tetapi ia menyarankan, jika ingin membangun Gunung Rinjani menjadi lebih elok, masih ada alternatif lainnya. Seperti dengan menyediakan kuda untuk naik gunung. Menurut dia, hal itu lebih memungkinkan, orang naik gunung naik kuda.

Bila dipaksakan membuat kereta gantung, juga perlu dipertimbangkan untung ruginya.

Berdasarkan data, kunjungan wisatawan ke Rinjani hanya 92 ribu orang dalam setahun, baik lokal maupun mancanegara. Sehingga investor perlu mempertimbangkan hal itu sebelum membangun.

a�?Taman Nasional Gunung Rinjani ini seksi, hanya karena porsi wisatawan asingnya besar,a�? kata Agus.

Jumlah wisatawan asing yang ke Rinjani antara 30-40 persen, hal itu tidak ditemukan di tempat wisata lainnya di Indonesia. Tapi jumlah kunjungan sangat terbatas, karena dia masuk dalam wisata minat khusus. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka