Ketik disini

Headline Metropolis

Mengenal Tradisi Pemakaman Warga Tionghoa

Bagikan

Kematian merupakan topik yang dianggap tabu oleh warga Tionghoa. Banyak dari mereka berusaha tidak membicarakannya. Namun, beberapa warga Tionghoa NTB secara eksklusif berbicara dan bercerita kepada Lombok Post. Berikut laporannya.

***

Dalam keyakinan warga Tionghoa, kebutuhan orang yang sudah mati dengan masih hidup sama. Itu menjadi alasan makam warga Tionghoa selalu besar dan rapi, bak sebuah taman. Mereka juga percaya ada kehidupan akhirat. Yakni kehidupan setelah meninggalkan dunia.Menurut keyakinan warga Tionghoa, orang yang telah wafat, ingin mendapatkan tempat yang layak sebagai tempat tinggal terakhir. Tempat yang aman dan bersih. Sehingga arwah merasakan seperti waktu hidup. Karena itulah, jamuan terakhir dari orang yang masih hidup sangat diperlukan.

Dan ini juga dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa Lombok. Mereka masih menjaga tradisi leluhur dengan sangat kuat. Seperti yang Lombok Post saksikan langsung beberapa waktu lalu di Ampenan, Kota Mataram.

Di rumah duka, sebuah lampion tergantung. Rumah yang ada di kawasan pecinan dekat eks Pelabuhan Ampenan itu, lampion tersebut menjadi satu-satunya lampion yang terpasang di deretan bangunan tua penuh sejarah tersebut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

“Itu tanda si empunya rumah sedang berduka,” kata Ardi Wirja Ang, Kepala Bidang Duka Perkumpulan Bhakti Mulya.

Bagi masyarakat Tionghoa, lampion itu adalah penanda. Penanda sedang ada kematian di rumah yang memasangnya. Biasanya, dalam lanpion itu ada juga penjabaran terkait nama lengkap, usia, hingga asal suku. “Ditulis dalam huruf kanji,” katanya.

Begitu ada kabar duka, Perkumpulan Bhakti Mulya akan langsung bersiap. Apapun agamanya, mereka yang sama-sama warga keturunan membantu dengan sukarela. Tim yang sudah kebagian tugasnya masing-masing akan bekerja. Mulai dari mengumumkan pada khalayak, hingga mempersiapkan prosesi pemakaman.

Hendi Kang, yang mengurusi Bidang Sosial di perkumpulan itu menjelaskan ragam ritual dan kebiasaan yang harus dilakukan. Pria yang terus mempelajari kebudayaan leluhur secara mendalam itu mengatakan, jenazah biasanya tak langsung dimakamkan. Ada waktu untuk disemayamkan. Bisa satu, tiga, lima, atau tujuh hari lamanya.

Tujuannya adalah menanti sanak keluarga berkumpul hingga lengkap. Selama itu, lantunan doa-doa terus dibacakan sesuai agama yang dianut. “Sembari disemayamkan, peti jenazah belum ditutup,” jelasnya.

Pakai Pakaian Berlapis Tujuh

Di dalam peti tersebut, jenazah dibaringkan. “Salah satu tradisi kami adalah memakaikannya pakaian berlapis-lapis,” kata Wijanarko Tanaya yang mengurus bagian ritual di Bhakti Mulya.

Pakaian yang dipakai bisa hingga berlapis tujuh. Pakaian tersebut adalah pakaian asli milik si jenazah. Pakaian-pakaian terbaik dipilihkan, untuk dikenakan saat terakhir. Pada rangkap terakhir yang paling luar, jas resmi menjadi pakaian yang selalu dipasangkan.

“Kepercayaan leluhur kami, pakaian-pakaian itu untuk dipakai saat menghadap di alam sana,” Hendi Kang menambahkan.

Hari ketiga setelah dimakamkan, biasanya keluarga akan kembali berkunjung. Sejumlah ritual sembahyang dilakukan. Masyarakat Tionghoa meyakini pada hari tersebut, ruh akan berpisah dengan jasadnya. Selain perlengkapan sembahyang termasuk dupa dan bunga, ada juga “soa peng” sejenis jajan wajik yang merupakan salah satu jajanan khas.

Saat itu, arwah diyakini akan mencicipi makanan yang dihidangkan. Karena baru meninggal, ia tak menyadarinya. Baru ketika mencicipi soa peng tersebut, kuku tangannya akan lepas. “Akhirnya dia sadar kalau sudah meninggalkan dunia ini,” katanya menjelaskan.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, ada hari berduka. Lama berkabung itu dulunya mulai dari satu pekan hingga empat puluh hari, bahkan ada yang mencapai satu tahun. “Tapi sekarang karena tuntutan zaman, waktu berkabung umumnya hanya tiga hari saja,” jelasnya.

Saat berkabung itu, ada pita hitam yang dikenakan di lengan kanan sebagai penanda. Keluarga yang ditinggalkan biasanya juga dilarang melakukan kegiatan berbau pesta. Termasuk menghadiri undangan. Bahkan mengenakan pakaian berwarna merah yang menjadi lambang bahagia juga tak disarankan.

Sedang “ciong” atau apes adalah istilah yang disematkan pada mereka yang ditinggal wafat keluarganya dan dalam keadaan berkabung. “Ke klenteng untuk urusan budaya juga tak boleh, bolehnya hanya ke vihara untuk urusan ibadah,” jelas Hendi Kang.

Ritual, pantangan, arahan tak hanya untuk mereka keluarga yang ditinggalkan saja. Ada juga untuk si jenazah. Misalnya terkait kuburan. Bentuk makam, ukuran, jenis, dan sebagainya sangat bergantung sejumlah “feng shui” hitung-hitungan baik buruk.

Salah satu pakem feng shui ajek yang kerap digunakan adalah terkait arah kuburan. Biasanya gunung dan laut jadi patokannya. Di bagian belakang gunung, di depan lautan. “Perumpamaannya menyandar ke gunung dan memandang ke laut,” kata Wijanarko Tanaya.

Namun kondisi jua yang membuat sejumlah kebiasaan itu tak selalu bisa ditunaikan saat ini. Misalnya terkait kuburan yang makin menyempit. Sehingga harus mengikuti patok-patok yang memang sudah diatur.

Di Mataram, ada dua lokasi besar pemakaman Tionghoa. Yang pertama di Bintaro, Ampenan. Di sana ada berbagai kepercayaan yang menggunakannya. Termasuk Kristen dan Islam. “Yang pasti diadakan untuk warga keturunan,” katanya.

Makam kedua ada di kawasan Tanjung Karang, Sekarbela. Bedanya di lokasi ini diperuntukkan khusus marga “Ang” . Dulunya makam itu diadakan oleh para tetua Ang.

Di Lombok, lanjutnya, terbagi dalam tiga suku besar. Ada Hokian, selanjutnya Koangsiu dan HK. Bersama marga Ang dan perwakilan Tionghoa Praya, mereka bersatu membentuk Bhakti Mulya. Perbedaan suku termasuk marga jelas berarti perbedaan bahasa dan budaya secara umum.

Namun dalam satu kesatuan, masyarakat Tionghoa Lombok biasanya melakukan berbagai hal termasuk urusan kematian dalam satu pola serupa. “Persatuan itu yang utama, berbeda tapi tetap satu jua,” kata Ardi Wirja Ang.

Salah satu hal yang sangat positif dan dapat dipelajari dari masyarakat Tionghoa adalah semangat memelihara kebudayaan leluhur. Tak peduli dari suku bahkan agama yang berbeda, mereka tetap bersatu. Persatuan itu tampak jelas ketika semua anggota bahu membahu saling membantu saat ada masalah.

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah tradisi “cing beng” yang merupakan hari besar khusus untuk ziarah makam. Biasanya dilakukan pada tanggal lima bulan empat penanggalan Cina. Dalam kalender Masehi, “cing beng” akan dirayakan beberapa bulan lalu.

Saat itu, biasanya keluarga yang masih hidup akan berduyun-duyun mendatangi makam keluarganya. Ziarah dilakukan karena berlandaskan keyakinan roh yang turun ke bumi di saat itu. Keramaian di makam biasanya akan terlihat sepekan sebelum tanggal lima hingga sepekan sesudahnya. “Ada doa, bersih-bersih makam, kumpul keluarga, dan berbagai kegiatan lainnya,” jelas Hendi Kang.

“Cing beng” bermula dari kejadian ribuan tahun silam ketika seorang pemuda dikisahkan telah meraih sukses dengan menjadi kaisar di tanah perantauan. Kala itu, ia hendak kembali ke kampung halaman untuk menengok makam leluhurnya. Namun sang raja kebingungan, karena tak ingat lagi letak makam yang dicari. Akhirnya ia memerintahkan seluruh rakyatnya membersihkan makam. Dengan asumsi makam yang tak dibersihkan, masih tertumput rumput dan benalu adalah makam milik keluarganya. “Sejak saat itu, tradisi dimulai,” katanya.

Tradisi lain yang juga masih dipertahankan adalah tradisi bakar uang-uangan kertas. Hal itu disimbolkan sebagai bekal untuk keluarga dan leluhur yang lebih dulu meninggal. Ada juga bakar baju dan rumah kertas. “Dalam banyak kasus, yang tak membakar itu dapat mimpi kalau keluarganya tak tenang di alam sana,” katanya.

Setidaknya niat membakar itu menjadi energi positif yang tentu saja baik untuk mereka yang melakukannya.

Ada pula tradisi sembahyangan pada tanggal 15 bula tujuh atau “ciek pan” yang jatuh bulan depan. Sembahyangan ini biasa dilakukan di rumah di altar masing-masing. Aneka hidangan kesukaan jenazah dimunculkan. Bisa berupa air minum teh atau kopi. Untuk makanan bervariasi, ada nasi dan lauk lengkap. “Bakar uang kertas juga dilakukan,” katanya.

Budha, Tao, dan Konghucu adalah tiga aliran yang paling dalam mempertahankan kebudayaan tersebut. Prinsipnya adalah penghormatan pada leluhur. Karena sebaik apapun seseorang, jika tak menghargai jasa orang tua yang sudah berbuat baik padanya, maka ada hal yang kurang dalam diri orang tersebut. “Ini satu lagi pembelajaran, penghormatan pada jasa orang,” ucapnya.

Begini Cara Pemakaman Jenazahnya

Warga keturunan Tionghoa dimakamkan sesuai dengan sukunya. Misalnya saja suku Kek, memiliki adat pemakaman yang cukup unik.

Jika anggota suku Kek meninggal dunia, hal pertama yang harus mereka lakukan adalah memindahkan jenazah ke ruang tamu. Lalu, mereka harus meletakkan lampu minyak di bawah dipan jenazah. a�?Itu sebagai tanda penerang bagi jenazah,a�? jelas salah seorang pengurus jenazah suku Kek di Mataram yang enggan dikorankan namanya, Selasa (22/8) lalu.

Keluarga yang ditinggalkan harus membuka pakaian yang dikenakan jenazah. Selanjutnya, mengusap jenazah dengan air hangat menggunakan lap dari ujung kepala hingga telapak kaki.

Setelah dipastikan bersih, sanak keluarga harus memasangkan pakaian kepada jenazah. Jika jenazah laki-laki harus menggunakan pakaian genap. Sementara, jenazah perempuan harus menggunakan pakaian ganjil.

a�?Ganjil dan genapnya itu tidak ditentukan. Jika jenazah laki-laki menggunakan dua baju maka celana yang digunakan juga harus dua agar genap. Begitupun dengan jenazah perempuan, jika dipasangkan dua baju, celananya bisa dipasangkan satu atau tiga, yang penting itu dia ganjil,a�? bebernya.

Bagi laki-laki, celana dalam yang digunakannya itu tidak masuk dalam kategori pakaian. Begitupun dengan jenazah perempuan yang menggunakan BH dan celana dalam. a�?Kategori pakaian itu hanya baju dan celana,a�? bebernya.

Setelah jenazah mengenakan pakaian, lilin putih dan dupa harus diletakkan di pinggir kanan dan kiri jenazah. Selanjutnya, keluarga yang ditinggalkan harus melakukan PAI (sembahyang).

a�?Saat sembahyang, bagi anak dan cucu yang ditinggalkan sembahyangnya menggunakan dupa berwarna hijau. Sementara, bagi tamu yang ingin melakukan PAI harus menggunakan dupa berwarna merah,a�? jelasnya.

Saat melakukan PAI, keluarga yang ditinggalkan harus Khui (sujud) di bawah kaki jenazah. Usai itu, mereka harus membakar kertas perak. a�?Sebagai simbol memberikan saku kepada jenazah,a�? beber dia.

Selanjutnya, anak laki-laki dari keluarga yang ditinggalkan harus mencari peti jenazah. Jika tidak memiliki anak laki-laki, anak perempuan diperbolehkan mencari peti mati, asalkan harus ditemani oleh pamannya. a�?Kalau perempuan yang membeli harus didampingi oleh saudara laki-laki dari jenazah,a�? jelasnya.

Peti yang dibeli harus disembahyangkan oleh pembuat peti itu sebagai bentuk penghormatan kepada jenazah.

Sebelum masuk peti, jenazah harus dimandikan. Cara memandikannya pun tidak serta merta menggunakan air. Air yang akan digunakan untuk memandikan jenazah itu harus melewati prosesi adat. Anak dari jenazah harus membeli air di sungai yang airnya mengalir.

Untuk membeli air bukannya menggunakan uang rupiah, dolar, atau yuan. Cukup dengan membawa dua bungkus bunga rampai, lilin merah, kertas emas, dan kemek (kendi) yang diisi dengan sembilan keping logam.

Sebelum mengambil air, anak-anak dari jenazah yang ditinggalkan harus sembahyang di pinggir kali dengan menggunakan dupa. Masing-masing anak menggunakan dupa tiga biji.

Saat sembahyang itu, anak-anak harus mengucapkan kata Thu Ti Pak Kung. Artinya, meminta izin kepada dewa bumi. Saat itu, harus menyebut identitas jenazah dengan lengkap. a�?Ucapannya itu, Thu Ti Pak Kung saya minta izin untuk mengambilkan air untuk memandikan jenazah kepada jenazah A, hingga disebutkan tempat tanggal lahir, alamat, dan beberapa identitas lainnya,a�? bebernya.

Setelah abu dupanya jatuh ke bumi, anak-anak dari jenazah harus membakar kertas perak. Sebagai simbol pembayaran air yang akan digunakan untuk memandikan jenazah.

Selanjutnya, mereka harus turun ke sungai untuk melakukan prosesi pengambilan air. Di air sungai yang mengalir itu, mereka melakukan prosesi sembahyang Sue Shen. Artinya, meminta izin kepada dewa air. a�?Ucapannya sama, Sue Sen saya izin minta air untuk memandikan jenazah dan harus menyebut identitas lengkap jenazah,a�? ujarnya.

Untuk melakukan Pai Sue Shen,A� dupa, lilin merah dan kertas emas dililit menjadi satu. Dupa dan lilinnya dibakar selanjutnya dibuang ketengah sungai bersama dengan sembilan keping logam terus.

Sebelum menyendok air, anak pertama dari jenazah harus menaburkan bunga di sungai dari hulu ke hilir. Selanjutnya, kemek (kendi) itu digunakan sebagai alat untuk mengambil air. a�?Saat mengambil air tidak boleh melawan arus dan harus dilakukan sekali sendok berapa pun air yang didapatkan,a�? jelasnya.

Hasil dari pengambilan air itu harus dibawa oleh anak pertama dan air yang dibawa itu harus dipayungkan.

Cara memandikan jenazah juga tidak biasa. Anggota keluarga yang ditinggalkan yang harus memandikannya. Caranya, dengan menggunakan kertas perak. Kertas perak itu dicelupkan sebanyak tiga kali ke dalam air yang ada di dalam kemek (kendi). Selanjutnya, harus mengusapnya dari kepala hingga ke telapak kaki.

a�?Saat memandikan, air mata dari anggota yang ditinggalkan tidak boleh jatuh ke jenazah,a�? jelasnya.

Setelah seluruh anggota keluarga selesai memandikan, jenazah dimasukkan ke peti. Tak sembarang dilakukan, posisi jenazah harus lurus dengan peti.

Jika jenazah di dalam peti itu terdapat celah, harus diganjal menggunakan kertas emas di bagian kanan kepala jenazah dan kertas perak di bagian tengah kiri kepala jenazah. Begitu pun jika ada celah di bagian bawah kakinya. Harus diganjal menggunakan kertas emas dibagian kanannya dan kertas perak di bagian kirinya.

Ada Alat Cukur dalam Peti Jenazah

Selanjutya, beberapa perlengkapan kehidupan sehari-harinya dimasukkan ke dalam peti. Emas-emasan dan perak-perakan batangan juga diletakkan di dalam peti.A� a�?Baju, celana, handuk, dan beberapa perlengkapan kehidupannya. Bahkan kalau dia berewokan di dalam petinya itu diletakkan alat cukur,a�? jelasnya.

Jenazah juga diberikan Shu Piang atau jajan (kue Phi) dibalik sekapan tangan kanan dan kirinya. Jika ada kelebihan, harus disimpan di saku kanannya. a�?Shu Piang digunakan sebagai senjata untuk menjaga dirinya di akhirat,a�? ujarnya.

Selanjutnya, jenazah ditutup dengan selimut berwarna putih yang ditengahnya terdapat garis berwarna merah. Selimut yang diberikan itu harus diselimuti oleh keluarga. a�?Istri anak laki dan perempuan masing-masing satu selimut dan terakhir diberikan pewangi,a�? ujarnya.

Usai diselimuti, jenazah belum tentu langsung dimakamkan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dari keluarga jenazah yang ditinggalkan. Misalnya, sanak keluarga yang belum melihat jenazah harus ditunggu. a�?Selain itu, jenzah tidak diperbolehkan dimakamkan saat keadaan sinar bulan kecil atau biasa disebut waktu tilem,a�? jelasnya.

Jika sudahA� ada keputusan dari pihak keluarga untuk dimakamkan, pihak keluarga harus mempersiapakn uang-uangan untuk membayar ongkos. a�?Uang itu ditaburkan sepanjang jalan. Sebagai tanda pembayaran ongkos,a�? bebernya. Jumlah uang-uangan bervariasi, tergantung nominalnya.

Jika warga Tionghoa meninggal dunia, yang paling dicari oleh pihak keluarga yang berduka adalah pernak-pernik persiapan jenazah. Salah satunya tempat di Lombok yang kerap jadi tujuan yaitu, Toko Dupa Bhakti di Jalan Tumpang Sari Nomor 52 Cakranegara.

Toko yang hanya berukuran 4 x 6 meter itu menyediakan segala persiapan sembahyangan jenazah warga Tionghoa. Dari lilin, dupa, uang-uangan, hingga emas-emasan berbentuk batangan.

Penjaga toko Ni Wayan Bagiasi menjelaskan, harga uang-uangan dijual bervariasi. Tergantung dari nominal uang-uangannya. Nominal uang-uangan 5 dolar dijual dengan harga Rp 20 ribu per ikatnya dan nomimal 1 dolar dijual Rp 7.500.

Begitupun nominal yang dalam bentuk rupiah juga dijual bervariasi. Nominal Rp 500 ribu dijual dengan harga Rp 15 ribu perikatnya. Paling besar nominal uangnya itu adalah Rp 350 juta, per lembarnya dijual dengan harga Rp 25 ribu per ikatnya. a�?Isi per ikatnya itu 10 lembar,a�? ujarnya.

Sementara emas-emasan dan perak batangan buatan itu dijual dengan harga Rp 5 ribu perbatangnya.

Jenazah Diformalin dan Ritual Pecah Kendi

Terpisah, Dodi Suhendra, warga Ampenan yang bekerja menjadi sopir mobil jenazah rumah sosial Bhakti Mulya mengatakan, penanganan jenazah warga Tionghoa tidak hanya berbeda dari segi suku. Tapi juga agama.

a�?Kalau saya yang pertama kali saya lakukan ketika mendapat panggilan atau tugas dari Bhakti Mulya adalah menjemput jenazah untuk dibawa ke Rumah Duka. Rumah duka digunakan oleh keluarga jenazah yang rumahnya tidak memiliki halaman yang luas, atau tidak bisa menampung orang banyak,a�? tuturnya.

Selanjutnya, setelah sampai di rumah duka, jenazah akan di formalin. Menurut Dodi, terkadang ada juga yang mendapatkan proses pemulasaran jenazah di rumah sakit. Sehingga ketika masuk ke rumah duka, jenazahnya sudah siap.

Di rumah duka, setelah jenazah diturunkan dari mobil, petugas rumah duka akan mengatur dan menyiapkan tempat a�?sembahyangannyaa��. Begitu juga dengan nasi, lauk pauk, buah-buahan, a�?Semua kita siapkan,a�? ujar Dodi.

Setelah diformalin, jenazah pun dimandikan. Dalam proses memandikan jenazah, dalam kepercayaan Tionghoa, keluarga memakai air di dalam kendi. Air dalam kendi dicampur kembang.A� Lalu secara tradisi, keluarga akan membawa kendi yang berisi air, mengitari rumah duka sebanyak satu kali. Setelah itu, masing-masing keluarga mengoleskan a�?kertas sembahyangana�� yang dicampur dengan air dalam kendi ke tubuh jenazah.

a�?Masing-masing sebanyak tiga kali,a�? tambah Dodi. Baru sehabis dimandikan, keluarga akan melakukan ritual a�?pecah kendia��. Itu dilakukan di depan rumah duka.

Setelah itu, mulailah keluarga menunggu di rumah duka. Menurut Dodi, warga Tionghoa menyiapkan kotak amal untuk para peziarah yang datang. Selama jenazah berada di rumah duka, lilin dan lampu lampion tetap dinyalakan. Adapun kepercayaan suku Tionghoa, menurut Dodi melaksanakan waktu ziarah di rumah duka sebanyak 5-7 hari. a�?Intinya ganjil,a�? jelas Dodi.

Pada saat jenazah telah dimandikan, dipakaikan baju, dan proses ziarah berlansung di rumah duka, setelah itulah baru pihak keluarga mengurus lahan pemakaman dan peti.

Dodi mengatakan Bhakti Mulia menyiapkan peti yang distok dari Surabaya. Harganya bermacam-macam. Dari yang biasa seharga Rp 3 Juta sampai yang mahal hingga puluhan juta rupiah. a�?Untuk keluarga yang tidak mampu, petinya gratis dari Bhakti Mulia,a�? terang Dodi.

Peti yang sudah dipilih, akan disiapkan oleh Dodi dan tim. Mulai dari melapisinya dengan plastik, kain sampai memberi pewangi dengan daun teh. Setelah peti siap, baru dilakukan a�?sembahyang petia��. Menurut Dodi, tidak semua melakukan proses sembahyang. a�?Tergantung kepercayaan,a�? kata Dodi.

Setelah jenazah dimasukkan ke peti, peti lalu dibawa ke pemakaman. Di pemakaman, sebelum peti dimasukkan, dilakukan ritual sembahyangan lagi. Setelah dimasukkan, dilakukan lagi proses sembahyangan. a�?Banyak proses penyuciannya,a�? ujar Dodi.

Setelah proses penguburan, Dodi mengatakan ada ritual a�?Nelunga��. Nelung dilakukan ketika matahari terbenam.A� Ada yang melakukannya di hari pemakaman, ada juga yang menunggu tiga hari, satu minggu, ada juga yang satu bulan. a�?Tergantung keluarga,a�? tambah Dodi.

Bagi keluarga yang kaya, a�?Nelunga�? dilakukan dengan membakar rumah-rumahan. a�?Kalau yang kelas menengah, biasanya sebatas lampion,a�? ujar Dodi. (yuk/arl/cr-tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka