Ketik disini

Headline Metropolis

TGB : Tidak Mudah Atasi Kekeringan

Bagikan

MATARAM-Masalah kekeringan yang melanda NTB harus diselesaikan secara permanen. Tapi Pemprov NTB merasa itu tidak mudah untuk dilakukan. Selain karena butuh biaya ratusan miliar, juga karena kondisi alam yang sudah tidak seimbang akibat kerusakan hutan.

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, kekeringan setiap tahun terjadi karena curah hujan di beberapa wilayah NTB sangat minim. Untuk solusi permanen, menurutnya sudah tergambar dari upaya Pemprov NTB yang membangun bendungan-bendungan besar. a�?Tetapi mengatasi kekeringan bukan sesuatu yang mudah,a�? katanya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Misalnya, Bendungan Pelaparado di Bima yang cukup banyak mengairi wilayah pertanian, tetapi untuk wilayah utara Bima tidak ada bendungan besar sehingga terjadi kekurangan air. Karena satu-satunya solusi kekeringan adalah air, maka pemerintah harus memastikan air bersih tersebut didapatkan warga.

a�?Maka yang kita lakukan ketika musim kekeringan, ya mendistribusi air sebanyak yang kita mampu,a�? ungkapnya. Baru kemudian menyiapkan sarana pengairan yang permanen.

Tapi, lanjutnya, untuk langkah permanen itu tidak mudah untuk dilakukan. Terkait usulan dewan agar Pemprov NTB membuat sebuah Perda tahun jamak, agar penanganan kekeringan bisa dilakukan dengan sistem penganggaran multiyears. a�?Saya pikir bisa dan usulan itu sangat baik,a�? ucap TGB.

Tapi untuk melaksanakan itu, harus ada data valid, daerah mana saja yang butuh penanganan permanen, dengan dibuatkan embung atau bendungan. Sebab embung sendiri saat ini sudah cukup banyak, hanya saja saat musim kemarau embung tersebut juga ikut kering karena suplai airnya terputus.

Jadi ada masa-masa di mana embung tersebut kering, sehingga langkah yang bisa dilakukan hanya dengan mengirimkan bantuan air bersih setiap tahun ke daerah yang berat kekeringan.

TGB menegaskan, untuk penanganan kekeringan dalam jangka pendek, ia akan memaksimalkan semua perangkat yang ada, baik di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum dan Petanaan Ruang (PUPR), untuk turun mengirim air. a�?Kan tidak ada teori apa-apa, cuma datangkan air, itu saja,a�? tandasnya.

Data Dinas PUPR menunjukkan, NTB memiliki 263 titik sumber mata air, di Pulau Lombok sebayak 107 titik, Pulau Sumbawa 156 titik. Kemudian terdapat tiga wilayah sungai dengan 18 sub wilayah sungai. Sementara bendung sebanyak 270 buah, di Pulau Lombok 192 buah dan Pulau Sumbawa 78 buah.

Untuk bendungan, NTB memiliki delapan bendungan. Di antaranya Bendungan Batujai, Bendungan Pengga, Bendungan Pandan Duri, Bendungan Batu Bulan, Bendungan Mamak, Bendungan Tiu Kulit, Bendungan Gapit, Bendungan Sumi, dan Bendungan Pelaparado.

Sementara untuk embung dibagi menjadi tiga kategori yakni embung kategori bendungan sebanyak 35 buah dan melayani 13.634 ha lahan pertanian, embung skala normal sebanyak 131 buah melayani 20.005 ha, dan embung rakyat sebanyak 1.977 buah melayani 6.077,01 ha.

Dengan kondisi potensi sumber air seperti itu, kekeringan di NTB belum dapat diatasi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) NTB H Ridwan Syah menyebutkan, kebutuhan untuk infrastruktur pipanisasi saja butuh dana sekitar Rp 500 miliar, belum termasuk biaya pembangunan bendungan.

Dana sebesar itu tentu tidak akan mungkin mampu disediakan pemerintah dalam waktu satu tahun. Karena itu, pemprov mendukung usulan supaya penanganan kekeringan dilakukan dengan pola tahun jamak, atau multiyears seperti penangnana infrastruktur jalan di NTB. SebabA� masalah tersebut tidak mungkin ditangani dengan waktu dan dana yang terbatas. (ili/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys