Ketik disini

Headline Selong

Selamat Ulang Tahun Lotim ke-122

Bagikan

Nyaris tak banyak arsip sejarah yang tersisa tentang sejarah berdirinya Lombok Timur (Lotim). Bahkan Pemkab Lotim sendiri hampir tak pernah merayakan hari jadinya. Namun bagaimana sebenarnya proses kelahiran kabupaten ini? Berikut ulasannya.

***

Di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lotim, hampir tak ada arsip sejarah yang bisa mengungkap bagaimana Lotim lahir hingga menjadi kabupaten terbesar di NTB seperti saat ini. Bukan hanya tulisan, foto-foto sejarah peradaban hingga perkembangan daerah ini juga tak ada terpajang.

“Ini memang sedang kami tata ulang. Karena rata-rata semua petugas baru di sini. Kami berdua juga baru mulai bertugas Januari tahun lalu,” ujar Kabid Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Lotim Lalu Maret didampingi Kasi Pengelolaan Arsip.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Merujuk Perda Nomor 1 tahun 2013 Kabupaten Lombok Timur adalah salah satu dari 10 (sepuluh) daerah tingkat dua NTB yang dibentuk berdasarA� Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958. Tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II wilayah Sunda Kecil (Bali, NTB NTT).

Lombok sendiri secara keseluruhan mendapat status sebagai afdeling (semacam daerah tingkat dua)A� sekitar tahun 1895. Lombok menjadi bagian dari Keresidenan Bali dan Lombok yang berpusat di Singaraja, Bali. Alvons Van der KraanA� dalam Lombok, Conquest Colonization and Underdevelopment 1870-1940 mengulas bagaimana Lombok bisa menjadi afdeling dalam tata pemerintahan Hindia Belanda.

Sebelum Belanda datang wilayahA� Lotim terdiri atas wilayah-wilayah semi otonom di bawah pemerintahan Kerajaan Karangasem-Lombok yang berpusat di Cakranegara.A� Hingga penghujung abad ke 19, Bali dan Lombok memang merupakan satu dari sedikit wilayah di Nusantara yang belum mampu di taklukkan Belanda.

Berbagai upaya telah dilakukan namun tak kunjung berhasil. Kesempatan itu tiba ketika masyarakat Sasak di Lombok Timur dan Lombok TengahA� melakukan perlawanan terhadap Dinasti Karangasem Bali yang sekitar tahunA� 1891. Ini adalah puncak dari rangkaian gelombang perlawanan terhadap penguasa Bali yang telah berlangsung sejak abad sebelumnya.

Bagi Belanda ini adalah kesempatan untuk memecah Bali-Lombok ebelum menguasainya secara utuh.A� Belanda masuk dengan dalih membantu masyarakat Sasak TimurA� yang tertindas.

Tengah tahun 1894A� Gubernur Jenderal Van Der Wick menyetujui pengiriman ekspedisi ke Lombok dengan 12 kapal pengangkut dengan sekitar 4.400 prajurit moderen dipimpin JA Van Der Vetter. Hasilnya jelas, sejarah mencatat Dinasti Karangasem yang telah memerintah Lombok hampir satu setengah abad runtuh. November 1984 Mataram Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem diasingkan ke Batavia dengan kapal HMSS PrinsA� Hendrik.

Lewat perang ini Belanda resmi menjadi penguasa Lombok.A�A� Dalam rangka menegakkan kuasanya Belanda menerbitkan Staatsblad Nomor 183 Tahun tanggal 31 Agustus 1895.A� Dalam lembar negara ini Lombok menjadiA� afdeling dari Keresidenan Bali Lombok. Lombok sendiri dibagi menjadi dua Onder Afdeling yakniA� Lombok Timur dengan ibu kota Sisik atau Labuhan Haji dan Lombok Barat dengan ibu kota Mataram.A� Momen 31 Agustus 1895 inilah Lotim sebagai sebuah wilayah adminsistratif tersendiri.

Dalam perjalanannya terjadi beberapa kali perubahanA� (pemekaran) wilayah. Lombok dari dua menjadi tiga Onder Afdeling. Yakni A�Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.A� Hal ini sebagaimana tercantum dalam Staatblad Nomor 248 tahun 1898 yang telah diganti dengan SK Gubernur Jenderal Nomor tanggal 27 Agustus 1898.

Dalam status ini wilayah Lotim yang semula mencakup wilayah Loteng kini lebih sempit. Ia terdiri atas lima Kedistrikan (setingkat kecamatan, Red)A� yaitu Kedistrikan Peringgabaya, Rarang Timur , Rarang Barat, Masbagik, dan Sakra.

Selepas kemerdekaan Lombok menjadi satu wilayah dalam Provinsi Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB, NTT. Pemekaran kemudian terjadi setelah berlakunyaA� Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tanggal 14 Agustus 1958. Sunda kecil dipecah menjadi tiga provinsiA� yakni Bali NTB dan NTT. Dalam skema ini Lotim menjadi kabupaten tersendiriA� hingga saat ini.

Sejalan dengan itu Lotim kemudian mulai dipimpin oleh seorang Bupati.A� SK Menteri Dalam Negeri dengan No. UP.7/14/34/1958 tanggal 24 Oktober 1958 mengangkatA� Idris HM Djafar sebagai bupati pertama. Ia resmi bertugas terhitung 1 November 1958A� hingga 1960.

Bupati berikutnya yakni Lalu Muslihin (1960-1966), R Rahadi Cipto Wardoyo (1966-1967), R. Roesdi (1967-1979), Saparwadi (1979-1988), H Abdul Kadir (1988-1993), M. Sadir (1993-1998), H Syahdan (1998-2003),A� H Moch Ali Bin Dachlan (2003-2008), HM Sukiman Azmy (2008-2013). Untuk periode kedua H Moch Alin Bin Dachlan atau Ali BD kini memimpin Lotim.

Jika merujuk status Onder Afdeling Lotim berdasarA� Staatblad No. 183 Tahun 1895 wajar jika sejumlah pihak di Lotim kini menyebutt tanggal 31 Agustus 1895 sebagai hari lahir Lotim. Merujuk tahun tersebut maka Lotim kini genap berusia 122 tahun.

“Bupati sudah menegaskan cukup merayakan peringatan HUT RI dan peringatan tahun baru islam, makanya hari jadi Lotim tidak dirayakan,” jelas Kabag Humas Setda Lotim Ahmad Subhan.

Pejuang Gandor Membangun Kota Selong

Dalam buku Satu Abad Kota Selong yang diterbitkan Pemda Lotim tahun 1998 dijelaskan bagaimana Selong bisa menggantikan Sisi’ sebagaiA� ibu kota Lotim. Semua berawal dari pemberontakan atau yang dikenal dengan istilah Congah. Seorang pemimpin Desa Apit Aik bernama Jero Rawit merasakan ketidak adilan pemerintah Belanda di Lombok Timur (Lotim).

Jero Rawit bersama pemuka masyarakat Desa Gandor yaitu Mamiq Mustiasih pemuka Desa Teros Jero Nursayang dan Lalu Talip pemuka Desa Mamelak Lombok Tengah juga terlibat. Akhirnya mereka memimpin serangan pada tanggal 1 Muharam 1318 Hijriah (13 April 1900) ke Markas Belanda di Sisi’.

Mengacu pada pendapat Martin Van Bruinessen dalam bukunya ‘Kitab Kuning dan Pesantren’ kemunculan sejumlah pemuka agama Islam yang baru saja menimba Ilmu dari Mekkah turut mendorong perlawanan warga terhadap Belanda. Hal serupa juga terjadi di Lotim lewat sejumlah sejumlah Guru Tarekat.

Sehingga, fajar Bulan Muharam 1318 Hijriah ditandai dengan seranganA� rakyat Gandor, Teros, Apit Aik dan Mamelak. Pertempuran ini berlangsung selama beberapa hari menyebabkan para pejuang terdesak. Jero Rawit dan Jero Nursayang bersama pengikutnya dibuang ke Banyuwangi, Jatim.

Serangan terhadap pusat pemerintahan Belanda di Sisik membuat Belanda mengkaji pemindahan ibukota. Selong yang kala itu masih berupa hutan dibuka untuk dibangun menjadi sebuah kota moderen. Dalam pembangunan itu para tahanan terutama warga yang terlibat dalamA� Congah Gandor inilah yangA� ditugaskan membuka hutan Selong. Ini adalah bagian dari hukuman bagi para pemberontak tersebut.

Sementara itu soal nama Selong sendiri masih menjadi perdebatan hingga kini. Sejumlah sumber menyebut nama Selong adalah pelafalan kata Ceylon/Sri Lanka yang merupakan daerah buangan bagi para pemberontak Belanda.A� Salah satu tokoh nusantara yang pernah dibuang belanda ke Ceylon adalah Sykeh Yusuf Makassar. Sumber lain menyebut nama Selong merupakan kata yang sama dari Selong Belanak. Selong/Silong merupakan penamaan untukA� corak pada hewan tertentu seperti ikan dan ular. (Hamdani Wathoni/R2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka