Ketik disini

Headline Metropolis

Kecam Pembantaian Etnis Rohingya, TGB: Cabut Nobel untuk Suu Kyi !

Bagikan

MATARAM-Tak ada pilihan baik yang bisa diambil etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Jika mereka bertahan di rumah sendiri, peluang untuk kehilangan nyawa sangat besar karena tertembus peluru militer.

Namun, jika lari ke negara tetangga, Bangladesh, mereka juga bertaruh nyawa lantaran harus melintasi Sungai Naf atau Teluk Benggala dengan peralatan seadanya. Tidak sedikit yang akhirnya tewas di tengah perjalanan.

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi pun angkat bicara atas tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam dari etnis Rohingya tersebut. Kepala daerah yang juga ulama kharismatik ini menilai apa yang terjadi di sana adalah tragedi kemanusiaan yang mengerikan dan bertentangan dengan nilai-nilai apapun, terlebih nilai-nilai agama.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

TGB bahkan menyerukan agar Nobel Perdamaian untuk tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi dicabut. Sebab, pemimpin Myanmar itu dianggap tidak melakukan pembelaan terhadap penindasan warga Rohingya di Myanmar.

a�?Saya pikir orang yang mendiamkan pembantaian tidak pantas dicatat sejarah sebagai penerima Nobel,a�? katanya.

Suu Kyi menerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991 karena menjadi tokoh antikekerasan, demokrasi dan hak asasi manusia. a�?Harusnya dicabut (penghargaan Nobel) bahkan harus dikasi sanksi internasional,a�? tambah TGB.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Gubernur menegaskan, tragedi tersebut menimpa orang-orang lemah, etnis minoritas yang semakin terdiskriminasi. Dalam pemberitaan beberapa hari terakhir, pembantaian warga tidak bersenjata itu banyak memakan korban ribuan orang, kebanyak dari kaum perempuan dan anak-anak.

Tapi ia menyangkan, dengan apa yang dialami etnis Rohingya, komunitas internasional seperti menutup mata dan tidak ada pernyataan yang keras untuk mengecamA� tindakan itu. a�?Apalagi hukuman, sanksi kepada pemerintah Myanmar yang membiarkan pembantaian seperti itu,a�? tegas Zainul Majdi.

Ditinjau dari sisi kemanusiaan maupun nilai-nilai agama, menurut TGB tidak ada agama yang mengajarkan pembantaian mengerikan seperti yang dialami warga Rohingya. Karena itu, atas nama warga NTB ia meminta pemerintah pusat bersikap lebih tegas untuk menghentikan penindasan itu.

a�?Tidak bisa dibiarkan ada satu pembantaian kemanusiaan seperti ini,a�? katanya.

Jika pemerintah Myanmar meminta Indonesia tutup mulut atas peristiwa itu, maka kata TGB, pemerintah Myanmar harus berhenti membantai rakyatnya sendiri. Mereka tidak bisa meminta masyarakat dunia tutup mulut bila pembantaian masih tetap terjadi terhadap etnis Rohingya.

a�?Ingat bahwa masalah-masalah yang punya dimensi keagamaan itu potensial bisa menjadi masalah regional,a�? ujarnya.

Ia mendesak apa yang terjadi terhadap etnis Rohingya dihentikan, dan sejak Jumat kemarin, semua kotak amal di masjid akan diarahkan untuk membantu warga muslim Rohingya yang sedang mendapat cobaan luar biasa.

Sementara itu Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin menambahkan, semua kaum muslim bersaudara. Termasuk etnis Rohingya yang merupakan keluarga besar muslim dunia. Sehingga ketika mereka ditimpa musibah, maka sepatutnya muslim lain membantu. Tidak hanya dengan doa, tapi juga dengan memberikan bantuan berupa donasi uang.

Etnis Rohingya Kian Tak Berdaya

Sementara itu, pada Kamis (31/8) penjaga pantai Bangladesh menemukan sedikitnya 20 jenazah etnis Rohingya. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. a��a��Perahu mereka terbalik. Jenazah terdiri atas 11 anak-anak dan 9 perempuan,a��a�� ujar Ariful Islam, komandan penjaga perbatasan Bangladesh.

Sehari sebelumnya, mereka juga menemukan dua jenazah etnis Rohingya. Islam melihat perahu mereka ditembaki penjaga perbatasan Myanmar.

Bagi etnis Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh, peluang selamat maupun tewas sama besarnya. Sungai Naf maupun Teluk Benggala berarus deras. Sangat mungkin, sebelumnya ada orang-orang yang tenggelam, tetapi jenazahnya tak ditemukan. Jumlah pasti korban tewas bakal sangat sulit ditentukan. Sebab, media dilarang mendekati area konflik. Begitu pula berbagai organisasi kemanusiaan yang ingin menyalurkan bantuan.

Beberapa hari belakangan ini, etnis Rohingya yang lari ke Bangladesh memang kian banyak. Hingga kemarin, sudah 27 ribu orang yang terdata masuk ke Bangladesh dan 20 ribu lainnya masih tertahan di wilayah perbatasan.

Padahal, dua hari sebelumnya, jumlah pengungsi hanya separonya. Sangat mungkin hari ini jumlah mereka meningkat puluhan ribu lagi. Mereka yang belum terdata terkatung-katung di wilayah yang sebelumnya tak berpenghuni dengan makanan dan obat-obatan yang sangat terbatas.

Beredar kabar, mereka ketakutan karena kini bukan hanya militer Myanmar yang turun tangan menyiksa, menembaki, dan membakar rumah-rumah etnis Rohingya. Penduduk Buddha di Rakhine juga ikut turun tangan membakar properti milik etnis yang tidak diakui sebagai penduduk Myanmar maupun Bangladesh tersebut.

Kantor berita Reuters melaporkan, mereka melihat api di sepanjang Sungai Naf di sisi Myanmar. a��a��Apa yang kami dengar adalah kata bakar, bakar, dan bakar. Tampaknya, Myanmar ingin mengusir seluruh populasi etnis Rohingya,a��a�� ujar Chris Lewa dari Arakan Project.

Dia mengakui, tragedi di Rakhine kali ini lebih parah jika dibandingkan dengan konflik serupa Oktober tahun lalu. Sebab, penduduk Rakhine ikut aktif membakar desa-desa.

Salah satu etnis Rohingya yang berhasil selamat, Mohammed Rashid, mengungkapkan, dirinya lari bersama sekitar 100 orang lainnya. Pria 45 tahun itu melihat beberapa ledakan dan orang-orang dari etnisnya tewas. Mereka sempat bersembunyi selama dua hari di hutan sebelum akhirnya berhasil menyeberang. Dia sempat ditembaki. Serpihan peluru bersarang di dekat matanya. a��a��Kami mendengar rumah-rumah di desa kami sudah dibakar dan rata dengan tanah,a��a�� ungkap Rashid.

Kondisi yang mencekam dan pembakaran itulah yang membuat etnis Rohingya terus-menerus lari ke Bangladesh. Bahkan, mereka yang sudah diusir akan terus berusaha lagi dengan berbagai cara agar bisa sampai di Bangladesh. Entah itu dengan melakukan perjalanan saat malam atau memilih jalur laut. Mereka nekat karena tak ada apa-apa lagi yang tersisa di Rakhine. Harta benda mereka hilang. Begitu pula kerabat-kerabat mereka.

International Organization for Migration (IOM) dan Sekjen PBB Antonio Guterres sudah meminta Bangladesh berbaik hati membuka pintu-pintu perbatasannya. Namun, negara yang termasuk paling padat di dunia itu menegaskan bahwa mereka sudah tidak sanggup menerima aliran pengungsi. (ili/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka