Ketik disini

Headline Metropolis

TGB Kembali Jadi Bintang di Jawa Timur

Bagikan

MATARAM-Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi kembali menjadi bintangdi Jawa Timur. Salah seorang pemimpin muda di Indonesia ini menjadi pembicara utama sejumlah diskusi nasional di Kota Pahlawan Surabaya. Termasuk memberikan kuliah umum di universitas negeri islam ternama di Malang.

TGB antara lain menjadi pembicara dalam Diskusi Nasional a�?Demokrasi Pancasila sebagai Penangkal Radikalismea�? di Universitas Marotama Surabaya, A�Kamis A�(7/9).

Juga diundang Khusus oleh Rektor UIN Sunan Ampel untuk menjadi pemateri dalam Stadium General Fakultas Ushuluddin dengan tema: a�?Al-Qura��an Dalam Bingkai Kebangsaana�?.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Gubernur TGB juga diadulat oleh Penasihat Takmir Masjid Almadani, Prof Johni Hermana yang juga rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk memberikan ceramah di lingkungan kampus tersebut. Selama di Jatim TGB dijadwalkan pula memberikan tausiah pada sejumlah Tabliq Akbar yang digelar berbagai elemen dan organisasi keagamaan di Wilayah Jatim.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Lombok Post tadi malam, dalam diskusi nasional di Universitas Marotama, TGB menegaskan bahwa Pancasila merupakan pondasi bagi bangsa Indonesia dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kepala daerah yang juga ulama kharismatik ini berpandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional yang lahir dari rumusan pemikiran para founding A�fathers sebagai A�orang-orang yang senantiasa dekat dengan Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa secara sosiologis, sejak awal para pendiri negara telah memiliki konsensus yang kuat, bahwa dalam membangun entitas bernegara sangat mengakui dan mengutamakan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam kehidupan bernegara. Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk konsensus nasional, yaitu negara yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam Pancasila sebagai dasar negara.

Menurut TGB, itulah yang terbaik. Ia menegaskan bahwa dalam sejarah Rasulullah SAW, juga dalam proses membangun suatu entitas bernegara, yang dilakukan beliau di awal-awalnya adalah mencari konsensus. Dengan demikian a�?Insya Allah Umat Islam akan selalu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.a�?

Tangkal Radikalisme

Di sisi lain, Gubernur TGB juga menegaskan radikalisme harus disikapi dengan titik tengah. Titik tengah itu, kata TGB adalah Pancasila sebagai alat ukur untuk menangkal tindakan radikalisme.

Menurutnya, pendidikan merupakan alat mobilitas terbaik dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan jauh dari tindakan-tindakan radikal. TGB memandang tindakan radikalisme yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu saat ini, tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun. Ia menduga tindakan itu hanya timbul dari pemahaman yang keliru dalam menafsirkan agama serta depresi hidup dan tekanan ekonomi.

Dalam diskusi ini di Universitas Marotama ini, Gubernur TGB diundang secara khusus untuk memaparkan pemikirannya bersama tokoh-tokoh nasional lainnya. Di antaranya Ketua DKPP RI Harjono dan juga HR. Djoko Soemadijo yang telah dikenal luas sebagai seorang tokoh pendidikan di Indonesia.

Di hadapan ratusan pemuda, mahasiswa dan civitas akademika Universitas Marotama Surabaya yang hadir, Gubernur mengatakan, radikalisme terjadi jika institusi-institusi sosial keagamaan A�kehilangan jati dirinya. Terutama dalam menangkal berkembangnya paham-paham radikal.

Sehingga timbul label bahwa kekerasan-kekerasan atau radikalisme yang terjadi berasal dari institusi sosial yang ada, seperti Ponpes yang selalu dikaitkan dengan tindakan tradikalisme di Indonesia.

Dalam pandangannya, untuk mengeliminir hal tersebut, maka Pancasila harus ditafsirkan secara benar sesuai dengan kaidahnya, tidak boleh semaunya. Jika terjadi perbedaan penafsiran, A�kata TGB maka harus didiskusikan untuk menghasilkan hal terbaik.

Ia kembali mengingatkan pentingnya nilai-nilai dasar demokrasi Pancasila yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Direflikasikan dalam meretas berbagai perbedaan pendapat. Termasuk dalam penyelesaian berbagai permasalahan dalam konteks hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hal itu menurut Gubernur dimaksudkan untuk menghindari munculnya sikap yang cenderung saling menyalahkan. Bahkan melihat orang yang tidak sepaham sebagai musuh yang harus diperangi. a�?Itu tidak boleh terjadi,a�? tegas TGB.

Radikalisme ditegaskannya memiliki faktor yang sangat kompleks. Karenanya, TGB mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih mengedepankan rasionalitas dalam A�segala tindakan. Termasuk menumbuhkan rasa bangga sebagai anak bangsa yang memiliki dasar negara Pancasila.

a�?Pancasila harus hadir dalam mewujudkan keadilan sosial. Bahkan menjadi sumber penggerak dalam setiap tindakan kepedulian sosial kepada sesama walau di belahan dunia mana pun,a�? tegasnya.

Tausiah di Masjid Mujahidin

Sementara itu, di hadapan ribuan jamaah Masjid Mujahidin, Jalan Perak Barat Surabaya, Kamis malam (7/9) A�Gubernur ahli tafsir tersebut menjelaskan, sepajang sejarah negara ini berada, tidak pernah disebutkan bahwa umat Islam tidak memiliki kecintaan yang kuat dan besar untuk NKRI. Justru, yang tercatat dalam lembaran sejarah bangsa ini, bahwa umat Islam memiliki kecintaan yang kokoh dan besar untuk Bangsa Indonesia.

Dan kecintaan itu tidak hanya dengan wacana atau kata-kata. Namun, ditunjukkan dalam bentuk ijtihad dengan merumuskan dasar-dasar negara dalam bentuk Pancasila dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Karena itu, Gubernur mengajak umat Islam untuk senantiasa mengambil contoh dan teladan dari apa yang telah diajarkan oleh para nabi dan para sahabat. Terutama dalam membangun peradaban yang kuat.

Peradaban yang kuat dalam konsep Islam menurut TGB adalah tersebarnya kebaika-kebaikan. Oleh karena itu, menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan memperkokoh pesaudaraan dalam bingkai NKRI. a�?Itulah yang A�menjadi ranah jihad kita sebagai umat Islam,a�? tegasnya.

Sembari mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya jamaah Masjd Almujahidin, untuk menjaga dan mencintai republik ini dengan memastikan sebanyak-banyaknya menyebar kebaikan. Juga menebar sebanyak-banyak sujud di atas Bumi Allah SWT.A�Dengan demikian kata TGB, NKRI yang bermartabat, maju, kokoh dan sejahtera akan dapat diraih dengan baik.

Sementara itu, di kampus ITS, dalam tausiahnya TGB mengupas tentang penguatan majelis ilmu sebagai wadah untuk saling mengingatkan dan mengajak untuk senantiasa berbuat kebaikan.

Majelis ilmu menurut TGB harus dapat dimanfaatkan untuk saling berbagi kebaikan. a�?Siapapun yang melaksanakan salah satu atau ketiga fungsi majelis ilmu tersebut, Allah akan memberikan ganjaran pahala yang besar,a�? jelas TGB sembari mengutip salah satu firman Allah yang ada dalam Alquran.

Hanya saja, ia mengingatkan majelis ilmu yang dibentuk haruslah berbasis pengetahuan, bukan berbasis primordialisme. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa pada awal kenabiannya, Rasulullah membentuk kelompok atau mejelis ilmu itu berbasiskan pengetahuan, bukan berdasarkan suku, warna kulit, negara dan primordialisme.

Hal itu dimaksudkan untuk mengikis egoisme, memangkas sifat yang mementingkan diri atau membanggakan keluarga, keturunan A�maupun suku.

Karena itu, TGB mengajak untuk terus memperbanyak dan memperkuat majelis ilmu yang mengedepankan kebaragaman sebagai bangsa. Dengan penguatan seperti itu, maka persatuan dan kekuatan umat akan terus terjaga dengan baik, tegasnya. (kus/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys