Ketik disini

Metropolis

Waspadai Penipuan Berkedok Sumbangan

Bagikan

MATARAM-Kisah memilukan orang-orang miskin kerap mengundang simpati warga. Seperti, mereka yang tidak punya rumah atau kesulitan biaya untuk berobat. Maka untuk menggalang bantuan, sejumlah pihak mempostingnya di media sosial (medsos), agar ada yang membantu. Pola ini kerap viral dan mampu mengumpulkan banyak sumbangan.

Celah itu kini mulai dimanfaatkan beberapa oknum warga untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka menjual nasib orang miskin melalui medsos untuk memperoleh keuntungan dari uang sumbangan itu. Modus seperti ini kini mulai marak terjadi, dan menjadi masalah cukup serius.

a�?Ini bahaya, menjual kemiskinan untuk pribadi,a�? ungkap Kepala Dinas Sosial ProvinsiA� NTB H Ahsanul Khalik, kemarin (10/9).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Ia menjelaskan, oknum-oknum tersebut biasanya memposting orang miskin, rumahnya tidak layak huni, tinggal seorang sendiri, tidak ada biaya untuk berobat, atau anaknya tidak bisa sekolah. Bahkan makan pun dari belas kasihan tetangga. Oknum tersebut kemudian memposting lengkap dengan gambar orangnya dan lengkap dengan alamat rumahnya.

a�?Mencantumkan alamat, kalau anda yang mau menyumbang kirim ke rekening nomor sekian, atas nama ini,a�? kata Khalik.

Model pengumpulan sumbangan seperti itu perlu diwaspadai. Masyarakat harus selektif betul menerima informasi. Karena tidak semua informasi itu benar. Dinas Sosial sudah mendapat laporan tiga kasus warga yang namanya dan kondisinya dicatut, tapi dana tidak pernah mereka terima dari orang yang memposting. Ada juga yang terindikasi memberikan uang hanya setengah dari dana sumbangan yang masuk ke rekening tersebut. Artinya, mereka memanfaatkan kondisi orang miskin untuk mendapatkan uang.

a�?Ini menjadi masalah serius karena kalau masayarakat tidak memahami dengan baik bisa menjadi modus penipuan model baru,a�? ujarnya.

Meski demikian, ada juga warga yang benar-benar membantu. Mereka bekerja secara sukarela untuk kepentingan masyarakat tidak mampu. Terhadap mereka, pemerintah tentu mengapresiasi dan melakukan komunikasi untuk bersinergi.Tapi terhadap oknum yang diindikasikan melakukan penipuan, pihaknya masih mengikuti perkembangan dan melengkapi informasi dari masyarakat. Jika tidak bisa dibina tentu akan diserahkan ke ranah hukum. a�?Kita masih dalami, ada salah satu oknum pegiat sosial di Lombok yang kita duga melakukan hal ini,a�? ungkap Khali.

Saat ini Dinas Sosial tengah melakukan investigasi bersama beberapa kawan pegiat sosial terhadap persoalan itu. Jika dia tidak mau berubah, maka terpaksa akan dilaporkan kepolisan. Ini sebagai salah satu sikap tegas pemerintah.

Karena aturan penarikan sumbangan sendiri sudah diatur dalam pasal 8 UU Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang. Dijelaskan di sana beberapa jenis dan cara pengumpulan sumbangan. Diantaranya mengadakan pertunjukan, bazar, penjualan barang, menaruh kotak sumbangan di tempat umum dan sebagainya. Kemudian pelanggaran terhadap pelaksanaan pengumpulan dana dapat dikenakan sanksi pidana. (ili/r7)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka