Ketik disini

Headline Metropolis

Dinas Pariwisata Miskin Inovasi, Minim Prestasi

Bagikan

Dinas ini seharusnya paling depan. Menjadi citra, sekaligus paling getol berpromosi tentang kota. Tapi yang terjadi sebaliknya. Kerap disebut miskin inovasi, inilah yang terjadi di dalam Dinas Pariwista (Dispar) sesungguhnya.

A�————-

DALAM buku kalender event milik Dinas Pariwisata Kota Mataram sedikitnya tercatat 10 agenda yang telah dirancang untuk digelar dalam satu tahun. Kegiatan ini disebut sudah mulai bergulir sejak bulan Februari.

Tetapi pertanyaan besarnya, kenapa kegiatan-kegiatan ini tak pernah memiliki efek nendang? Hanya sebentar saja digelar seremonial. Setelah itu, lenyap bagai ditelan bumi.

Kegiatan yang sedikit terasa lebih meriah, hanya Festival Mataram. Festival yang dirancang dalam bentuk begawe beleq (pesta besar) ini, sayangnya tak punya gaung panjang. Konon, kegiatan ini ditujukan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal. Bahkan dengan melibatkan sejumlah daerah di Indonesia.

Setelah itu, tak banyak cerita yang tersisa. Kota dengan segera, akan kembali seperti biasa. Lalu apa berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan asing atau domestik?

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Kalau peningkatan sejauh mana, pasti ada dampaknya. Dari awal pasti ada peningkatan,a�? klaim Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib.

Menurutnya, image halal tourism bagi Lombok pada umumnya dan Kota Mataram pada khususnya, telah mengatrol banyak wistawan yang datang ke Kota Mataram. a�?Mereka beramai-ramai datang ke sini untuk mengetahui apa itu halal tourism, apalagi kalau ada festival,a�? klaimnya.

Tetapi kemudian, Latif mengakui. Ada persoalan jomplang dengan kemampuan Dispar untuk berpromosi. Ia mulai membandingkan antara jumlah agenda promosi yang digelar Kota Mataram dengan Banyuwangi.

a�?Kita ini paling sedikit event tahunan, Banyuwangi hampir 900 event kegiatan,a�? jelasnya.

Dengan terang-terangan ia juga menyebut, festival yang hanya digarap dengan sungguh-sungguh dengan budget besar hanya Festival Mataram. Jika berkaca pada tahun 2016 lalu, kegiatan ini dapat support anggaran hingga Rp 770 juta. a�?Selebihnya anggarannya kecil-kecil,a�? cetusnya.

Bahkan dari total 10 agenda itu, terang-terangan dikatakan Latif sebagian besar agenda hasil a�?tumpangana�� pada acara milik warga. Sebut saja seperti kegiatan Seni Miraj, Festival Miniatur Masjid dan Lampion, parade tahun baru caka, Festival Lebaran Topat, Sepeda Malam Mataram, dan kegiatan lain.

a�?Di parade Maulid misalnya, kita coba support warga. Dengan memilih lokasi yang jadi pusat perhatian seperti Dasan Agung. Biasanya per lingkungan, kita bantu Rp 2 juta,a�? bebernya.

Begitu juga dengan kegiatan lain. Sebagian besar, lanjut Latif tidak ada yang mandiri dikerjakan sendiri. Kecuali untuk kegiatan Festival Mataram.

a�?Ya minimal kita bisa bantu untuk di dulang-nya mungkin, dengan cara ini kita bisa mendorong agar kegiatan ini bisa tetap lestari,a�? ujarnya.

Latif mengatakan, jika pihaknya hanya mengelola anggaran sekitar Rp 6 miliar. Sebagian besar untuk anggaran operasional kantor dan proyek pembangunan fasilitas bencingah. Sisanya sekitar Rp 1 miliar untuk event kegiatan.

Karena itu, sangat sulit baginya agar kegiatan di kota bisa diharapkan lebih meriah dan mampu menyedot wistawan dari berbagai penjuru. a�?Saya saja sampai malu menyebutkan anggaran kami,a�? cetusnya.

Latif lalu mengkritik pola kegiatan yang diadakan Dispar Provinsi. Ia mencontohkan pada kegiatan Festival Bulan Pesona Lombok Sumbawa (BPLS) yang digelar beberapa waktu lalu. Walau kegiatan itu digelar di Kota Mataram, tetapi tidak bedampak besar untuk menggenjot jumlah wisatawan yang hadir.

a�?Jadi kami itu sebenarnya berharap, provinsi itu ranahnya kebijakan. Tidak melakukan kegiatan secara langsung, tetapi mensupport daerah dengan anggaran, biar kami yang melaksanakannya,a�? ujarnya.

Ia mencontohkan, sebagai bagian dari BPLS, ada kegiatan yang dibuat yakni Festival Ampenan. Alhasil, kegiatan yang diharapkan akan dapat menyedot wistawan itu justru tidak mampu memenuhi ekspektasi kehadiran warga kota, apalagi dari kunjungan luar kota.

a�?Bagaimana provinsi mau melibatkan masyarakat kota, kalau pemilik wilayah yakni wali kota dan wakil wali kota, tidak bisa mendorong kegiatan itu untuk diramaikan,a�? sesalnya.

Ia pun mengaku sempat melontarkan keresahananya itu pada Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Bagaimana agar anggaran kegiatan yang diadakan oleh provinsi, bisa digelontorkan ke daerah. Sebab, mereka mengaku sulit mengikuti ritme kegiatan yang dicanangkan provinsi, karena dinasnya terbentur oleh keterbatasan anggaran.

a�?Maka saya bilang (ke Dispar Provinsi), kalau tidak disupport anggaran juga, jangan salahkan kami kalau pada Festival Moyo, Mataram ndak ikut,a�? ujarnya.

Alasannya, karena Dispar Kota hanya punya anggaran promosi ke luar daerah dua kali. Selebihnya pihaknya tidak mungkin mengeruk kantong sendiri, hingga ludes tak tersisa.

a�?Sementara masih ada festival-festival lain yang dicanangkan provinsi, ada Bima, Sumbawa, semua bentuknya festival,a�? ujarnya.

Berkaca lagi pada kegiatan BPLS kemarin, Latif mengaku untuk mendukung acara provinsi dirinya mengaku mengeluarkan anggaran tidak sedikit. Untuk parade saja, ia mengeluarkan anggaran Rp 30 juta.

a�?Ini belum lagi yang lain loh,a�? ujarnya.

Belum lagi sebagai tuan rumah, mereka harus menyervis para tamu dari sembilan kabupaten kota lain. Minimal untuk penginapan dan konsumsi. Sedangkan transporatasi bisa disinergikan dengan pihak swasta yang bergerak di bidang pariwisata.

a�?Kalau saja, anggaran kita bisa dibagi-bagi Rp 100 juta saja untuk support kegiatan yang diagendakan provinsi, pasti hasilnya maksimal,a�? jelasnya.

Belum maksimalnya promosi wisata yang dilalakukan oleh Kota Mataram, juga dirasakan oleh Ketua Pengemban Budaya dan Adat Sasak (Pembasak) Lalu Sadarudin. Pada kesempatan berbincang dengan Lombok Post A�beberapa waktu lalu, pria yang juga dalang wayang kulit ini berharap perhatian bisa lebih pada kegiatan-kegiatan yang bernunasa adat budaya luhur.

a�?Sebenarnya kalau menurut saya yang paling penting adalah memperkuat kembali, budaya luhur kita,a�? kata Sadar.

Saat ini, perkembangan budaya sudah banyak yang mengalami akulturasi. Sehingga budaya yang menjadi tradisi dan warisan leluhur substansi-substansinya banyak ditinggalkan.

Ia mencontohkan pada acara sorong serah aji krame, mace duntan (baca lontar), seni pewayangan, dan banyak lagi yang lain.

a�?Budaya-budaya luhur ini yang perlu kita perkuat dan buatkan program agar tetap lestari dengan baik,a�? ujarnya.

Sedangkan kegiatan budaya yang tidak lahir dari kearifan budaya, seyogyanya tidak boleh mengalahkan kearifan luhur. Tetapi yang terjadi saat ini, justru sebaliknya. Warisan luhur banyak ditinggalkan. Sedangkan kegiatan yang lebih bersifat seremonial dan praktik pameran karya seni, justru lebih ditonjolkan.

a�?Bukannya tidak boleh, tetapi harusnya ada porsi yang sesuai dan berimbang,a�? tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhir mengingatkan, di tengah keterbatasan anggaran, Dispar tidak boleh miskin inovasi. Mereka harus menunjukkan diri bisa berprestasi.

Ia mengingatkan, tulang punggung perekonomian Kota Mataram, ditopang oleh dua sektor. Yakni bisnis perdagangan dan jasa.

a�?Di Jasa, ada pariwisata yang menjadi salah satu andalan pendapatan. Kita tidak punya sumber daya alam, tetapi kita punya pariwisata,a�? kata Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhir.

Di dalam pariwisata, tidak hanya tentang ketersediaan alam yang indah dan layanan akomodasi. Tetapi Muhir melihat mempercantik taman dan wisata pantai di kota, sama pentingnya dengan melesatarikan kebudayaan dan seni yang ada. a�?Keduanya sama-sama penting,a�? imbuhnya.

Namun ia melihat, Dinas Pariwiasta selama ini, lebih condong menggenjot fisik saja. Sehingga, pengembangan budaya dan seni A�ditinggal jauh. Roda pariwisata kota terlihat berjalan timpang. Tempat wisata di kota seperti kehilangan ruh.

Karena itu, ia tak heran, pariwisata di Kota Mataram masih kalah seksi dengan daerah di luar kota. a�?Saya sudah tekankan, dinas ini (Pariwisata) harus banyak membuat gerakan dan inovasi, jangan melempem saja,a�? sindirnya.

Dinas pariwisata bukanlah dinas proyek fisik. Dinas ini butuh sentuhan-sentuhan kepemimpinan artistik dan futuristik, sehingga mampu menggaet banyak wisatawan datang ke daerah ini.

a�?Termasuk bagaimana mendorong agar sanggar-sanggar kita semakin diberdayakan dan dikembangkan,a�? harapnya.

Jika ini bisa digarap serius, ia yakin akan memberi dampak signifikan pada pariwiasta di Kota. Tetapi sejauh pengawasan yang diberikan komisi IV DPRD Kota, pariwisata kota hanya dikerjakan dengan indikator dan program yang terkesan normatif. a�?Sama sekali kami tidak melihat ada inovasi sampai saat ini,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka