Ketik disini

Metropolis

Hujan untuk NTB Masih Jauh

Bagikan

MATARAM-September menjadi puncak musim kemarau. Kekeringan hebat tengah melanda sebagian besar wilayah NTB. Karena itu, NTB masih tetap waspada terhadap dampak-dampak kekeringan hingga dua bulan ke depan.

Kepala Stasiun Meteorologi Bil-Praya, Oral Sem Wilar menjelaskan, pertengahan September masih kemarau. Hanya saja tahun ini sedikit beruntung, karena kekeringan 2015 masih lebih parah. Selain itu, daerah Lombok Utara juga masih terdapat hujan.

Sementara wilayah Lombok Timur sama sekali sudah tidak hujan. Hal itu disebabkan wilayah tersebut berada di pantai. Memang proses terjadinya awan adalah uapan air laut, tapi angin yang kencang membuat pertumbuhan awan menjadi buyar. Sehingga terjadilah musim kemarau.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

a�?Sekarang ini sedang puncak-puncaknya musim kemarau,a�? katanya, kemarin (14/9).

Dengan kondisi itu, warga diharapkan tetap waspada dengan menggunakan sumber daya air secukupnya. Sebab, tidak semua warga bisa mendapatkan air dengan mudah. Selain itu, sektor pertanian juga perlu diantisipasi sebab saat musim kemarau, pertanian pasti akan terganggu. Bagi yang memiliki bendungan mungkin lebih enak, tapi di beberapa tempat air bendungan tidak mengalir ke lahan pertanian.

a�?Kita masih wasapada,a�? ujarnya.

Sementara terkait prediksi bahwa tahun 2018 kekeringan akan lebih parah menurut Oral Sem Wilar itu tidak tepat. Prediksi itu terlalu dini dan tidak memiliki dasar yang kuat. Bahkan ia menganggapnya sebagai berita hoax. Untuk mengukur perkiraan musim, BMKG memiliki alat satelit, tetapi untuk memprediksi kondisi tahun 2018, masih terlalu jauh.

a�?Hasilnya tidak akan akurat,a�? tegasnya.

Dalam memprediksi musim, harus dilihat terjadinya elnino setiap tahun, sementara saat ini masih tahun 2017. BMKG memperkirakan, hujan akan mulai terjadi sekitar akhir Oktober atau awal November mendatang. Tapi mungkin yang lebih dulu hujan adalah Pulau Jawa, karena mereka terlebih dahulu mengalami kekeringan. a�?Hujannya belum merata, mungkin Jawa yang duluan,a�? jelas Oral.

Meski demikian, perkiraan cuaca sewaktu-waktu bisa berubah, sebab kerap terjadi anomali. Seperti di Sorong beberapa waktu lalu terjadi hujan deras dan terjadi banjir. a�?Memang musim istilahnya kemarau tetapi bukan berarti tidak ada hujan,a�? ujarnya.

Banyak faktor yang menyebabkan hujan di musim kemarau. Seperti faktor iklim Australia. Untuk wilayah Australia beberapa waktu lalu musim dingin, Desember besok musim kemarau. Terbalik dengan kondisi di Eropa dan Amerika, Desember mendatang musim dingin. Sehingga menyebabkan tekanan rendah, itu berpengaruh terhadap Indonesia yang ada di wilayah tropis. Beruntung Indonesia tidak akan terjadi tropis siclon karena berada di bawah 5 derajat katulistiwa.

a�?Tapi imbasnya kita dapat gelombang tinggi,a�? tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum menjelaskan, hingga saat ini pihaknya tetap melakukan droping air, dan beberapa lokasi sudah akan dubuatkan sumur bor dalam. Seperti Desa Sekotong Tengah, Desa Ganti, kemudian di Kelurahan Kendai II, Sumbawa.

a�?Droping air sekarang dari BPBD, Polri dan Dinas Sosial di daerah,a�? katanya.

Dengan kondisi saat ini, diperkirakan awal November hujan sudah kembali normal. Tapi ada kemungkinan beberapa lokasi masih tetap dilanda kekeringan seperti Lombok Timur Selatan, baik Lombok Timur dan Lombok Tengah. a�?Wilayah-wilayah itu tetap kita perhatikan secara khusus,a�? tandasnya. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka