Ketik disini

Headline Praya

Pelaku Wisata Protes Tarif Pantai Pink

Bagikan

SELONG-Tak hanya dikeluhkan pengunjung yang datang dari jalur darat, pengunjung yang datang dari laut pun ikut mengeluhkan tarif masuk Pantai Pink yang dianggap ‘kemahalan’. Mengingat, tarif ini juga diberlakukan bagi para pengunjung yang datang ke Pantai Pink lewat jalur laut. Sehingga, sejumlah pelaku usaha wisata di sekitar kawasan Jerowaru berencana mendatangi Kantor KPH Rinjani Timur untuk mempertanyakan pemberlakuan tarif ini.

“Karena ini kan mau diberlakukan bagi pengusaha wisata yang membawa tamu lewat jalur laut juga. Jelas nanti kami yang biasa mengantar tamu ke sana menggunakan perahu merasakan dampaknya,” ujar Ketua Forum pelaku wisata jasa perahu di Tanjung Luar, Taufik Hidayat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”85″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pria yang juga menjadi Ketua KNPI Lotim ini mengatakan tarif yang diberlakukan terlalu mahal. Karena, tarif tersebut berlaku untuk masing-masing individu. Sehingga akan berdampak pada minat wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Pink.

A�”Kebanyakan selama ini wisatawan ke sana (Pantai Pink, Red) datang melalui jalur laut. Satu perahu itu isinya bisa lima sampai tujuh orang. Kalau yang datang itu wisatawan asing, bisa sampai Rp 350 ribu dong tarifnya,” sesalnya.

“Itu namanya memeras. Siapa yang mau kembali datang kalau tarifnya seperti itu,” ucapnya.

Menurutnya, pengenaan tarif harusnya tidak dihitung per individu. Melainkan per kendaraan yang masuk. Baik itu kendaraan roda empat, kendaraan motor maupun perahu. Tidak seperti saat ini. “Kami juga sebagai masyarakat NTB tentu mau wisatawan itu berkontribusi bagi daerah, tapi tidak seperti ini caranya. Dimana-mana pantai itu gratis masuknya. Di Senggigi itu saja pengunjung hanya bayar parkir,” bebernya.

Sehinngga, para pelaku usaha wisata jasa transportasi laut rencananya hari ini akan mendatangi Kantor KPH Rinjani terkait persoalan ini. Mereka ingin meminta kejelasan terkait peraturan pengenaan tarif yang telah diberlakukan beberapa hari terakhir.

Kepala BKPHL Rinjani Timur Lalu saladin mengakui bahwa penolakan tarif ini memang telah datang dari sejumlah pihak. Mulai dari pengunjung hingga pelaku jasa wisata. Salah satunya yakni pihak pengelola Hotel Jeeva Bloam. “Karena pihak hotel Jeeva Bloam selama ini banyak mengantar tamu ke Pantai Pink. Jadi mereka mengakuA� keberatan dengan tarif yang dinilai terlalu besar,” akunya.

Sehingga, pihak KPH Rinjani pun siap membuka diri. Mereka mengaku mengundang pihak Jeeva Bloam bersama para pelaku usaha wisata lainnya untuk komunikasi terkait pemberlakukan tarif ini. “Apa hasilnya nanti itu akan kami sampaikan pada pimpinan. tetapi harus diingat, bukan KPH Rinjani Timur yang menentukan tarif ini. Kami hanya menjadi pelaksana Perda Nomor 6 Tahun 2016,” terangnya.

Namun pemberlakuan tarif ini semangat awalnya dijelaskan Saladin yakni agar pengelolaan Pantai Pink bisa lebih tertata jelas. Dimana pemasukan dari pemberlakuan tarif ini akan dikelola pemerintah untuk memperbaiki sarana prasaran dan fasilitas yang ada di Pantai Pink seperti toilet dan fasilitas umum lainnya. “Makanya kadang saya sering membuat istilah mana duluan ayam dan telur. Mari kita memulai dulu, pengolaan yang tertata rapi dan lebih baik oleh pemerintah,” ujarnya. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka