Ketik disini

Headline Metropolis

Nelayan Gak Mau Gubernur a�?Tukang Sunata�?

Bagikan

Nelayan selalu jadi kaum pinggiran. Mereka jauh dari sejahtera. Bahkan saat para pemimpin pergi dan datang, nasib mereka sama. Mereka ingin gubernur seperti apa ya?

***

BAU amis ikan pindang menyambut kedatangan Lombok Post di gang kampung nelayan Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Aroma kukusan ikan yang tengah dimasak menyeruak terbawa angin pantai menusuk-nusuk hidung. Jadilah sekampung beraroma ikan.

Di pinggir pantai, para perempuan terlihat sibuk. Mereka tengah merapikan ikan-ikan yang sudah dimasak. Pindang namanya. Dimasukkan ke keranjang untuk kemudian dijual ke pasar.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Fauziah, salah seorang di antaranya. Ia adalah istri Tajudin, salah satu nelayan di kampung itu.

Siang itu, ibu dua anak itu amat sibuk memasak pindang di atas tungku besi dengan bahan bakar gas 15 kg. Sementara sang suami duduk santai di balai anyaman bambu. Karena baru pulang melaut maka ia mengaku butuh istirahat sejenak. Tapi tiba-tiba kening kedua suami istri itu mengkerut saat ditanya soal gubernur masa depan NTB.

a�?Aro…sama saja, tidak ada perubahan, siapa-siapa yang jadi gubernur kami tetap jadi tukang pindang,a�? kata Fauziah.

Mereka berdua merasa tidak ada artinya mengharap terlalu banyak dari para calon gubernur maupun wakil gubernur. Karena banyak pemimpin yang lupa pada rakyatnya setelah berhasil menang dalam pemilihan. Walau demikian, Fauziah dan suaminya diam-diam mendambakan sosok gubernur yang bisa membawa NTB lebih maju.

a�?Saya mau gubernur yang bisa membawa kemajuan, memikirkan bagaimana agar kita bisa mendapatkan ikan banyak,a�? ujarnya.

Para nelayan seperti mereka sangat mendambakan kehidupan yang sejahtera. Tapi apa daya, nelayan tetap nelayan. Kesan sebagai kaum pinggiran tetap melekat pada mereka. Tajudin mengaku, mereka sudah bekerja keras, keluar melaut dari pukul 02.00 dini hari hingga siang. Tapi hasil tangkapan tidak seberapa. Hanya 30 ekor tongkol. Jika diuangkan hanya Rp 100 ribu. Kalau lagi beruntung, biasanya bisa mendapatkan hingga 200 ekor seharga Rp 500 ribu.

Karenanya, para nelayan membutuhkan pemimpin yang bisa mengubah nasib mereka menjadi lebih baik. Bila ada bantuan peralatan maka mereka sangat bersyukur. Sebab tidak ada cara lain membahagiakan nelayan selain membantu agar ikan tangkapannya banyak untuk dijual.

a�?Siapapun nanti, saya inginnya nelayan tetap diperhatikan,a�? ujarnya.

Tapi, yang paling didamba oleh para nelayan ini adalah calon gubernur yang bukan a�?tukang sunata�?. Lho, maksudnya? Rupanya para nelayan ini pengalaman. Kerap kali bantuan untuk mereka biasanya tak sampai dengan utuh dan tepat sasaran.

a�?Yang penting tidak korupsi, agarA� semuanya menjadi aman tentram, semua dapat bantuan,a�? kata Kusmayadi, salah seorang nelayan lainnya.

Bila sosok gubernur yang naik adalah orang yang bersih, maka jajaran di bawahnya juga ikut bersih. Tapi kenyataanya, meski gubernur bebas korupsi, kerap kali jajaran di bawahya tidak ikut jujur. Menurutnya, seorang gubernur harus bisa tegas memberantas korupsi.

a�?Yang penting jujur, dan NTB bisa maju,a�? kata Inaq Maemanah, istri nelayan lainnya.

Sebagai penjual pindang, Maemanah berharap diberikan bantuan modal usaha. Agar mereka tidak terjerat lagi dengan bank rontok. Selama ini, Maemanah kesulitan mendapatkan bantuan modal usaha. Ia pernah mengajukan pinjaman di bank dalam program Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi ditolak karena tidak memenuhi syarat.

Akhirnya mereka terpaksa minjam ke bank rontok yang datang menagih tiap hari. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka