Ketik disini

Headline Metropolis

Kisah Para Pepadu Sasak : Dari Selaq Marong Hingga Arya Kamandanu

Bagikan

Bismillahirrahmannirrahim

Nambur Kulit nambur Daraq

Nambur Isi nambur Tulang

Sidi mandi mentere sentotot!

****

BAIT di atas adalah penggalan lafaz mantra sentotot. Lazim dimiliki para Pepadu (jagoan) Peresean. Sentotot adalah ilmu untuk mempresisikan pukulan. Supaya mengenai target yang diinginkan. Di dalam tanding peresean, kepala adalah target utama dengan poin tertinggi.

Sudah lazim, jika pepadu pecok (kepala mengeluarkan darah), maka pepadu yang berhasil melakukan itu, keluar jadi pemenang.

a�?Dulu, sebelum ada Widen, penentuan kalah menang hanya diukur dari kepala yang pecok,a�? kata Pemerhati dan Pelaku Budaya, Praya Timur, Lombok Tengah Lalu Muksin.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Widen adalah pertandingan di atas panggung yang digelar secara profesional. Diikat oleh sejumlah awiq-awiq atau aturan pertandingan. Jauh sebelum ada sistem Widen para pepadu peresean cenderung bertarung dengan gaya brutal.

Cara-cara licik banyak dilalakukan. Seperti membasahi ujung penyalin (rotan) dengan air aki dan getah jambu mete. Jika kena itu, musuh akan gosong hingga bernanah badannya.

Seiring perkembangan peresean, olah raga yang punya nama keren Stick Fighting ini semakin banyak dikenal warga Lombok. Bahkan oleh orang luar daerah hingga mancangara. Aturan-aturan yang ada pun kian banyak dipahami. Baik oleh pepadu atau para penyuka tontonan peresean.

Dan ada banyak nama besar pepadu peresean Gumi Sasak. Nama mereka harum nan melegenda. Dibantu Muksin, Lombok Post pun mendatangi mereka. Kepada kami, mereka berbagi, apa rahasia di balik nama besar mereka.

Ada namanya Legong. Saat ini nama ini memang tidak setenar Anto alias Selaq Marong. Atau Masud alias Ombak Tenang. Atau H Rizal alias Arya Kamandanu. Tetapi sekedar untuk diketahui di masanya, nama Legong Lombok Tengah sangat disegani dan ditakuti kawan atau lawan.

Sosok yang dijuluki Legong Lombok Tengah adalah H Kinggah. Pria yang berprofesi sebagai guru di Desa Semoyang, Praya Timur. Ia adalah kakak kandung Selaq Marong. Sekaligus guru dan pembimbing spiritualnya. Dia juga pemimpin padepokan Kebon Surga.

Di berbagai widen peresean, wajah Kinggah sebenarnya tidak asing. Ia kerap jadi Juri dan pekembar. Pria berperawakan jangkung dan kerap menari seperti legong ini, selalu hadir ikut menilai jalannya pertandingan. Atau sekedar mendampingi adiknya Anto alias Selaq Marong dan tim bertanding.

Pria Tak Mempan Penyalin

Dia sudah sudah menyukai Peresean semenjak belia. Kami menemui dia menjelang pukul 10 malam. Inggah, begitu H kinggah karib disapa, malang melintang Peresean dari tahun 1976 sampai 2001. Saat kami menemuinya, dia masih berbalut busana bercirikan Sasak. Ada sapuq, tamper dan bebet.

Sedianya ia ada undangan mengisi acara Syair Hikayat. Beruntungnya ada pengganti. Sehingga Lombok Post bisa lebih leluasa menggali informasi hingga kisah-kisah di balik layar tentang para Pepadu yang tidak pernah diungkap.

a�?Biasanya saya jalan berkilo-kilo ke tempat-tempat peresean (amatir). Seperti ke Sagi Mateng, Bageq Pempang,a�? kenangnya.

Kalau sudah begitu. Ia bahkan lebih memilih tidak makan dari pada dilarang bermain peresean. Kegemarannya pada seni peresean rupanya ditangap dengan baik oleh mendiang Ayahnya Amaq Raisah.

Maka oleh ayahnya, Inggah pun a�?diisia�?, hal yang sama sekali tak dipahaminya kala masih belia. Ia hanya tahu pada suatu ketika diajak ayahnya ke tengah sawah. Di sebuah balai-balai bambu Ayahnya kemudian menerangkan keinginanya untuk menurunkan sebuah ilmu kanuragan.

Oleh ayahnya Inggah kemudian diminta untuk mendapatkan ilmu ini dengan cara mandi di tiga waktu. Saat matahari baru terbit, siang hari dan sore saat matahari mau tenggelam. Syaratnya mandinya pun tidak terlihat oleh siapapun. Kalau terlihat atau ditemukan orang lain sedang mandi harus cari tempat lain lagi.

Ritual itu harus berturut-turut. Dari pagi, siang dan sore. Lalu pada Rabu, Kamis, dan Jumat. Kenapa harus angka ganjil tiga? Menurut Inggah ini ada kaitannya dengan filosofi angka tiga yang selalu merujuk pada posisi yang lebih tinggi.

a�?Coba lihat jari kita. Mulai hitung dari kelingking atau ibu jari. Hitungan ketiga pasti jatuhnya pada jari yang paling tinggi (jari tengah),a�? jelasnya. Karena itu menurutya sesatu yang ditiga-kalikan, diyakini merujuk pada hal yang lebih tinggi atau mulia.

Begitu juga dengan anjuran untuk melakoni ritual mandi di tiga hari dan tiga waktu. Sembari itu, saat membenamkan diri dalam air, Inggah harus membaca sebait mantra.

Kamu Kejarian Ris Puset Nabi Adam,

… …

Insun Nire Pepet Gumi, berkat Lailaha Ilallah.

Kenapa mantra ini penting? Inggah menjelaskan selain mengandung unsur daya magis dari susunan kalimat, mantra memiliki kekuatan untuk mengembalikan fitrah dari sebuah benda ke tujuan sebenarnya benda itu diciptakan oleh Sang Maha Pencipta.

Ia lalu menganalogikan seperti kue atau jajan. a�?Kue kalau kita tidak fungsinya (untuk dimakan), maka bisa menyakitkan. Misalnya untuk nimpuk orang. Pasti sakit kalau penggunaanya salah atau kita tidak tahu kegunaanya,a�? urainya.

Berbeda kalau orang tahu kegunaan kue untuk menambah energi bagi badan. Maka orang tidak ada yang takut pada makanan itu. Nah begitu halnya juga dengan Mantra. Ia punya daya magis untuk mengembalikan fitrah dari sebuah benda.

a�?Kata orang tua dulu, besi itu bersal dari upil Nabi Adam. Dengan kalimat mantra yang tepat kondisi besi yang sekarang padat dan keras itu, bisa selunak upil. Kalau sudah begitu, apa iya akan ada orang yang luka oleh upil?a�? ujarnya dengan mimik wajah serius.

Begitu halnya dengan Penyalin. Di bait pertama mantra dijelaskan bahwa dulunya penyalin adalah a�?Ris Puset Nabi Adama�� atau pangkal pusar Nabi Adam.

a�?Di bait selanjutnya mengandung kalimat manfaat atau kegunaan sesungguhnya dari penyalin,a�? jelasnya.

Sampai pada bait kalimat Insun Nire Pepet Gumi, berkat Lailaha Ilallah. Menjadi kalimat penutup yang harus dibaca Inggah selama menyelam di dalam air. Di tiga waktu dan dalam tiga hari.

Setelah menjalani ritual, Inggah pun diuji. Ayahnya memintanya menutup mata. Ia tidak tahu apa yang akan dilakuakan ayahnya. Ia hanya sempat mendengar ada suara penyalin yang membelah angin hingga mengeluarkan suara melecut kencang. Setelah itu Inggah membuka mata. a�?Karena merasa belum diapa-apakan saya lalu meminta ayah untuk memukul saya dengan rotan,a�? ujarnya.

Tetapi ayahnya hanya tersenyum. Permintaannya tidak dituruti, malah disuruh segera pergi. Tetapi sejak peristiwa itu Inggah mengaku tidak pernah sekalipun badannya luka oleh sabetan rotan.

Ia bahkan menantang Lombok Post untuk meneliti langsung sekujur badannya. Apakah ada siswa sabetan rotan di badannya atau tidak. Padahal sudah ribuan pertandingan ia ikuti. Dari yang amatir hingga profesional.

a�?Saya berlindung pada Allah dari sikap takabur, tapi coba coba silakan lihat. Cari kalau ada bekas rotan,a�? tantangnya.

Dan memang benar. Sejauh pengamatan Lombok Post tidak ada luka di badannya yang menandakan itu bekas sabetan penyalin. Badan Inggah seperti bukan badan yang telah melewati ribuan arena peresean.

Mantra Sentulak-Sempalik

Sebenarnya, setiap pepadu kata Inggah rata-rata memiliki tiga jenis mantra. Pertama Mantra Penyalin, Sengadang-Adang dan Sentotot. Merekalah yang disebut orang-orang yang pantas mengikuti peresean.

Hanya saja, ada satu Ilmu yang enggan ia pelajari yakni Sentotot. Sebab, niat mantra ini memang sudah buruk. Ketika melafazkan mantra itu, maka dalam pikiran pepadu, pasti hanya terisi bagiamana cara membuat lawan babak belur.

Karena itu, walau sudah bertemu dengan banyak guru ilmu kanuragan beberapa di ataranya menawari ia ilmu sentotot, Inggah selalu menolak. Alasannya karena ilmu ini bertentangan dengan tiga filosofi penting dalam olah raga Peresean.

a�?Tidak sesuai dengan Wirasa, Wiraga Dan Wirama,a�? jelasnya.

Wirasa adalah rasa welas asih dan sikap kemanusiaan yang harus ada di dalam setiap pepadu. Wirasa mengharuskan setiap pepadu memiliki empati jika musuhnya lebih lemah atau berada di bawah levelnya.

Itulah asal muasal dia dijuluki Legong Lombok Tengah. Saat menyadari lawan berada di bawah atau kesisen, Inggah tidak justru memanfaatkan untuk memukulnya membabi buta. a�?Saya lebih banyak menari,a�? terangnya.

Menari layaknya seorang legong di atas panggung. Tentu saja dengan tetap menyarangkan satu dua pukulan. Karena bagaimanapun peresean adalah seni menyarangkan pukulan ke arah lawan dengan cantik. Tidak membabi buta, tidak aji mumpung. Hanya karena berada di atas lawan, lalu semau-maunya membantai dan mempermalukan lawan di atas panggung.

Lalu Wiraga. Di mana peresean harus dimaknai sebagai seni olah raga yang menyehatkan fisik. Kebugaran fisik dan semangat bertempur yang penuh semangat. Tetapi wiraga juga mengajarkan tentang keharusan untuk tidak menjaga fisik lawan. Agar tidak babak belur. Dan Wirama yakni mengikuti irama dari gamelan.

Bagaimanapun semua pepadu harus menyadari, seni peresean hakikatnya seni tari. Bukan hanya pertempuran adu pukul dengan rotan. Hal inilah yang banyak dilupa para pepadu. Pikiran mereka cendrung diisi penuh oleh cara merobohkan dan menjatuhkan lawan.

Lantas bagaimana Inggah mengimbangi lawan-lawannya yang menggunakan minimal tiga ilmu itu atau memakai bebadong (jimat)?

A�Bismillahirrahmanirrahim

Allahume Keluhusunsang

a��

Balik Salaq

Dua kalimat itu, adalah bait mantra sentulak-sempalik milik Inggah. Mantra atau llmu ini meniscayakan apa yang diniatkan lawan. Akibatnya kembali pada lawan. Jika pernah mendengar tentang teknik Tai Chi maka Mantra Sentulak-Sempalik ini memiliki padanan maksud yang sama.

Di dalam Tai Chi, tenaga dan ilmu lawan digunakan untuk menyerang kembali lawan. Sedangkan Mantra Sentulak Sempalik, lebih pada kemampuan untuk mengembalikan daya magis dari mantra lawan.

a�?Kalau dia berniat membuat kita pecok dengan Sentotot, maka pada akhirnya atas kehendak Sang Maha Kuasa dialah yang pecok,a�? jelasnya.

Suatu ketika dalam Widen Peresean ada nama yang cukup kesehor dan membuat sejumlah Pepadu segan melawan orang itu. Nama orang itu Amaq Satre dari Apit Aiq, Pringgabaya Lombok Timur.

Sebelum bertanding melawannya, beberapa mitos yang beredar di sekitar nama besar Amaq Satre yakni mampu membuat Ende (Perisai) menjadi berat. Bahkan konon, Endenya secara magis bisa membesar untuk melindungi badan dari gempuran penyalin lawan.

a�?Tetapi ilmunya yang paling nyata dan pernah saya buktikan yakni ia mampu mengubah keringat orang terlihat seperti darah,a�? terangnya.

Saat bertanding melawan salah satu anggota timnya yakni Tuan Sinar, kesaktian Amaq Satre terbukti. Tiba-tiba saja penonton ribut oleh wajah Tuan Sinar yang tiba-tiba berlumuran darah.

Tetapi Inggah mengatakan efek ilmu itu memang memanipulasi pandangan penonton dan para juri. Kecuali musuhnya tidak bisa dimanipulasi pandangannya. Mereka baru sadar itu hanya ilusi dari mantra Amaq Satre, setelah pertandingan dihentikan dan Amaq Satre ditetapkan sebagai pemenang.

Tiga hari berselang, Inggah dapat kesempatan untuk melawan Amaq Satre.

Beberapa teman sempat memperingatkan soal kesaktiannya itu lalu menawarkan bantuan (secara magis) tapi saya bilang tidak perlu,a�? jelasnya.

Pertarungan antara dirinya dengan Amaq Satre, akhirnya terjadi di atas arena sekitar tahun 1983. Pada sebuah ronde, tiba-tiba wajah Amaq Satre berubah berlumuran darah dan membuat geger banyak orang. Inggah mengaku sempat terkejut bukan main, dan siap-siap merangkul sebagai wujud wirasanya pada lawannya.

Tetapi dia bilang katanya tidak perlu dan mengatakan dirinya tidak apa-apa. Belakangan saya ingat kalau ia punya ilmu itu dan mungkin karena ilmu sentulak-sempalik, ilmu itu justru mengenai dirinya sendiri.

Selaq Marong

Selaq Marong adalah pepadu yang saat ini tengah naik daun. Untuk menghadirkan Selaq Marong, panitia peresean harus menyediakan budget Rp 4 juta. Dengan angka itu, maka penonton bisa melihatnya bertanding di tengah-tengah widen.

Selaq Marong adalah Anto. Adik Kandung H Kinggah. Syahdan, suatu ketika ada event Peresean se Pulau Lombok. Inggah pun mendaftarkan diri. Adiknya Anto yang masih muda ikut mendaftar.

Hebatnya walau datang sebagai pemula, tiga kali Anto dapat kesempatan bertanding, tiga kali pula ia berhasil membuat lawannya pecok. Itupun rata-rata hanya dalam satu ronde. Saat itu pertandingan digelar di Bonjeruk, Pringgarata.

Kehebatan Anto membuat banyak orang kagum dan takjub. Banyak yang akhirnya penasaran dan ingin tahu dari mana asal, remaja ceking tapi berotot itu.

Rupanya, sebelum Anto disematkan dengan nama Selaq Marong, jauh sebelum masanya ada pepadu asal Marong yang telah dijuluki Selaq Marong. Dialah Amaq Katon. Konon Amaq Katon juga pepadu yang sangat melegenda di masanya.

Ceritanya, setiap kali Amaq Katon berhasil membuat pecok lawannya, ia selalu mendekat lalu mengambil sedikit darah dari lawannya dengan telunjuk. Darah itu selanjutnya akan dikecap ke mulutnya. Karena prilakunya yang menjijikan yang kalau di Lombok kerap diidentikan dengan perbuatan Selaq, maka sejak itulah nama Selaq Marong disematkan untuk Amaq Katon.

Lama tidak terdengar namanya, karena usia yang sudah sangat tua dan memutuskan untuk tidak peresean lagi sejak menjadi Haji, akhirnya nama Selaq Marong ini kembali muncul dan diberikan pada Anto.

Awalnya cara bermain Anto ketika masih muda pun cukup beringas. Dia brutal. Pikirannya adalah hanya merobohkan lawan tanding. Sampai kemudian pada tahun 2000. Sang Selaq Marong pun pecok. Inggah pun menasehati adiknya. Dan akhirnya sekarang lebih santun, lebih bijak dan lebih banyak wiramanya.

Nama besar itu pun berhasil didapat Anto sang Selaq Marong. Penerus kakaknya Legong Lombok Tengah. Nama Selaq Marong selalu berhasil menjadi magnet untuk menarik minat para penyuka peresean datang dan menonton di Widen.

Bagi Inggah, menerapkan prinsip Wirasa, Wiraga Dan Wirama, adalah puncak pencapaian pepadu. Di mana ketinggian ilmu kanuragan dibungkus keindahan prilaku yang dicerminkan dalam tari, dan penghormatan yang sepatutnya pada lawan dan kawan.

Tanpa harus merasa minder atau rendah diri.

Macan Loreng

Tak cuma dari Lombok Tengah. Nama besar pepadu juga ada dari Lombok Barat. Di sana ada Macan Loreng. Pria yang memiliki nama asli Muhrim ini pernah mengalahkan sejumlah nama pepadu ternama di NTB. Semisal H Rizal alias Arya Kamandanu.

Muhrim adalah prajurit TNI. Peresean adalah kebiasannya semenjak remaja. Alasannya sederhana. Melestarikan budaya asli masyarakat Sasak. Menurutnya, ini adalah warisan budaya yang sangat unik. Tidak bisa ditemukan di daerah lain. Menunjukkan jati diri masyarakat Sasak sebagai seorang pemberani dan pejuang. Sehingga, kebudayaan ini sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat untuk terus mempertahankannya.

Semasa SMA, pria kelahiran Kebon Ayu, Gerung Lombok Barat ini kerap berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk adu teknik. Mulai dari Lombok Tengah, Lombok Timur hingga sejumlah wilayah Lombok Barat disambanginya untuk beradu ketangkasan sekaligus bersilaturahmi dengan sejumlah pepadu yang ada di daerah lain.

Tapi, apa yang dilakukannya bukan hendak mencari musuh. a�?Selesai bertarung, kita akan bersaudara dengan lawan kita. Lawan bukanlah musuh, tetapi sebaliknya,” terang pria dua orang anak tersebut.

Sehingga, saat tanding, Macan Loreng selalu menghindari niat untuk menyakiti atau melumpuhkan lawannya. Niat para pepadu dikatakannya haruslah bertujuan untuk menyajikan hiburan dan melestarikan budaya. “Karena kalau niatnya ingin mencederai lawan dengan sengaja, maka suatu saat kita juga akan cedera seperti niat kita,” bebernya.

Terkait banyak pepadu yang dikabarkan tak bisa jauh dari mantra atau ilmu gaib untuk bertarung dalam ajang prisean, Muhrim mempercayainya. Ia pun bahkan mengaku kerap menggunakan apa yang disebut bebadong tersebut. Karena pada hakikatnya, itu dikatakannya sebagai ilmu orang Lombok yang bersumber pada agama. Mengingat, isi dari segala bebadong adalah doa pada Allah SWT. “Tujuan bebadong itu hanya untuk melindungi diri agar selalu sehat dan selamat,” jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan di Poltekes Kemenkes Sorong ini.

Namun demikian, bagi seorang pepadu, kondisi fisik juga sangat menentukan sebelum bertanding. Terlebih mental. Karena, dua hal ini sangat menentukan penampilan sesorang ketika sudah memegang ende dan penyalin.

Modal sebagai anggota TNI dirasakan Macan Loreng menjadi keuntungan baginya. Ketangguhan mental dan modal fisik yang baik amat diarasakan manfaatnya. Sehingga, siapapun lawan yang dihadapi, tak pernah ada rasa takut apalagi ciut untuk bertarung. Selebihnya adalah urusan teknik bertarung.

Dengan nama besarnya, beberapa kali Macan Loreng diundang di sejumlah event peresean. Seperti perang bintang di Lingsar, Narmada dan sejumlah daerah lainnya. “Hanya saja semua undangan tidak bisa saya penuhi. Karena kan saya juga harus bertugas di TNI,” tutur pria yang kini bertugas di Detasemen RSAD Wira Bhakti tersebut.

Melestarikan Budaya

Sebagai bagian dari melestarikan budaya, maka peresean kini diajarkan semenjak dini. Tradisi ini misalnya bisa disaksikan di Desa Marong, Praya Timur, Lombok Tengah. Di sana, rata-rata para pepadu sudah berlatih sejak kecil. Mereka pun dibekali mantra-mantra.

Proses belajar, harus diawali dengan menggunakan alat pukul, dari kayu atau bambu. Umumnya menggunakan rotan atau disebut penjalin. Diujung penjalin biasanya dilapisi balutan aspal, atau pecehan beling yang ditumbuk halus.

Sementara, ende, biasanya terbuat dari kulit sapi atau kerbau, ada yang berbentuk segi empat hingga melingkar. Hanya saja, untuk kelas anak-anak perisainya terbuat dari tripleks. Kalau sudah mahir, baru naik kelas.

Tokoh Desa Marong Lalu Purna Gangga pada Lombok Post mengatakan, peresean bukan hendak mencari siapa paling kuat. Melainkan menjaga tradisi leluhur.

Itu mengapa, kendati sampai ada yang berdarah, di akhir peresean, biasanya saling berpelukan dan bersalaman sebagai tanda tidak menyimpan rasa dendam sedikit pun.

Berbalut tradisi, peresean juga ada di Lombok Utara. Biasanya berbarengan dengan perayaan Maulid Adat. Antara lain di Desa Sesait, Kecamatan Kayangan dan Desa Bayan, Kecamatan Bayan. Bahkan di Desa Sesait, peresean cukup unik. Krena dibuka oleh petarungan dua wanita paruh baya.

Salah seorang tokoh pemerhati budaya di Kecamatan Kayangan Eko Sekiadim menjelaskan peresean yang digelar di Desa Sesait saat Maulid Adat diharuskan dibuka wanita yang sudah tidak memiliki suami atau wanita yang sudah memasuki masa monopause. a�?Maksudnya wanita yang seperti itu sudah suci karena tidak akan bercampur lagi dengan pasangannya,a�? ujarnya.

Pertandingan dua wanita itu pun tetap dilakukan tiga ronde. Setelah dibuka dengan penampilan dua wanita paruh baya ini, pepadu-pepadu laki-laki baru tampil.

a�?Wanita yang dipilih ini setiap tahun berbeda-beda. Yang menentukan pemangku di sini,a�? katanya. Peresean pun digelar malam hari.

Berbeda dengan di Bayan. Di sana, peresean yang digelar di Masjid Kuno Bayan dibuka oleh mereka yang memiliki haul atau nazar. Diyakini, mereka yang punya nazar, ketika membuka peresean, maka apa yang dicita-citakan biasanya mewujud. (zad/ton/dss/puj/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka