Ketik disini

Headline Metropolis

a�?Ratu Lebaha�? Pindah Sarang

Bagikan

MATARAM-Bak ratu lebah yang terbang dan pindah sarang. Kepergian sang ratu akan diiringi oleh kawanan lebah lain. Hal inilah yang diyakini banyak pihak bakal terjadi. Jika Kantor Wali Kota Mataram benar-benar pindah ke Lingkar Selatan.

Kawasan yang saat ini terlihat hijau ranau oleh banyaknya hamparan sawah itu, tidak butuh waktu lama berubah jadi kawasan-kawasan pemukiman padat penduduk dengan tanah-tanah yang lebih banyak dipadatkan.

a�?Pasti akan mempengaruhi ketika kantor ini pindah. (Salah satunya) geliat ekonomi akan pindah di sana juga. Saya fikir itu bagus berarti ada pemerataan,a�? kata Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Walau kawasan ekonomi, tetap mengacu pada zona-zona yang telah diatur dalam Perda RTRW Kota Mataram. Tetapi, sebagai dampak kawasan lingkar selatan dibangun pusat pemerintahan, mau tidak mau akan mendorong geliat ekonomi di luar pertanian.

a�?Kalau kawasan ekonomi bisnis tetap seperti biasa tempatnya, misalnya di Cakra,a�? ujarnya.

Tidak hanya itu, filosofi ratu lebah pindah sarang ini juga akan berdampak pada infrastruktur yang ada di kawasan lingkar selatan. Perbaikan-perbaikan drainase dan sejumlah fasilitas penunjang kelancaran proses pelayanan adiministrasi pemerintahan akan dibangun di sana.

Termasuk bagaimana menjamin agar kawasan lingkar selatan yang selama ini kerap terendam banjir bisa bebas dari persoalan ini.

a�?Ya walau ini masih sebatas rintisan, tetapi tentu kita harus persiapkan segala sesuatunya di sana,a�? ujarnya.

Tahapan rintisan yang telah diupayakan diantaranya dengan memindahkan sejumah kantor OPD Lingkup Pemkot Mataram. Begitu juga dengan telah dibangunnya gedung DPRD Kota di sana.

a�?Kita memang tengah berupaya mengkonkritkan ini,a�? ungkap Mohan.

Saat ini Pemkot masih berjibaku untuk ketersediaan lahan. Jika ingin membangun kantor wali kota semegah dalam gambar rencana yang telah dibuat, maka lahan yang harus disediakan sedikitnya 4 hektare (Ha).

a�?Kita memang belum ada pembebasan di sana,a�? ujar pria berkaca mata ini.

Ia menaksir proses pembebasan lahan ini akan butuh waktu lama. Lahan seluas 4 Ha butuh anggaran yang tidak sedikit. Sehingga harus dilakukan secara bertahap. Apalagi lahan kosong di Jempong itu telah membuat Pemkot Mataram kepincut. Letaknya sangat strategis dan ideal.

a�?Hingga tahun 2018 juga sepertinya masih sulit (anggaran pembebasan lahan tuntas) jadi harus dilakuan secara bertahap,a�? tandasnya.

Terpisah Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram HM Syakirin Hukmi mengaku telah mengumpulkan para pemilik sertifikat lahan itu. Ia menyebut lebih dari sepuluh warga memiliki hak atas kawasan itu.

a�?Kita sudah sosialisasi dan mereka sudah menerima rencana ini,a�? kata Syakirin.

Hanya saja, sampai saat ini masih terkendala karena ada satu pemilik yang tidak pernah bisa hadir, setiap kali undangan sosialisasi. Pemilik itu memiliki sertifikat lahan di sebelah selatan kosong. Dekat dengan drainase di lokasi itu.

a�?Jadi kami ingin tahu apakah suratnya memang tidak sampai ke pemiliknya atau pemilik itu yang menolak bertemu,a�? ujarnya.

Proses sosialisasi ini dinilai penting. Guna memperoleh keseragaman pandangan dari para pemilik lahan atas rencana Pemkot Mataram membangun kantor di sana.

Sedianya setelah seluruh pemilik sertifikat diberikan sosialisasi dan dimintai kesepakatan agar lahan itu dijual pada Pemkot Mataram, tim appraisal baru dibentuk. Untuk menaksir harga pasaran tanah di kawasan itu.

a�?Ya 4 Ha, tentu tidak bisa kita bebaskan secara langsung. Mungkin bertahap. Di tahun ini kita memang ada anggaran untuk pembebasan lahan sebagian,a�? terangnya.

Namun ditanya kenapa tiba-tiba ada tumpukan material di kawasan itu, Syakirin mengaku tidak tahu. a�?Saya tidak tahu, saya belum lihat kondisi terkini diA� sana,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka